Gagal.

Katanya sih semua orang pernah gagal. Katanya Edison aja gagal seribu kali dulu, sebelum lampu temuan dia nyala dan menerangi rumah-rumah kita semua. Di awal Ibu bikin katering, pernah Ibu dilemparin makanan masakannya sendiri dan diteriakin “Katering Gagal!” sama pengantin perempuan yang masih pake baju kebaya, cuma gara-gara ibu lupa bahwa si pengantin perempuan itu alergi MSG. Semua orang pernah gagal. Tapi kenapa ya? Pas saya sendiri yang ngalamin kegagalan itu, rasanya jauh berbeda dari apa yang semua orang omongin selama ini?

Hampir delapan bulan saya menghilang dari dunia internet. Empat bulan pertama sih masih jelas ya, belajar. Belajar, belajar, dan belajar. Buat Ujian Nasional, Ujian Sekolah, Ujian Praktek, dan sebagainya. Nah, empat bulan sisanya kemana aja Bram? Oh, itu sih saya lagi meratapi kegagalan sendiri.

Di sekolah saya nggak pernah tuh jadi yang terbodoh. Nggak pernah. Seenggak-enggaknya sih saya masih bisa ada di 50 besar. Guru saya selalu menjamin kok, kalau yang masuk 50 besar pasti bisa masuk SMA-SMA di papan atas. SMA yang kabarnya sih menjamin masa depan yang lebih baik, yang membuat masuk universitas makin gampang, yang ekskulnya ada sepuluh ribu macam, yang ada kolam renangnya. Semuanya deh! Sementara kalau udah ngomongin SMA papan bawah, hmmm, guru saya cuma bilang, “Siap-siap aja cuma bisa jadi waiter.” Oke, bu.

Mungkin kalau saya nggak belajar, kegagalan saya nggak akan sepahit ini. Mungkin kalau saya nggak pernah masuk sekolah 2 bulan buat mabok-mabokan (kaya temen saya yang itu, yang sekarang ada di SMA 126 – peringkat 3 lho!), saya bakal maklum kalau nilai saya rendah. Tapi sayangnya minum alkohol aja saya belum pernah, dan setiap malam saya belajar sebisa saya. IQ saya memang nggak brilian, tapi saya yakin, saya nggak sebodoh itu kok.

Semua cuma salah takdir.

Hari Sabtu terakhir sebelum Ujian Nasional saya maksain tetep pergi ke bimbel. Waktu itu sih buat ngelengkapin materi ini-itu yang belum mantep. Saya ingat banget, tiba-tiba nggak tahu kenapa hari itu hujan. Padahal April nggak musimnya hujan. Singkat cerita, saya kehujanan, masuk mobil, kena AC, daya tahan tubuh lagi lemah, ujungnya sakit. Flu.

Malamnya badan saya panas. Sampai besoknya,H-1 Ujian Nasional. Ibu dan Ayah bingung mencarikan obat kesana kemari. Saya baikan, dan terus baikan. Tetapi memang takdir yang menggariskan, kayaknya. Pagi-pagi hari pertama Ujian Nasional saya tumbang lagi. Tapi hari itu saya tetep pengen maksa ke sekolah. Dan saya ngerjain Bahasa Indonesia waktu itu cuma seadanya aja. Bayangin, gimana kamu mau mikir kalau ingus kamu ngga berhenti-berhentinya keluar dan kepala kamu pening setengah mati?

Hari kedua dan ketiga, saya udah lebih baikan waktu itu. Matematika cukup lancar! Bahasa Inggris sih boleh lah. Pokoknya saya seneng banget sama dua hari pertengahan itu. Tapi saya sakit hati sama hari terakhir.

Malam Rabu, Ibu masak Rendang buat pesta syukuran pindahan tetangga dari Padang. Saya sebenernya udah dilarang sama Ibu buat nyoba rasanya, karena kata Ibu yang satu itu dibuat pedes banget sesuai pesanan. Tapi namanya udah jatuh cinta sama makanan buatan Ibu, saya malah makan Rendang itu sebagai menu makan malam. Pake nasi. Komplit. Banyak. Dan Kamis paginya saya nggak bisa berhenti bolak-balik ke kamar mandi. Ibu sama Ayah nggak ngizinin saya pergi ke sekolah, karena mereka takut saya nggak bisa konsen lagi kayak hari Senin. Akhirnya saya dikurung di rumah dan dimarahi habis-habisan. Saya cuma bisa nangis dan nyesel. Nyesel setengah mati.

Singkat kata, waktu susulan tiba satu minggu kemudian. Saya dateng ke tempat susulan yang adanya di sekolah lain, dan saya bener-bener kaget ketika hampir semua anak di tempat itu sudah siap dengan kunci jawaban dan contekan yang selengkap mungkin. Mental saya drop. Saya nggak sangka kalau ternyata selama satu minggu ini kunci sudah beredar dan bisa dipergunakan begitu saja. Saya kehilangan semua konsentrasi saya untuk menghitung, bahkan sesimpel buat nginget taksonomi di Biologi sekalipun saya lupa. Yang ada kaget dan blank. Blank.

Ketika amplop hasil saya buka dua bulan kemudian, saya hampir aja pingsan ngeliat hasil yang dicetak di kertas itu. Dua pelajaran saya lulus gemilang. Matematika saya 10, dan Bahasa Inggris saya 9,6. Tapi Bahasa Indonesia saya cuma 75, dan IPA saya 70. 34,1.

Apa yang mau saya jual dengan 34,1? Perjuangan saya masuk sekolah cluster paling bawah saja sulit setengah mati. Asal kamu tahu, SMA 369 yang merupakan peringkat pertama, mematok nilai 38,4 sebagai standar masuknya. Luar biasa, bukan? Rata-rata kita harus minimal 9,6! Saya sendiri masih nggak ngerti sama anak-anak yang bisa masuk sana. Mereka kayanya beneran udah transformasi total jadi robot deh.

