Monthly Archives: January 2009

her solitude.

Kenapa ya?

HAHA, awalan yang ga jelas.

Ya, tapi emang ada sesuatu yang begitu mengganjal style dalam pikiran, wets sok serius haha. Jadi orang yang suka menyendiri, atau kemana-mana sendiri itu aneh ga ya? Aneh sih kayanya haha, tapi aku pengen cari pembenaran aja, mungkin ada orang-orang lain yang merasakan hal yang sama kaya aku di dunia yang maia ini, WETS MAIA PAKE I BUKAN Y.

Kadang ada banyak hal yang rasanya jauh lebih nyaman dilakuin sendiri, ya kaya boker, pipis, mandi, hmm yaya, haha, ga deng. Maksudnya pergi sendirian ke taman bacaan yang sebenernya ga ada tamannya sama sekali, minum kopi di kedai kopi (alah, Starbucks mah bilang aja Starbucks! Soksok kedai HAHA), atau mungkin pergi sendiri ke daerah perkampungan buat sekedar jalan-jalan liat orang e’e’ (wets pake double ‘ain) di sungai. Apa itu aneh? Aku justru ga merasa aneh sih, aku merasa nyaman, nyaman banget senyaman tidur di sofa hatimu! HM. Tapi banyak banget yang ngasi testimonials (gila gila, so FRIENDSTER STYLE) dan bilang kalo itu adalah aneh untuk dilakukan.

Goni (masih ingat Goni? Temanku yang setia namun bernama aneh ini haha):

“Kya, lu tuh aneh banget deh, masa lu suka jalan-jalan sendiri geto sih? Gilaa, lu tuh ya, FREAK-A-BIS-CUIT”

Juga ada dari si Cherokee, temen aku yang cantik dan sok inggris tapi namanya aneh juga, katanya sih gara-gara dilahirin di mobilnya hmm, bukan iklan:

APA? Jalan-jalan sendiri? ANEH BANGET LO, KYAA! Mending kaya ghuwe, pake tie-dye ke PVJ. This is like, soooo friggin’ in right now!”

Si Turi yg aneh itu juga selalu komentar, padahal aku ga pernah komentar tentang namanya yang katanya sih gara-gara Ibunya suka nonton TVRI, HM.

“Kya.. kamu ko aneh sih suka jalan-jalan sendiri. Suka sex ya?”

HAHA dasar teman-teman yang aneh, tapi mereka bagus loh. Ada yang mau? Haha emangnya barang? Hm.

Pas aku sendiri, aku punya banyak waktu buat mikir. Mikir segala sesuatu sebebas-bebasnya! Kan kalo ada orang atau temen yang nemenin aku, aku ga bebas berpikir, pasti aja ada waktunya tiba-tiba diajak ngobrol, atau disuruh pake tie-dye barengan ke PVJ (HMM), atau ngomongin profile picture facebook orang yang di-add padahal ga kenal.

Dan kalo aku sendiri, aku bisa mikir sebanyak-banyaknya. Malah kadang aku keinget memori masa lalu, wets haha. Kaya waktu itu aku lagi sendiri di taman bacaan tak berpohon, dan tiba-tiba aku inget masa-masa SD aku.

-

Hari itu hari pertama aku sekolah. Aku inget, pas itu Kelas 4 Caturwulan 2. Haha masih pake caturwulan. Aku baru pulang dari Belgia setelah 3,5 taun tinggal disana. Pas sampe Indonesia, aku sama sekali ga bisa bahasa Indonesia! Tapi harus sekolah, yaudah. Terpaksa sekolah, masa putus sekolah gara-gara bule? HAHA SOK BULE. Dan hari itu aku masuk sekolah dengan sebelumnya uda bermimpi wah bakal kaya di film-film nih, ada murid baru masuk kelas, dari luar negri, yang langsung dikerubungin gitu! Haha, dan gataunya pas masuk kelas, lagi pelajaran IPS.

Dan hari itu ada ULANGAN. HAHA, aku yang ga ngerti apa-apa, langsung dibagiin soal ulangan. Aku masang muka hamster, menandakan ketidakmengertian haha, terus ada anak SD yg duduk di belakang aku bilang ke gurunya, “Bu, tapi dia murid baru, masa harus ikut ulangan juga?”

Bu Guru Jutek Sok Penting: Ibu ga peduli. Siapapun dia, harus ULANGAN!!