Dan kalau kamu sekarang tanya saya sekolah di mana, saya nggak akan sudi buat jawab. Keadaan saya di sini jauh lebih menyedihkan daripada di SMP dulu. Mana ada anak sekolah ini yang ngerti kuliner? Yang bisa di ajak makan Sushi bareng? Bikin facebook aja namanya Aquwhgalaukrnaditinggalscmmaqmmu Cheulamalamanya gitu kok? 

Semua ini, semua kegagalan ini, cuma karena hujan dan rendang. Hal sepele yang kita semua bisa temuin sehari-hari kan? Kalau aja waktu Sabtu itu saya nggak bimbel, atau saya bawa payung, atau nggak hujan, atau saya nggak nyetel AC, mungkin Bahasa Indonesia saya bisa di atas 9! Dan kalau aja Rabu itu saya nggak makan Rendang seperti apa kata Ibu, atau kalau aja Rendang Ibu nggak usah terlalu pedes kaya biasanya, pasti IPA saya bagus. Saya yakin.

Dan kalau aja, anak-anak yang selalu ada di peringkat bawah itu nggak semena-mena pake kunci jawaban…

Katanya semester depan, alias satu bulan lagi, saya mau dipindah ke SMA 369. Biar nggak jadi aib keluarga, alesannya. Mungkin Ayah juga sadar kalau sekolah-sekolah papan bawah cuma bisa ngejanjiin profesi waiter, sampe mereka harus bayar sejumlah uang yang lumayan besar untuk beli kursi. Kalau boleh jujur sih saya malu banget cerita soal ini di sini. Tapi rasanya sekarang urat malu saya udah putus. Sama seperti urat malu orang-orang lain.

Temen-temen saya dulu bangga banget kalau bisa dapet bocoran. Atau kunci. Atau beli soal. Atau yang lebih seru lagi, beli kursi! Jadi mereka sih nggak usah mikir. Pokoknya nggak tau gimana nilai bisa berubah aja. Semua hal yang ada di dunia ini bisa dibeli, motto mereka. Oke, sekolah emang bisa dibeli. Kursi bisa dibeli. Prestise bisa dibeli.

Mungkin kalau sebenarnya mereka bodoh, mereka bisa aja terus-terusan beli nilai di sekolah-sekolah bagus itu. Lalu beli knci Ujian Nasional lagi supaya lulus. Lalu nanti di ujian Universitas mereka bisa beli kursi lagi, dan tinggal pilih fakultas yang mereka suka. Dan mereka bisa membeli nilai-nilai A lagi dari dosen mereka. Terakhir, mereka bisa lobi-lobi ke perusahaan relasi dan tinggal beli posisi buat kerja. Enak banget ya, orang-orang kaya mereka?

Tapi apakah Tuhan mereka bisa mereka beli juga, sehingga semua perbuatan mereka itu nggak dianggep dosa?

Yang kecewa, dan akan terus kecewa,
Bramarartha. 

Hey, I’m back..

Hey! It’s me Kya. Asiik, uda kaya pembawa acara aja nih. Hehe, akhirnya aku kembali menulis. Entah ada angin apa, yang jelas bukan angin dubur. Hem apa sih, garing BUHUHUAAANGET deh. (haha tetep ya?) Ya, aku belum berubah sedikitpun. Masih tetep Kya yang sama, eh ada yang beda sih, blackberry aku rusak. Dan sekarang blackberry udah bukan barang ekslusif lagi, udah jadi pasaran. Lebih pasaran dari blackcherry dan blueberry (merek merek cina sialan, jago juga mereka niru!).

Hm.. Malem ini aku ga ada niat buat nulis tentang sesuatu yang melucu atau bahagia sebenarnya. Aku mau menulis tentang apa yang terjadi selama aku vakum menulis.

*

Kenapa Tuhan menciptakan agama? Dari dulu sampai sekarang, aku ga pernah bisa berhenti mikirin dan bertanya tentang pertanyaan ini. Mungkin pertanyaan ini ga penting buat kalian yang ga punya masalah yang berhubungan langsung dengan agama. Mungkin pertanyaan ini kedengerannya nakal atau sompral atau apalah, terserah lo pada. (wets marah gaul) Tapi buat aku, pertanyaan ini begitu penting, mendalam, menusuk, membuat kadang kalbu terpecah pecah menyadari bahwa jawaban atas ini malah membuat hati semakin pilu. Aku dibuat semakin bingung dengan eksistensi agama di dunia ini.

*

Semua berawal ketika aku jatuh cina. EH? HAHA SALAH NULIS. Jatuh cinta maksudnya! Haha, ya aku jatuh cinta. Tapi ini lah yang membuat aku sempat hilang untuk 20 juta ribu tahun lamanya, menghilang bersama dinosaurus-dinosaurus yang sudah punah, menghilang bersama mereka di sebuah dimensi yang bisa kamu bilang lampau, tapi buat aku, tak terjangkau. Aku hilang bersama euforia yang membuat aku merasa hidup ini lebih berarti dibandingkan dengan kepuasan yang diberikan oleh uang dan barang-barang high tech yang orang tuaku bisa berikan. Kehebohan twitter, plurk, facebook, ataupun formspring yang baru saja menggelegar dunia maya pun tidak membuatku sedikitpun menolehkan leher untuk melirik. Aku terlalu tenggelam dalam dimensi yang walaupun jijik buat diutarakan, dimensi cinta.