Aku bener-bener gatau harus ngapain, argh? GA BISA BAHASA INDONESIA WOY! Akhirnya aku tulis nama, sambil bingung ngapain selama 1 jam haha. Dan pas diperiksa bersama sekelas, ternyata aku dapet 0. HAHA ya iyalah!
Langsung aku nangis, satu SD banjir air mata sungai kyara haha, dan pas siangnya, Mama jemput. Pas Mama jemput, aku lapor ke Mama tentang kejahanaman sang guru di pagi hari.

Akhirnya Mama yang juga ikutan emosi haha like daughter like mother, Mama langsung bilang:

“AYO KITA LAPORKAN PERIHAL INI KEPADA KEPALA SEKOLAH SEKARANG JUGA!”

HAHA, gila gila. Dasar Mama gokil, dan akhirnya kita lapor ke Kepala Sekolah. Ibu Kepala Sekolah aku baik, tapi namanya ejaan belanda. Hm ga nyambung haha. Dan Mama langsung mendramatisir keadaan dengan cerita sambil ikut nangis (HAHA acting mode ON), dan ga lama kemudian Ibu Kepsek manggil si ibu guru sok galak, dan MARAHIN HABIS-HABISAN si guru itu! HAHA PUAS!

Gila gila, keluarga picik! Haha, tapi aku dikasi waktu seminggu buat adaptasi dan harus ngulang ulangan yang tadi pagi. Dan gara-gara itu, Mama merasa tertantang. Wets harusnya kan AKU yang tertantang? Ko MAMA? HAHA.

Selama seminggu itu, setiap malem aku diajarin IPS sama Mama. Dan Bapa juga suka bantu-bantu.

“Ayo Kya, cepet ikutin kata-kata Mama. Hutan adalah..”

“Hutan adalah…..”

“sebuah kawasan yang ditumbuhi oleh pepohonan dan tumbuhan lainnya, dimana kawasan-kawasan semacam ini terdapat di wilayah-wilayah yang luas di dunia dan berfungsi sebagai penampung karbon dioksida, habitat hewan, modulator arus hidrologika, serta pelestari tanah, dan merupakan salah satu aspek biosfera Bumi yang paling penting.”

“Hah? Tidak bisa, Mam. Sangat panjang. Ulangi.. Dan pohon itu apa, Mama?” (masih baku style bahasa indonesianya haha)

Dan kalau malem, Bapa selalu bantuin aku buat tes peta buta yang susahnya kaya nenek menggeroyot rambutan di petang hari.

“Ini namanya Kota Indramayu.”

“Oh iya.”

“Coba ini namanya kota apa tadi?”

“Lupa.”

“Indramayu. Inget aja Oom Indro, temen bapa.”

“Ya, Pa.”

-

Dan semua bayangan itu jelas banget, kaya nonton film, tapi bedanya ada unsur emosi yang ga bisa didapetin kalo nonton film-film biasa, dan bedanya film yg ada di otak aku selalu bagus, ga pernah sampah HAHA (soalnya kan pengalaman sendiri hehe subjektif).

Bayangan kaya gini ga akan bisa aku dapetin kalo aku selalu ngegrup,  ngegeng, ngeklik, ngelompok, dan selalu bareng temen-temen aku yg aneh itu, dan menyendiri itu kadang bisa jadi sesuatu yang adiktif. Menyendiri itu udah menjadi sebuah candu, kadang aku malah pengen sengaja ngehindar dari kehidupan bersosialisasi demi mendapat waktu sendiri. (autis zzz)

Orang-orang mungkin bisa bilang aku Blackberry Girl (HAHA PEDE), tapi yang jelas, aku menghidupi sebuah kontradiksi. (ga nyambung, gila) Antara hidup berkelompok yang mendominasi terutama ketika aku lagi di kampus, dan hasrat untuk menyendiri yang ga bisa lepas.

Maka dari itu, aku mau berlibur ah 2 minggu ke Amerika supaya bisa punya waktu seutuh-utuhnya sendiri. HAHA SOK KAYA :P

Love,
Kya.

Say Hello to New York, Baby!

Say Hello to New York, Baby!

Babi.

Saya nulis cerpen? Pasti nggak akan jauh-jauh dari soal makanan. Baca yaa, karya perdana nih! Tapi maaf endingnya jelek banget. Sebenernya ini cerpen udah lama, cuma masih gantung aja. Begitu kepikiran endingnya kok jadi kaya gitu? Ya udah lah ya. Eniwei maaf Foodilosophy-nya masih dimatengin! Doain aja nggak kematengan. Oke?

p.s. 100 hari menuju Ujian Nasional! w00t! Semangaat!

BABI.