Tidak ada yang lebih indah dari jatuh cinta. Mencintai dan dicintai, sebuah simbiosa yang tak tergantikan. Ketika matanya memandang mata aku, mengalirkan sebuah getaran ketulusan yang hanya bisa dirasakan detik itu, hanya detik itu. Kita berdua merasa, dirasa, terasa. Semua terasa begitu mengambang, waktu hilang, tak ada pikiran untuk mengingat hitungan terbilang. Ketika kita berdua mendengarkan lagu Senyum dari Selatan-nya Sore, dan sama sama terbawa oleh imajinasi liar. Imajinasi yang berujung pada sebuah sintesa perasaan dari kedua belah pihak yang membawa kegaduhan nada menjadi sebuah kesunyian hati tak terbelah. Ketika kita saling tersenyum, saling memandang tanpa memikirkan masa lalu, kemarin, 2 detik yang lalu atau apapun. Ketika apa yang kita rasakan adalah saat itu, hanya detik itu, dan keseluruhan saat dalam dimensi itu membuat kita meneteskan air mata bahagia yang entah darimana datangnya, kita pun tak memikirkan asal muasal daripadanya.

Aku jatuh cinta, bukan cina. (kali ini bener) Mungkin bukan untuk pertama kalinya, tapi sebenernya kalau boleh jujur. Setiap perasaan cinta akan selalu terasa seperti yang pertama? Aneh, aku juga gatau kenapa. Tapi, aku tau cinta selalu memberikan sensasi sensasi baru yang manusia kejar semasa hidupnya. Namun kali ini sensasinya berupa paradoks yang tak terelakkan. Aku jadi heran, kenapa harus ada sedih ketika kita bisa bahagia? Kenapa harus ada perbedaan ketika kita bisa sama? Kenapa harus ada agama sebagai pembatas cinta ketika kita semua adalah sama, manusia?

Menurut aku, perbedaan agama bukan sebuah permasalahan. Namun memikirkan tentang halangan dan rintangan yang akan datang di hari nanti, membuat setiap memori dan kenangan indah itu fana, palsu, tidak berguna. Terkadang dia hanya tersenyum, dia melihatku menangis meneteskan air mata paradoksal. Dia bertanya, “you love me that much? that’s so sweet.” Padahal air mata itu adalah lambang kecemasanku, ketakutanku. Adalah sesuatu yang wajar bukan untuk cemas? Sesuatu yang manusiawi untuk takut?

Tetapi kenapa harus takut dengan pandangan orang lain? Aku udah nonton film Cin(t)a, dan film cin(T)a, dua duanya film indie yang menggambarkan begitu pahitnya pandangan masyarakat indonesia (terutama yang kolot) terhadap pernikahan dua insan yang berbeda agama. Aku jelas ga punya pandangan kaya gini, tapi aku ga bisa mengelak kalau orang tua dan keluarga akan selalu berperan dalam kisah kali ini. Di sinetron hidup aku yang udah jauh lebih dramatis tanpa efek bibir merah membara, make up norak, dan efek zoom in zoom out. Kenapa karena padangan orang tua yang didasari oleh asupan dogmatis, aku ga bisa menikah dengan orang yang beda agama? Karena aku perempuan islam, aku jadi ga bisa menikah dengan laki laki non-islam? Karena dia ga bisa jadi imam bagi keluarga aku? Apa ga terlalu menghakimi pendapat seperti itu? Itu bahkan bukan pendapat, itu diimani oleh dua puluh juta ribu umat Islam di dunia ini dan dijadikan pedoman hidup mereka.

Aku ga pernah mau nyalahin siapa siapa, agama, ataupun ajaran apapun di dunia. Aku cuma bertanya. Karena pertanyaan ini lumayan menyakitkan ketika mendengar jawaban dari mereka yang seharusnya menjawab. Mungkin banyak orang di luar sana yang ga peduli, aku juga ga peduli. Tapi kesedihan ini sering muncul, ketika puncak kebahagiaan itu datang. Perasaan itu, sering harus aku tutup tutupi. Dengan tersenyum, atau tertawa. Dimana ga ada yang tau kalau sebenarnya ada perasaan sakit yang menetap, memandang kecemasan yang tak kunjung hilang. Pengen rasanya mengumpat, marah-marah, teriak sekeras-kerasnya di mobil sampe kaca pecah kalau bisa! Tapi, di mobil lah aku pernah merasakan kebahagiaan yang tak tergantikan. Ketika alunan lagu lagu Sore malam itu terasa jauh lebih bermakna karena adanya kehadiran seseorang yang aku cari selama ini. Kesedihan dan kesenangan dalam suatu titik yang sama. Bingung, hancur, ga bisa berkata apa apa, sampai aku lelah buat bertanya.

Tetapi, malam ini, aku ga bakal lagi nanya. Aku bakal berhenti bertanya.

Karena tidak ada agama yang bisa membedakan manusia satu dengan lainnya.

Dan karena aku sadar bahwa bentuk cinta yang paling murni, adalah Tuhan.

Tuhan tidak akan pernah memisahkan hamba-Nya yang saling mencinta.

Tuhan aja ga bisa, apalagi pandangan manusia lain.

Selamat tengah malam.

Love,

Kyalau (Kya Galau haha)

…dan aku keluar dari kamar mandi.

Aku menghirup udara yang segar. Segar udara di luar toilet. Segar yang jauh lebih segar dari aroma tinja yang baru kutinggali.

Lalu aku bertanya kepada diriku sendiri, apakah toilet-toilet umum di Paris harum semua? Meski seribu orang datang tiap jam untuk ee dengan khidmatnya? Buktinya banyak banget parfum yang ada tulisan eau de toilette. Artinya tentu dapat kita asumsikan sebagai ‘aroma toilet’. Berarti setiap botol eau de toilette mewakili satu bilik toilet. Aku berimajinasi, betapa nikmatnya duduk di toilet di Paris, memenuhi panggilan alam. Menghirup aroma yang enak tanpa harus keluar dari toilet. Duduk di dalam bilik tanpa harus membaui aroma orang-orang yang mendahului aku duduk di tempat yang sama. Atau mungkin, aku adalah yang pertama, dan aromaku akan diabadikan menjadi parfum yang dipakai banyak orang di seluruh dunia.