Ayahku Haji. Ibuku Pegawai Negeri. Aku ingin makan babi.

Ayah tidak kerja, ia pengangguran. Kerjaannya mengaji, membaca Al-Qur’an. Kepalanya selalu dibungkus sorban. Ialah calon penghuni surga teladan. Shalatnya pasti tiap selesai adzan.

Ayah bilang makan babi itu dosa. Nanti bisa masuk neraka. Dihukum aku selamanya. Dipanggang di atas bara. Panasnya tidak terkira. Badanku gosong dibuatnya.

Aku tak ingin peduli. Aku ingin makan babi.

Ibuku pegawai negeri rendahan. Gajinya kecil tidak punya lebihan. Anaknya tiga, yang satu kuliahan. Bagaimana cara ibuku mampu bertahan?

Beli ayam saja ibu tak mampu. Paling mahal makan tempe atau tahu. Kadang-kadang aku tak mau. Langsung ibu memarahiku.
Ia bilang aku tak tahu malu. Aku membisu, Ia memukuliku.

Kami tak mampu membeli nasi. Apalagi beli daging babi?

Tadi malam aku mimpi jadi kaya. Makan enak bisa beli apa saja. Harta berlimpah rumah puluhan jumlahnya. Naik pesawat bisa pergi keliling dunia.

Aku tak butuh menjadi kaya. Sekarang, mana daging babinya?

Mari kembali ke dunia nyata. Ayah makin relijius saja rupanya. Ia sebutkan semua hadis dan juga fatwa. Makan babi itu haram, ujarnya. Aku sudah tahu dari sejak dulu kala.

Aku pura-pura tidak tahu. Hanya daging babi yang aku mau.

Semakin dilarang, aku semakin penasaran. Tidak bisa kusembunyikan perasaan. Daging babi begitu menggoda iman. Rasanya sudah tak bisa kutahan.

Aku cuma ingin makan babi. Walau hanya untuk sekali.

Negara ini negara Islam taat. Kota ini kota pesantren paling hebat. Semua kafir dipaksa untuk bertobat. Penjual babi dipaksa jadi petani tomat. Daging babi sudah habis dibabat. Jika muncul paling hanya untuk sesaat.

Untuk sekarang aku akan taat. Tapi akan kucari babi itu suatu saat.

Temanku namanya Galang. Anaknya baik tidak kepalang. Ibunya cantik, bapaknya garang. Hobinya makan Babi Panggang. Babi itu enak, dia bilang. Pikiranku melayang. Imajinasiku terbang.

Aku ikut terbang. Bersama babi panggang.

Ia adalah Kristen sejati. Hari ini baginya hari yang suci. Natal ia rayakan bersama sanak famili. Di Gereja ia berdoa dan bernyanyi. Pulang-pulang, di rumah berjajar makanan surgawi. Salah satunya, ya daging babi tadi!

Iri aku kepadanya. Makan babi tanpa perlu merasa dosa.

Kakakku bilang aku harus bersabar saja. Di surga nanti semua makanan tersedia. Daging babi bertumpuk berjuta-juta. Aku bisa makan-makan sepuasnya!

Siapa yang jamin aku bisa masuk surga? Aku mau daging babi sekarang juga!

Apakah perlu aku pindah agama? Atau menganggap Tuhan tidak ada? Atau mungkin, aku makan babi saja! Masalah dosa biar waktu yang menjawabnya. Misalnya iya kan aku tinggal tobat saja.

Sepertinya aku suka opsi kedua. Daging babi, aku segera tiba!

Kutabung uangku sembunyi-sembunyi. Sedikit sedikit kusisihkan dengan rapi. Takkan kutemukan daging babi kota ini. Aku akan kabur, suatu hari nanti. Ketika uangku sudah sangat mencukupi.

Ku menunggu saat-saat itu. Saat intim bersama babi idamanku.

Hari demi hari terlewati. Lembar demi lembar tersusun menjadi tinggi. Koper, pakaian, sudah kubungkus tadi pagi. Ini adalah sebuah perjalanan yang suci. Pertemuanku dengan hidangan yang kunanti.

Tinggal beberapa jam lagi. Daging babi lezat sudah menanti.

Inilah dia tempatnya. Rumah makan yang sederhana. Tak ada logo halal di depannya. Yang ada aksara-aksara cina. Aku yakin ini tempatnya. Jantungku berdebar dibuatnya.

Teringat akan Ayahku yang Haji. Dan Ibuku yang Pegawai Negeri. Dan kakakku yang sabar menanti sajian surgawi. Dan duniaku yang dulu tidak warna-warni. Semua akan berganti. Setelah aku melahap apa yang terhidang di depanku ini.