Tapi tulisan ini bukan renungan tentang toilet. Tulisan ini adalah renungan tentang mangga. Mangga arumanis hasil cangkokan. Harum, manis, mungkin karena itulah namanya mangga arumanis. Warnanya violet, tapi aku tidak tahu kenapa. Mungkin mangga ini seorang, seekor, eh, sebuah mutan, yang bergabung dalam kelompok X-Mangga. Mungkin mangga ini jatuh ke dalam sebuah kaleng kucing (cat) berwarna ungu violet. Lalu aku terbayang Pasha Ungu. Apakah ia suka memakan mangga arumanis berwarna violet? Mengapa nama grup musiknya tidak ia ganti menjadi Ungu Mangga, supaya lebih populer seperti Hijau Daun?

Kawan, sesungguhnya memang banyak sekali pertanyaan seputar dunia ini yang sukar dijawab. Misalnya, buah grapefruit, atau kalau diterjemahkan menjadi buah buah anggur. Dari luar, terlihat seperti sebuah jeruk. Kulitnya jingga, sama seperti jeruk. Tapi coba Kawan potong, maka Kawan akan mengeluarkan darah yang sangat banyak, dan darah itu berwarna merah. Eh salah. Tapi benar, darah warnanya merah. Oke, kembali ke buah. Buah buah anggur tersebut akan terbelah dua, atau mungkin tiga atau empat atau lim x??, tergantung bagaimana Kawan memotongnya, dan daging buah buah anggur itu tidaklah berwarna merah seperti sapi, putih seperti ayam, ataupun jingga seperti jeruk, tapi ungu, seperti Pasha, eh, seperti anggur. Juga seperti Extra Joss atau M150 atau Hemaviton (ada gitu?) rasa anggur. Tapi coba Kawan ingat-ingat, benarkah anggur warnanya ungu? Tidak semua. Ada yang ungu, ada yang hijau, ada juga yang hitam setelah dicelupkan ke dalam kaleng cat hitam. Kenapa? Saya tidak tahu, tidak pula tempe. Apakah kamu suka susu kedelai? Saya lebih suka susu sapi. Apakah anak sapi suka susu kedelai? Ini pula saya tidaklah tahu maupun tempe, mendoan ataupun bacem.

Tapi tidak semua pertanyaan tidak dapat dijawab. Misalnya, jiga kita melihat organisma selain buah buah anggur, seperti, misalnya, pria-age (man-usia) seperti kita, lalu kita bercermin sebagaimana dipetuahkan Almarhum Michael Jackson, maka kita akan melihat seonggok daging yang biasa kita sebut hidung. Di hidung kita ada empat lubang — dua lubang aku, dua lubang kamu. Kenapa ada dua lubang di hidungmu? Karena jika tidak ada lubang, maka rasanya akan sangatlah sulit bernapas.

Dan tulisan ini pun berakhir dengan tidak elegan.

Hari Terakhir

Pernahkah kamu berpikir, apa yang orang-orang akan pikirkan saat kamu tidak lagi berada di dunia ini, melainkan di kamar, eh, dunia sebelah? Saya sering.

Pernahkah kamu memotong kertas dengan cutter? Saya sering.

Pernahkah kamu melakukan percobaan Biologi, di mana kamu disuruh memotong ikan? Saya sering.

Pernahkah kamu jatuh dan lutut kamu terluka? Saya sering.

Hari ini adalah hari Kamis, hari kemerdekaan saya, hari terakhir saya.

Perlahan, tapi pasti.

Imajiner.

Selain kangen banget ngeblog (karena udah bulanan lupa password situs sialan ini, dem!), saya juga kangen banget saya teman-robot-imajiner saya. Namanya Zack.

Zack nggak pernah cerita dia lahir kapan atau di pabrik mana. Dia tiba-tiba hadir di rumah saya pas bentuknya udah segede anak dua tahun. Nggak banget lagi, bajunya! Pake pita pink di leher, sama ketempelan kartu ucapan di dada. Tulisannya: Selamat Ulang Tahun, Bram.

Saya sih biasa-biasa aja waktu itu. Cuma lama-lama, setelah si Ayah iseng nyalain Zack pake empat batu baterai kotak, saya jadi ngerasa ada sesuatu yang lain. Tangan Zack yang dibuat dari besi, matanya yang “bisa” ngeluarin sinar infra merah (padahal cuma lampu warna merah, duh!), semuanya bisa bikin saya lupa. Bikin saya, seorang anak polos kelas dua Sekolah Dasar, lupa kalau dia cuma robot plastik yang dinyalain pake baterai.

Saya masih inget banget, hari-hari saya di rumah selama setengah tahun. Ada masa dimana saya dulu minder banget, dan nggak mau ke sekolah. Alesan pastinya saya lupa, dan misal saya inget juga saya nggak pengen bahas-bahas lagi di blog ini. Tapi yang pasti, saat itu beneran saya habisin buat ngobrol… Sama Zack.

Ya ampun, miris banget ya saya waktu itu.

Sampai akhirnya orangtua saya yang ketakutan liat anaknya mulai autis karena ngobrol sama robot plastik, berinisiatif buat nyabut empat baterai yang ada di belakang punggung bersayap si Zack.

Jadilah saya nangis sejadi-jadinya. Zack mati.

Dan oke, saya harus ke sekolah lagi. Belajar lagi. Lama-lama saya yang kebalik jadi Zack. A brainless robot yang cuma bisa gerak-gerak pake baterai. Saya sempet ketolong dikit pas dapet tanggung jawab buat jadi chief tester katering Ibu. Akhirnya ada sesuatu, alat indera saya, yang bisa saya pake sesuai dengan pemikiran saya. Bukan pandangan atau sesuai norma dari orang lain.

Tapi saat ini, saya kembali ke kelas 3 SD dulu. Saya menjadi Bramazack, si manusia-robot yang pagi-pagi kerjaannya baca buku bank soal UN sampai lecek, dan malem-malem baca rumus. Nggak ada lagi makan-makan, nggak ada lagi chief tester. Sampai 27 April, Bramara ya kudu mau jadi Bramazack. Si robot yang harus lulus UN dengan nilai 10, 10, 9.8, 9,7. Dhuar.

Rasanya baterai yang ada di punggung saya (yang berjerawat, bukan bersayap) udah mau soak. Saya kalah sebelum bertanding. Kesenangan saya makan-makan, rekam-rekam pake kamera HD, bikin cerpen, mau nggak mau semua harus keganti sama angka. Sama rumus. Sama hal-hal yang nggak pernah saya suka itu.

Hmmh.

Udahlah, Bramazack si robot, jangan terlalu banyak ngeluh. Ini sistemnya. Kalau kamu nggak mau, bikin aja negara imajiner sendiri!

Yang semua makanannya enak. Yang nggak ada ujian nasionalnya. Yang dimana orang-orang dibolehin milih buat belajar apa, dan laki-laki yang suka kuliner nggak dianggep kudu ikut Be A Man.

Sekian marah-marah hari ini. It feels so good to be back!

Eniwei, Zack, kalau aja saya pasang lagi baterai kamu hari ini, kamu masih mau nggak ya dengerin curhatan saya yang makin lama makin nggak penting?

Your friendly robot,
Bramazack.

kya would never..

her solitude.

Kenapa ya?

HAHA, awalan yang ga jelas.

Ya, tapi emang ada sesuatu yang begitu mengganjal style dalam pikiran, wets sok serius haha. Jadi orang yang suka menyendiri, atau kemana-mana sendiri itu aneh ga ya? Aneh sih kayanya haha, tapi aku pengen cari pembenaran aja, mungkin ada orang-orang lain yang merasakan hal yang sama kaya aku di dunia yang maia ini, WETS MAIA PAKE I BUKAN Y.

Kadang ada banyak hal yang rasanya jauh lebih nyaman dilakuin sendiri, ya kaya boker, pipis, mandi, hmm yaya, haha, ga deng. Maksudnya pergi sendirian ke taman bacaan yang sebenernya ga ada tamannya sama sekali, minum kopi di kedai kopi (alah, Starbucks mah bilang aja Starbucks! Soksok kedai HAHA), atau mungkin pergi sendiri ke daerah perkampungan buat sekedar jalan-jalan liat orang e’e’ (wets pake double ‘ain) di sungai. Apa itu aneh? Aku justru ga merasa aneh sih, aku merasa nyaman, nyaman banget senyaman tidur di sofa hatimu! HM. Tapi banyak banget yang ngasi testimonials (gila gila, so FRIENDSTER STYLE) dan bilang kalo itu adalah aneh untuk dilakukan.

Goni (masih ingat Goni? Temanku yang setia namun bernama aneh ini haha):

“Kya, lu tuh aneh banget deh, masa lu suka jalan-jalan sendiri geto sih? Gilaa, lu tuh ya, FREAK-A-BIS-CUIT”

Juga ada dari si Cherokee, temen aku yang cantik dan sok inggris tapi namanya aneh juga, katanya sih gara-gara dilahirin di mobilnya hmm, bukan iklan:

APA? Jalan-jalan sendiri? ANEH BANGET LO, KYAA! Mending kaya ghuwe, pake tie-dye ke PVJ. This is like, soooo friggin’ in right now!”

Si Turi yg aneh itu juga selalu komentar, padahal aku ga pernah komentar tentang namanya yang katanya sih gara-gara Ibunya suka nonton TVRI, HM.

“Kya.. kamu ko aneh sih suka jalan-jalan sendiri. Suka sex ya?”

HAHA dasar teman-teman yang aneh, tapi mereka bagus loh. Ada yang mau? Haha emangnya barang? Hm.

Pas aku sendiri, aku punya banyak waktu buat mikir. Mikir segala sesuatu sebebas-bebasnya! Kan kalo ada orang atau temen yang nemenin aku, aku ga bebas berpikir, pasti aja ada waktunya tiba-tiba diajak ngobrol, atau disuruh pake tie-dye barengan ke PVJ (HMM), atau ngomongin profile picture facebook orang yang di-add padahal ga kenal.

Dan kalo aku sendiri, aku bisa mikir sebanyak-banyaknya. Malah kadang aku keinget memori masa lalu, wets haha. Kaya waktu itu aku lagi sendiri di taman bacaan tak berpohon, dan tiba-tiba aku inget masa-masa SD aku.

-

Hari itu hari pertama aku sekolah. Aku inget, pas itu Kelas 4 Caturwulan 2. Haha masih pake caturwulan. Aku baru pulang dari Belgia setelah 3,5 taun tinggal disana. Pas sampe Indonesia, aku sama sekali ga bisa bahasa Indonesia! Tapi harus sekolah, yaudah. Terpaksa sekolah, masa putus sekolah gara-gara bule? HAHA SOK BULE. Dan hari itu aku masuk sekolah dengan sebelumnya uda bermimpi wah bakal kaya di film-film nih, ada murid baru masuk kelas, dari luar negri, yang langsung dikerubungin gitu! Haha, dan gataunya pas masuk kelas, lagi pelajaran IPS.

Dan hari itu ada ULANGAN. HAHA, aku yang ga ngerti apa-apa, langsung dibagiin soal ulangan. Aku masang muka hamster, menandakan ketidakmengertian haha, terus ada anak SD yg duduk di belakang aku bilang ke gurunya, “Bu, tapi dia murid baru, masa harus ikut ulangan juga?”

Bu Guru Jutek Sok Penting: Ibu ga peduli. Siapapun dia, harus ULANGAN!!

Aku bener-bener gatau harus ngapain, argh? GA BISA BAHASA INDONESIA WOY! Akhirnya aku tulis nama, sambil bingung ngapain selama 1 jam haha. Dan pas diperiksa bersama sekelas, ternyata aku dapet 0. HAHA ya iyalah!
Langsung aku nangis, satu SD banjir air mata sungai kyara haha, dan pas siangnya, Mama jemput. Pas Mama jemput, aku lapor ke Mama tentang kejahanaman sang guru di pagi hari.