Daging Babi harum baunya. Tapi seperti apa rasanya?

Ibu-ibu Cina melihatku. Gembel kampung dengan muka yang layu. Sedang memegang sepasang sumpit dari kayu. Mencoba makan sambil menyeruput kaldu.

Kupegang erat potongan pertama. Kelihatannya nikmat lezat tak terkira. Air liurku menetes dibuatnya. Tapi mengapa aku tak bisa?

Mengapa aku tak mau? Babi ini tak bisa menunggu!

Read More »

Uh Ah

Gue udah kapok naik motor, tapi belakangan ini hujan melulu (deket imlek sih), jadi gue nggak bisa naik sepeda juga.

Maka gue menaiki sesuatu yang tidak akan saya sebutkan apa itu sampai akhir tulisan ini, untuk alasan mendramatisir.

Tapi yang jelas, sesuatu ini sungguh lebih dahsyat daripada motor. Pantat gue bergetar tiada tara.

Tapi nggak itu doang. Tangan gue bergetar, kuku gue bergetar, BlueBerry gue bergetar (ehem). Rambut gue juga bergetar. Bulu kaki gue bergetar.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Apakah ini sebuah gempa? Aku yakin tidak, karena bulu hidungku tidak bergetar. Hidungku memang bergetar, tapi bulu hidungku tidak.

Memang bulu hidung gue sakti. Kayak kera sakti, tapi nggak pake kera.

Hidung pake kera gimana ya?

Apakah ada keranya?

Apakah kera itu bergetar?

Pertanyaan-pertanyaan itu menyimpan sebuah misteri besar, yang pasti akan kukuakkan (suara bebek), setelah mata gue selesai bergetar.

Hati gue pun juga bergetar. Tapi bukan getar cinta, melainkan getar rindu.

Getar warnanya coklat.

Eh, itu gitar.

Lalu seluruh dunia seakan akan runtuh di hadapanku. Di sampingku, di depanku, di belakangku. Di atasku, di dalam hatiku, di dalam gubuk tak bernomor tak berpenghuni di pinggiran sebuah kota anonim di ujung peninsula tak berperilaku. Kenapa peninsula ada perilakunya, saya tidak tahu.

Lalu tibalah puncak akhir sebuah perjuangan.

Tapi sebelum saya akhiri, saya ingin mengherani kenapa saya begitu terobsesi pada getaran.

Oke, inilah saatnya.

Sebuah akhir dari sebuah awal.

Aku membuang hajat dengan sukses.

kya dan mama…

Kya itu identik dengan ketawa, haha-hihi, meledak-ledak DHUAR!, dan poin iDescribe tertinggi di facebook adalah CHEERFUL (Hm yaya! Haha). Dan aku suka sama pandangan orang seperti itu tentang aku, seorang Kya… yang ga suka dipanggil Kia pake i, walau pengucapannya ga ada bedanya haha.

Tapi kadang, aku merasa tertekan buat ngeluarin diri sendiri yang sebenarnya. Maksud aku, bukan berarti aku ini orang lain! Aku ini Kya. Kya seutuhnya, wets, seutuhnya. Tapi aku percaya semua orang di dunia ini punya topeng. Mereka, dan termasuk aku, pasti pake topeng di setiap komunitas yang berbeda. Topeng itu ga selalu jelek ko, tapi juga ga selalu bagus. Jadi ya sebenernya topeng itu ya.. topeng. HM YAYA. Maaf ga jelas hehe.

Seperti ketika aku lagi di sekolah nih ya, eh kampus deng! Wets uda KULIAH GIRL ya skarang? Haha. Sifat aku menyesuaikan diri menjadi lebih dewasa, dan lebih mandiri. (Padahal boong, ga juga HAHA) Dan ketika aku bersama teman-teman tercinta, aku langsung memakai topeng ASIK. Eh! Aku sih emang asik jadi ga harus pake topeng, perasaan. HAHA! Ga deng, itu sejujur-jujurnya adalah topeng. Percayalah! wetss percayalah.

Di dalam keluarga aku sendiri, aku punya topeng yang lain. Hm… Ko banyak ya topeng aku? Lama-lama jualan! Haha garing girl. Dan topeng itu pecah siang tadi. Karena tadi aku berantem sama Mama…

Mama itu adalah ibu. (HM YAYA haha)

Sebenernya, aku sering banget berantem sama Mama, kadang berantemnya karena hal kecil, kaya aku nginjek semut kecil. Ehem ga deng haha. Ya hal kecil contohnya seperti aku positif HAMIL. Tapi bohong. HAHA. Dan hal besar seperti lupa meng-FLUSH toilet abis e to the e!