Akhirnya Mama yang juga ikutan emosi haha like daughter like mother, Mama langsung bilang:

“AYO KITA LAPORKAN PERIHAL INI KEPADA KEPALA SEKOLAH SEKARANG JUGA!”

HAHA, gila gila. Dasar Mama gokil, dan akhirnya kita lapor ke Kepala Sekolah. Ibu Kepala Sekolah aku baik, tapi namanya ejaan belanda. Hm ga nyambung haha. Dan Mama langsung mendramatisir keadaan dengan cerita sambil ikut nangis (HAHA acting mode ON), dan ga lama kemudian Ibu Kepsek manggil si ibu guru sok galak, dan MARAHIN HABIS-HABISAN si guru itu! HAHA PUAS!

Gila gila, keluarga picik! Haha, tapi aku dikasi waktu seminggu buat adaptasi dan harus ngulang ulangan yang tadi pagi. Dan gara-gara itu, Mama merasa tertantang. Wets harusnya kan AKU yang tertantang? Ko MAMA? HAHA.

Selama seminggu itu, setiap malem aku diajarin IPS sama Mama. Dan Bapa juga suka bantu-bantu.

“Ayo Kya, cepet ikutin kata-kata Mama. Hutan adalah..”

“Hutan adalah…..”

“sebuah kawasan yang ditumbuhi oleh pepohonan dan tumbuhan lainnya, dimana kawasan-kawasan semacam ini terdapat di wilayah-wilayah yang luas di dunia dan berfungsi sebagai penampung karbon dioksida, habitat hewan, modulator arus hidrologika, serta pelestari tanah, dan merupakan salah satu aspek biosfera Bumi yang paling penting.”

“Hah? Tidak bisa, Mam. Sangat panjang. Ulangi.. Dan pohon itu apa, Mama?” (masih baku style bahasa indonesianya haha)

Dan kalau malem, Bapa selalu bantuin aku buat tes peta buta yang susahnya kaya nenek menggeroyot rambutan di petang hari.

“Ini namanya Kota Indramayu.”

“Oh iya.”

“Coba ini namanya kota apa tadi?”

“Lupa.”

“Indramayu. Inget aja Oom Indro, temen bapa.”

“Ya, Pa.”

-

Dan semua bayangan itu jelas banget, kaya nonton film, tapi bedanya ada unsur emosi yang ga bisa didapetin kalo nonton film-film biasa, dan bedanya film yg ada di otak aku selalu bagus, ga pernah sampah HAHA (soalnya kan pengalaman sendiri hehe subjektif).

Bayangan kaya gini ga akan bisa aku dapetin kalo aku selalu ngegrup,  ngegeng, ngeklik, ngelompok, dan selalu bareng temen-temen aku yg aneh itu, dan menyendiri itu kadang bisa jadi sesuatu yang adiktif. Menyendiri itu udah menjadi sebuah candu, kadang aku malah pengen sengaja ngehindar dari kehidupan bersosialisasi demi mendapat waktu sendiri. (autis zzz)

Orang-orang mungkin bisa bilang aku Blackberry Girl (HAHA PEDE), tapi yang jelas, aku menghidupi sebuah kontradiksi. (ga nyambung, gila) Antara hidup berkelompok yang mendominasi terutama ketika aku lagi di kampus, dan hasrat untuk menyendiri yang ga bisa lepas.

Maka dari itu, aku mau berlibur ah 2 minggu ke Amerika supaya bisa punya waktu seutuh-utuhnya sendiri. HAHA SOK KAYA :P

Love,
Kya.

Say Hello to New York, Baby!

Say Hello to New York, Baby!

Babi.

Saya nulis cerpen? Pasti nggak akan jauh-jauh dari soal makanan. Baca yaa, karya perdana nih! Tapi maaf endingnya jelek banget. Sebenernya ini cerpen udah lama, cuma masih gantung aja. Begitu kepikiran endingnya kok jadi kaya gitu? Ya udah lah ya. Eniwei maaf Foodilosophy-nya masih dimatengin! Doain aja nggak kematengan. Oke?

p.s. 100 hari menuju Ujian Nasional! w00t! Semangaat!

BABI.


Ayahku Haji. Ibuku Pegawai Negeri. Aku ingin makan babi.

Ayah tidak kerja, ia pengangguran. Kerjaannya mengaji, membaca Al-Qur’an. Kepalanya selalu dibungkus sorban. Ialah calon penghuni surga teladan. Shalatnya pasti tiap selesai adzan.

Ayah bilang makan babi itu dosa. Nanti bisa masuk neraka. Dihukum aku selamanya. Dipanggang di atas bara. Panasnya tidak terkira. Badanku gosong dibuatnya.

Aku tak ingin peduli. Aku ingin makan babi.

Ibuku pegawai negeri rendahan. Gajinya kecil tidak punya lebihan. Anaknya tiga, yang satu kuliahan. Bagaimana cara ibuku mampu bertahan?

Beli ayam saja ibu tak mampu. Paling mahal makan tempe atau tahu. Kadang-kadang aku tak mau. Langsung ibu memarahiku.
Ia bilang aku tak tahu malu. Aku membisu, Ia memukuliku.

Kami tak mampu membeli nasi. Apalagi beli daging babi?

Tadi malam aku mimpi jadi kaya. Makan enak bisa beli apa saja. Harta berlimpah rumah puluhan jumlahnya. Naik pesawat bisa pergi keliling dunia.

Aku tak butuh menjadi kaya. Sekarang, mana daging babinya?

Mari kembali ke dunia nyata. Ayah makin relijius saja rupanya. Ia sebutkan semua hadis dan juga fatwa. Makan babi itu haram, ujarnya. Aku sudah tahu dari sejak dulu kala.