Tapi hari ini aku ngerasa ada sesuatu yang beda dalam keberanteman kita. (wets kata apa itu? haha)

Mama hari ini marah-marah karena aku lupa shalat maghrib. Padahal aku dari sore di rumah. Aku… hm, gimana ya? Jujur aja sebagai remaja biasa di dunia ini ga bisa lepas sama yang namanya godaan setan, dan kemalasan untuk shalat. Tapi aku ga mau selalu nyalahin setan walau itu tertulis di kitab agama aku (bukan Rectoverso kok, catet! HAHA) bahwa mereka itu ahli goda-menggoda. Soalnya kadang aku bisa ngerasain bahwa aku sendiri, personally weysss SOK INGGRIS, kadang bisa lupa 89178,13% buat shalat.

Mama marah karena Mama gamau anaknya lupa sama Tuhan. Tapi kenapa ya aku ga suka dimarahin sama seseorang karena masalah aku dan agamaku? I mean, (HAHA SOK INGGRIS VOLUME 2) Maksud aku, keimanan itu cuma aku yang tau. Dan seharusnya Mama ga terlalu ikut campur masalah keagamaanku, toh aku udah besar. 18 tahun gitu! Uda bisa HAMIL nih umur segini! Haha tapi ga hamil sih, pacar aja ga punya haha zzz.

Di sisi lain, aku menghargai usaha Mama mengingatkan aku buat shalat. Lagipula aku sayang banget sama Mama. Tapi pada saat itu, aku terlalu emosi dan meledak-ledak dan bilang kalau ini semua salah Mamah sama Bapah (Hm ko jadi pake H di akhirnya? HAHA) karena:

Ga pernah ajak aku ke Tanah Suci.

Pernyataan itu bener-bener bego, dan aku gatau kenapa bisa terlintas di kepala aku buat ngomong kaya gitu ke Mama. Aku tau Mama sedih, karena anaknya cuma bisa menuntut, dan malah nyari kambing hitam atas kemalasan aku buat shalat. Yang parah, kambing hitamnya adalah Mama. Aku merasa bersalah, aku pengen tiba-tiba ngilang pada saat itu.

Ga lama kemudian, Mama diem. Cukup lama, sampe bisa bikin aku ngerasa jadi ANAK DURHAKA 2009. Hm yaya aku sedih tapi masih bisa sok ngelucu ya? Aneh. Aku liat mata Mama.  Aku ga tahan liat Mama diem menatap aku lama banget. Aku langsung peluk Mama, dan sambil nangis aku bilang dengan bahasa yang agak-agak ga jelas. Soalnya kalo aku nangis agak heboh dan histeris sih, hehe…

“Mama… Maafin aku… Tapi kenapa harus nyalahin Kya kalo Kya ga rajin shalat? Kya selama ini selalu dikasih apa yang Kya mau sama Mama. Blackberry, Macbook Air, iPod Touch, DSLR, Tas Anya Hindmarch, 3 kamera Lomo, liburan ke Jepang, Korea, Praha, dan sekolah di Amerika.

Kya suka sama semua ini, dan Kya berterimakasih buat semua yang Mama sama Bapa udah kasih ke Kya. Tapi kalo Mama marah karena Kya ga shalat tadi, kenapa Mama ga ngaca sendiri?

Kapan Mama pernah ngaji bareng Kya? Kapan Mama sama Bapa pernah ngajak Kya NAIK HAJI padahal buat pergi ke berbagai bagian dunia yang lain Mama selalu ajak Kya?

Tapi sebenernya pertanyaan yang paling besar ketika Kya ngeliat Mama sekarang, kapan kita BISA naik Haji bareng, Mam? Kapan?

Mama tersedak, Mama nangis. Aku masih inget hentakan yang Mama ciptakan dalam pelukan sesaat itu. Mama ga pernah nangis sekeras itu.

Aku tau agama milik Mama juga bukan urusanku. Tapi keinginan aku buat pergi melihat Tanah Suci bareng keluarga, lengkap, akan selalu menjadi resolusi nomer pertama di setiap tahunku.

Kadang aku berharap kalau ga ada yang namanya agama di dunia ini.

Gunakan Hatimu!