Aku pura-pura tidak tahu. Hanya daging babi yang aku mau.

Semakin dilarang, aku semakin penasaran. Tidak bisa kusembunyikan perasaan. Daging babi begitu menggoda iman. Rasanya sudah tak bisa kutahan.

Aku cuma ingin makan babi. Walau hanya untuk sekali.

Negara ini negara Islam taat. Kota ini kota pesantren paling hebat. Semua kafir dipaksa untuk bertobat. Penjual babi dipaksa jadi petani tomat. Daging babi sudah habis dibabat. Jika muncul paling hanya untuk sesaat.

Untuk sekarang aku akan taat. Tapi akan kucari babi itu suatu saat.

Temanku namanya Galang. Anaknya baik tidak kepalang. Ibunya cantik, bapaknya garang. Hobinya makan Babi Panggang. Babi itu enak, dia bilang. Pikiranku melayang. Imajinasiku terbang.

Aku ikut terbang. Bersama babi panggang.

Ia adalah Kristen sejati. Hari ini baginya hari yang suci. Natal ia rayakan bersama sanak famili. Di Gereja ia berdoa dan bernyanyi. Pulang-pulang, di rumah berjajar makanan surgawi. Salah satunya, ya daging babi tadi!

Iri aku kepadanya. Makan babi tanpa perlu merasa dosa.

Kakakku bilang aku harus bersabar saja. Di surga nanti semua makanan tersedia. Daging babi bertumpuk berjuta-juta. Aku bisa makan-makan sepuasnya!

Siapa yang jamin aku bisa masuk surga? Aku mau daging babi sekarang juga!

Apakah perlu aku pindah agama? Atau menganggap Tuhan tidak ada? Atau mungkin, aku makan babi saja! Masalah dosa biar waktu yang menjawabnya. Misalnya iya kan aku tinggal tobat saja.

Sepertinya aku suka opsi kedua. Daging babi, aku segera tiba!

Kutabung uangku sembunyi-sembunyi. Sedikit sedikit kusisihkan dengan rapi. Takkan kutemukan daging babi kota ini. Aku akan kabur, suatu hari nanti. Ketika uangku sudah sangat mencukupi.

Ku menunggu saat-saat itu. Saat intim bersama babi idamanku.

Hari demi hari terlewati. Lembar demi lembar tersusun menjadi tinggi. Koper, pakaian, sudah kubungkus tadi pagi. Ini adalah sebuah perjalanan yang suci. Pertemuanku dengan hidangan yang kunanti.

Tinggal beberapa jam lagi. Daging babi lezat sudah menanti.

Inilah dia tempatnya. Rumah makan yang sederhana. Tak ada logo halal di depannya. Yang ada aksara-aksara cina. Aku yakin ini tempatnya. Jantungku berdebar dibuatnya.

Teringat akan Ayahku yang Haji. Dan Ibuku yang Pegawai Negeri. Dan kakakku yang sabar menanti sajian surgawi. Dan duniaku yang dulu tidak warna-warni. Semua akan berganti. Setelah aku melahap apa yang terhidang di depanku ini.

Daging Babi harum baunya. Tapi seperti apa rasanya?

Ibu-ibu Cina melihatku. Gembel kampung dengan muka yang layu. Sedang memegang sepasang sumpit dari kayu. Mencoba makan sambil menyeruput kaldu.

Kupegang erat potongan pertama. Kelihatannya nikmat lezat tak terkira. Air liurku menetes dibuatnya. Tapi mengapa aku tak bisa?

Mengapa aku tak mau? Babi ini tak bisa menunggu!

Read More »

Uh Ah

Gue udah kapok naik motor, tapi belakangan ini hujan melulu (deket imlek sih), jadi gue nggak bisa naik sepeda juga.

Maka gue menaiki sesuatu yang tidak akan saya sebutkan apa itu sampai akhir tulisan ini, untuk alasan mendramatisir.

Tapi yang jelas, sesuatu ini sungguh lebih dahsyat daripada motor. Pantat gue bergetar tiada tara.

Tapi nggak itu doang. Tangan gue bergetar, kuku gue bergetar, BlueBerry gue bergetar (ehem). Rambut gue juga bergetar. Bulu kaki gue bergetar.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Apakah ini sebuah gempa? Aku yakin tidak, karena bulu hidungku tidak bergetar. Hidungku memang bergetar, tapi bulu hidungku tidak.

Memang bulu hidung gue sakti. Kayak kera sakti, tapi nggak pake kera.

Hidung pake kera gimana ya?

Apakah ada keranya?

Apakah kera itu bergetar?

Pertanyaan-pertanyaan itu menyimpan sebuah misteri besar, yang pasti akan kukuakkan (suara bebek), setelah mata gue selesai bergetar.

Hati gue pun juga bergetar. Tapi bukan getar cinta, melainkan getar rindu.

Getar warnanya coklat.

Eh, itu gitar.

Lalu seluruh dunia seakan akan runtuh di hadapanku. Di sampingku, di depanku, di belakangku. Di atasku, di dalam hatiku, di dalam gubuk tak bernomor tak berpenghuni di pinggiran sebuah kota anonim di ujung peninsula tak berperilaku. Kenapa peninsula ada perilakunya, saya tidak tahu.

Lalu tibalah puncak akhir sebuah perjuangan.

Tapi sebelum saya akhiri, saya ingin mengherani kenapa saya begitu terobsesi pada getaran.

Oke, inilah saatnya.

Sebuah akhir dari sebuah awal.

Aku membuang hajat dengan sukses.

kya dan mama…

Kya itu identik dengan ketawa, haha-hihi, meledak-ledak DHUAR!, dan poin iDescribe tertinggi di facebook adalah CHEERFUL (Hm yaya! Haha). Dan aku suka sama pandangan orang seperti itu tentang aku, seorang Kya… yang ga suka dipanggil Kia pake i, walau pengucapannya ga ada bedanya haha.