Halo dunia, selamat hari Senin! Bagi bapak dan ibu yang bekerja (termasuk bapak dan ibu saya), Selamat Bekerja! Carilah uang sebanyak-banyaknya. Bagi rekan-rekan yang ada di Jakarta, selamat bangun pagi! Maksud saya, selamat menjalankan ibadah sekolah. Hehehe, sekolah itu ibadah lho! Dan bagi orang-orang seperti saya yang masih punya waktu satu minggu untuk santai di rumah, saran saya, pergunakan waktu kalian dengan sebaik mungkin. Mungkin dengan membaca blog saya lalu berkomentar? Nice idea.

Oke, mungkin tulisan kali ini tidak belum bisa saya kategorikan sebagai Foodilosophy. Cuma catatan harian saja.

Baiklah, seperti apa yang saya bilang di Tahun Baru kemarin, saya pengen banget bisa berbaur. Yaa, bukan berarti saya anti-sosial juga sih. Saya masih inget kok kaya apa rasanya ada di rapat OSIS, berdebat habis-habisan soal anggaran event. Dan OSIS juga mengajarkan saya buat jadi lebih peduli dan peka sama lingkungan sendiri. OSIS juga ngajarin saya buat baca koran. Ya, koran. Bukan situs internet, karena waktu itu yang kita cari cuma media partners, sponsor, peralatan panggung dan lighting. Semua itu adanya di koran, kan? Sebagai bendahara ngawur saat itu saya harus teliti ngebaca iklan satu-satu, terus nelepon ke setiap nomer telepon yang ada. Ah, saya kangen banget masa-masa itu.

Tapi anyway, kebiasaan saya baca koran Alhamdulillah masih kebawa-bawa sampai sekarang. Saya dulu emang cuma liat iklan (dan harga handphone, hehe), tapi lama-kelamaan saya baca juga beritanya. Awalnya sih cuma berita Showbiz, jadwal bioskop (padahal mau nonton sama siapa juga saya ngga tahu), sama berita nggak penting lainnya. Tapi lama-lama mulai baca Headlinenya, mulai baca halaman bisnisnya, dan halaman lain juga. Satu-satunya yang nggak saya baca cuma halaman Olahraga, soalnya saya nggak ngerti yang gituan.

Pagi ini saya baca koran lagi. Bangun tidur sambil minum lemon tea hangat. Awalnya saya biasa-biasa aja liat headlinenya. Tapi begitu saya baca artikelnya… Astagfirullah.

Dua foto beserta keterangannya ini yang mengguncang hati saya:

Israel Masuki “Jantung” Gaza


Seorang pria Palestina yang terluka digotong ke rumah sakit, Minggu (4/1). Rudal Israel yang menghantam pusat perbelanjaan utama di Gaza City menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai 40 orang yang semuanya adalah warga sipil Palestina.

Israel Brutal, Sengaja Bom Masjid

Israel Brutal, Sengaja Bom Masjid

Militer Israel membombardir Jalur Gaza dari darat, laut dan udara sepanjang Sabtu sebagai sinyal meningkatnya ofensif mereka terhadap Hamas di kantong Palestina di Gaza sementara tank dan pasukan darat bersiap di sepanjang perbatasan untuk sebuah serangan darat ke Gaza.

Dalam sebuah insiden paling berdarah hari itu, sebuah serangan udara yang mengenai satu masjid telah menewaskan 11 warga Palestina termasuk anak-anak dan lusinan wanita selagi menunaikan ibadah shalat.

Menewaskan dua belas orang di pusat perbelanjaan?
Menewaskan sebelas orang di Masjid, semuanya sedang Shalat?

Sebentar, sebelumnya saya pengen cerita sedikit soal sikap saya. Saya tahu, Israel menyerang Palestina secara brutal. Saya juga tahu banyak banget orang yang simpati. Orang pengen berjihad. Lebih dari satu SMS nyampe ke Blackberry saya, isinya kebanyakan pesan berantai. Ada yang minta kita supaya berdoa, membaca potongan-potongan ayat Tuhan. Ada juga yang memotong pulsa kita untuk sumbangan. Saya tahu semuanya. Tapi saya… Nggak peduli! Saya udah terlalu tenggelam bareng internet, bareng messenger dan push mails yang berderu nggak henti-hentinya. Dunia saya cuma sebatas layar. Tiga puluh dua inchi, tiga belas inchi, dan dua koma empat inchi. Cuma sesimpel dan sedangkal itu.

Saya ngeliat. Saya nangkep maknanya. Saya pura-pura berfilosofi. Tapi saya tidak pernah ngeliat dengan hati.
Tapi dua artikel tadi udah mengguncang hati saya sampai ke akar-akarnya. Saya cepet-cepet buka YouTube. Al Jazeera Channel bilang kalau Israel secara blak-blakan memajang “keberhasilan” mereka meratakan masjid di Palestina. Dan saya menemukannya. Lihat sendiri. Apakah kamu udah ngeliat dengan hati?

Udah dilihat? Udah ngerasain perasaan itu? Saya nggak cuma bicara atas nama sesama Muslim. Saya ingin bicara kepada seluruh dunia.

Sekarang bayangin. Dengan trendy-nya kamu jalan-jalan di pelataran parkir mall PVJ yang begitu megah itu, nenteng Blackberry dengan “kondom” warna-warni. Secara tiba-tiba, baru aja kamu sampae cafe di depan, sebuah roket mendarat di tengah mall itu, meruntuhkan semua yang ada di atasnya. Kamu sih masih beruntung dapat hidup, walau sebagian tangan kamu ilang karena ketimpa lampu neon blitzmegaplex. Tapi gimana nasib ibumu yang lagi beli daging di Carrefour? Gimana nasib kakakmu yang lagi ngurus kucingnya di Pet Shop? Semua mahkluk malang itu (manusia, maksudnya) terjebak di Basement 1 dan Basement 2, tanpa eskalator, tanpa oksigen. Yang ada cuma tangis, dan darah. Darah.

Ayo bayangin lagi. Kamu tahu sekarang lagi ada perang. Sebagai manusia berakal yang masih percaya Tuhan kamu lari ke tempat ibadah terdekat. Apakah masjid, apakah gereja, apakah vihara, saya nggak peduli. Saat kamu lagi menangis mati-matian dalam do’amu tiba-tiba seolah Tuhan menjawabnya dengan cara yang nggak pernah kamu duga. Tempat ibadah itu meledak. Tubuhmu juga. Jiwamu terbang entah kemana.

Maafin saya atas ilustrasi yang terlalu menyeramkan tadi. Saya cuma ngebayangin, saya coba terjemahin. Masih banyak diantara kita yang nggak peduli dan malah asyik main Blackberry (hayo, hitung berapa kata Blackberry dalam tulisan ini! Hehehe). Saya juga seperti itu. Saya juga! Tapi dulu.

Sekarang, dengan segala kerendahan hati sebagai seorang manusia dan penulis nggak berpengalaman, saya meminta anda yang membaca tulisan ini, untuk menggunakan hati anda. Gunakan nurani anda sebagai seorang manusia.

Saya juga bukan tipe orang yang langsung bergerak jihad. Bukan juga tipe orang yang rela ngeluarin duit gede-gedean buat nyumbang sana-sini (duh, buka aib sendiri nomer #1335: pelit). Saya disini cuma bisa berdoa, dan berdoa, dan terus berdoa. Dan juga nulis ini. Bukan buat tujuan apa-apa, bukan maksa kamu yang non-Muslim dan pro-Israel buat debat abis-abisan. Saya cuma pengen kita semua sama-sama peduli. Salah satu kepedulian saya sih yaitu dengan ngabisin sisa pulsa saya buat ngirim sms donasi ke MER-C. Caranya lumayan gampang, ketik aja MERC PEDULI, kirim ke 7505. Saya nggak peduli kalau uang itu bakal nyampe atau nggak, organisasinya dibackup partai atau nggak. Yang penting semoga Tuhan (milik saya, milik kamu, milik semua orang) sudah mencatat ketulusan dan do’a kita semua. Dan juga saya pengen, masa-masa terakhir Blackberry saya digunakan buat kebaikan.

Eh, saya belum cerita ya? Saya emang niat ngejual Curve ini, karena saya emang nggak butuh! Saya ga suka terlalu sibuk sama messenger atau push mail, karena semua orang-orang di mailing list atau BBM, YM, itu kan cuma teman-teman maya. Saya menghargai mereka, tapi saya pikir nggak seharusnya juga kita jadi sibuk dan lupa dunia nyata, kan? Alat ini cuma penghalang saya buat ngeliat pake hati! Eits, tapi buat yang mau beli secondnya, udah ga bisa! Soalnya saya jual ke sodara sepupu kok. Hehehe.

Jujur, uang penjualannya emang nggak saya sumbangin buat Palestina atau gempa Manokwari. Tapi saya malah mengganti bentuk Blackberry itu menjadi…

Sanyo Xacti DMX-HD700, merah. Hehehe.