Tapi kadang, aku merasa tertekan buat ngeluarin diri sendiri yang sebenarnya. Maksud aku, bukan berarti aku ini orang lain! Aku ini Kya. Kya seutuhnya, wets, seutuhnya. Tapi aku percaya semua orang di dunia ini punya topeng. Mereka, dan termasuk aku, pasti pake topeng di setiap komunitas yang berbeda. Topeng itu ga selalu jelek ko, tapi juga ga selalu bagus. Jadi ya sebenernya topeng itu ya.. topeng. HM YAYA. Maaf ga jelas hehe.

Seperti ketika aku lagi di sekolah nih ya, eh kampus deng! Wets uda KULIAH GIRL ya skarang? Haha. Sifat aku menyesuaikan diri menjadi lebih dewasa, dan lebih mandiri. (Padahal boong, ga juga HAHA) Dan ketika aku bersama teman-teman tercinta, aku langsung memakai topeng ASIK. Eh! Aku sih emang asik jadi ga harus pake topeng, perasaan. HAHA! Ga deng, itu sejujur-jujurnya adalah topeng. Percayalah! wetss percayalah.

Di dalam keluarga aku sendiri, aku punya topeng yang lain. Hm… Ko banyak ya topeng aku? Lama-lama jualan! Haha garing girl. Dan topeng itu pecah siang tadi. Karena tadi aku berantem sama Mama…

Mama itu adalah ibu. (HM YAYA haha)

Sebenernya, aku sering banget berantem sama Mama, kadang berantemnya karena hal kecil, kaya aku nginjek semut kecil. Ehem ga deng haha. Ya hal kecil contohnya seperti aku positif HAMIL. Tapi bohong. HAHA. Dan hal besar seperti lupa meng-FLUSH toilet abis e to the e!

Tapi hari ini aku ngerasa ada sesuatu yang beda dalam keberanteman kita. (wets kata apa itu? haha)

Mama hari ini marah-marah karena aku lupa shalat maghrib. Padahal aku dari sore di rumah. Aku… hm, gimana ya? Jujur aja sebagai remaja biasa di dunia ini ga bisa lepas sama yang namanya godaan setan, dan kemalasan untuk shalat. Tapi aku ga mau selalu nyalahin setan walau itu tertulis di kitab agama aku (bukan Rectoverso kok, catet! HAHA) bahwa mereka itu ahli goda-menggoda. Soalnya kadang aku bisa ngerasain bahwa aku sendiri, personally weysss SOK INGGRIS, kadang bisa lupa 89178,13% buat shalat.

Mama marah karena Mama gamau anaknya lupa sama Tuhan. Tapi kenapa ya aku ga suka dimarahin sama seseorang karena masalah aku dan agamaku? I mean, (HAHA SOK INGGRIS VOLUME 2) Maksud aku, keimanan itu cuma aku yang tau. Dan seharusnya Mama ga terlalu ikut campur masalah keagamaanku, toh aku udah besar. 18 tahun gitu! Uda bisa HAMIL nih umur segini! Haha tapi ga hamil sih, pacar aja ga punya haha zzz.

Di sisi lain, aku menghargai usaha Mama mengingatkan aku buat shalat. Lagipula aku sayang banget sama Mama. Tapi pada saat itu, aku terlalu emosi dan meledak-ledak dan bilang kalau ini semua salah Mamah sama Bapah (Hm ko jadi pake H di akhirnya? HAHA) karena:

Ga pernah ajak aku ke Tanah Suci.

Pernyataan itu bener-bener bego, dan aku gatau kenapa bisa terlintas di kepala aku buat ngomong kaya gitu ke Mama. Aku tau Mama sedih, karena anaknya cuma bisa menuntut, dan malah nyari kambing hitam atas kemalasan aku buat shalat. Yang parah, kambing hitamnya adalah Mama. Aku merasa bersalah, aku pengen tiba-tiba ngilang pada saat itu.

Ga lama kemudian, Mama diem. Cukup lama, sampe bisa bikin aku ngerasa jadi ANAK DURHAKA 2009. Hm yaya aku sedih tapi masih bisa sok ngelucu ya? Aneh. Aku liat mata Mama.  Aku ga tahan liat Mama diem menatap aku lama banget. Aku langsung peluk Mama, dan sambil nangis aku bilang dengan bahasa yang agak-agak ga jelas. Soalnya kalo aku nangis agak heboh dan histeris sih, hehe…

“Mama… Maafin aku… Tapi kenapa harus nyalahin Kya kalo Kya ga rajin shalat? Kya selama ini selalu dikasih apa yang Kya mau sama Mama. Blackberry, Macbook Air, iPod Touch, DSLR, Tas Anya Hindmarch, 3 kamera Lomo, liburan ke Jepang, Korea, Praha, dan sekolah di Amerika.

Kya suka sama semua ini, dan Kya berterimakasih buat semua yang Mama sama Bapa udah kasih ke Kya. Tapi kalo Mama marah karena Kya ga shalat tadi, kenapa Mama ga ngaca sendiri?

Kapan Mama pernah ngaji bareng Kya? Kapan Mama sama Bapa pernah ngajak Kya NAIK HAJI padahal buat pergi ke berbagai bagian dunia yang lain Mama selalu ajak Kya?

Tapi sebenernya pertanyaan yang paling besar ketika Kya ngeliat Mama sekarang, kapan kita BISA naik Haji bareng, Mam? Kapan?

Mama tersedak, Mama nangis. Aku masih inget hentakan yang Mama ciptakan dalam pelukan sesaat itu. Mama ga pernah nangis sekeras itu.

Aku tau agama milik Mama juga bukan urusanku. Tapi keinginan aku buat pergi melihat Tanah Suci bareng keluarga, lengkap, akan selalu menjadi resolusi nomer pertama di setiap tahunku.

Kadang aku berharap kalau ga ada yang namanya agama di dunia ini.