Kenapa? Karena Blackberry Curve nggak bisa ngerekam video, dan kameranya jelek. Kedua, karena saya pengen belajar bikin video atau film pendek sendiri. Ketiga, saya pengen nanti Foodilosophy sama review makanan yang saya bikin, bisa dilengkapin pake video. Keempat, kalau tiba-tiba di PVJ beneran ada bom, kan bisa saya rekam. Lumayan bisa dijual ke REUTERS. NAUDZUBILLAHIMINDALIK DEH!

Yang sedang melihat dengan hati (serta merekam dengan resolusi HD),
Bramarartha.

Ayam

Ayam.

Chicken, ciken, yah, apapunlah itu.

Ayam.

Ayam itu enak, maka aku suka ayam. Aku suka makan ayam.

Ayam goreng, ayam digoreng, goreng ayam…

Semur ayam, ayam disemur, ayam semur…

Ayam direbus, ayam rebus, rebus ayam.

Ah, ayam.

Betapa aku cinta ayam.

Mereka bilang daging kamu putih, tapi mereka salah!

Saat kamu disembelih, dipotong, dicincang, atau di-apapunlah-itu-namanya, dagingmu merah! Merah karena darah! Darahmu, ayam. Darah ayam segar.

Kalau bukan darah ayam segar, mungkin darah yang memotongnya. Kalau begitu, kasihan sekali orang itu, darah segarnya membasuhi dagingmu, wahai ayam. Ayam, berilah orang malang itu plester, mungkin pakai obat merah juga. Ayam, sepertinya orang itu dari Malang. Ayam sendiri dari mana?

Daging ayam juga bisa hitam. Misalnya, rawon ayam. Tapi bukan tawon ayam lho ya. Tawon ayam warnanya kuning-hitam (sok tau), rawon ayam warnanya hitam. Hitam, karena dihitamkan. Ya, ayam hitam – disingkat menjadi AHIT atau ATAM atau AH AH AH aja sudah cukup mewakili.

Ah, ayam hitam.

Ayam biru juga ada lho! Bagaimana caranya? Sungguhlah mudah. Pakailah kacamata kuda atau kacamata delman yang berlensa biru. Maka daging ayam akan menjadi biru, seperti barang-barang lain di dunia dari sudut pandang mata Anda, dan hidup Anda pun akan bahagia, bersama ayam.

Ayam, warna apapun kamu, aku akan tetap mencintaimu.

Saat aku menggigitmu, kau membalas gigitanku dengan resultan gaya yang berbanding lurus dengan resultan gaya-gaya yang terjadi akibat gigitanku… Dagingmu lembut, kalau memang lagi lembut, keras, kalau memang lagi keras, renyah, kalau sedikit gosong, atau memang digoreng atau direbus menjadi renyah. Apapun sifat-sifat dagingmu, engkau tetaplah ayam, dan aku tetap mencintaimu.

Ayam, oh ayam. Aku cinta ayam.

Karena kamu adalah ayam, dan ayam adalah kamu.

Abdul Muis Sang Penjual Kelapa di Jalan Dago.

Saya adalah empat roda angkot. Tapi angkotnya cuma satu, rodanya ada empat. Itulah yang membedakan sebuah fakta alias kenyataan yang nisbi, dan sesuatu yang riil, yang dapat dicium oleh mata, yang dapat dilihat oleh tangan, dan dapat dirasakan oleh hidung.

Tugas saya cuma satu: untuk mengantarkan orang. Walau begitu, kadang ada banyak rintangan yang harus saya lewati saat melaksanakannya. Mulai dari spion-spion mobil mewah yang terkadang menggiurkan untuk dipatahkan, rambu dilarang berhenti yang terlalu besar untuk dilihat, atau lampu merah yang mendadak kehilangan warna. Sungguh, berat sekali hidup saya sebagai angkot. Sebatang kara, mencari sesuap bensin di Kota Besar. Dari percakapan orang-orang yang pernah hinggap dan kentut di jok saya, saya ikut merasakan pengalaman hidup mereka. Pengalaman mereka ternyata juga sama sulitnya seperti pengalaman saya.

Pernah ada seorang gadis bermuka jelek yang bercerita pada pacarnya bahwa ia sedang hamil sepuluh bulan. Pacarnya menangis, karena sepatunya yang putih seputih sabun mandi itu ternodai oleh lumpur Sidoarjo. Dan ia juga menangis membayangkan wajah bayi yang dikandung pacarnya.

Pernah ada juga seorang transvestit berdada rata yang bercerita pada sahabatnya, yang bukan seorang transvestit, bahwa ia bercita-cita ingin mendesain villanya sendiri, dan dia ingin villa itu berbentuk seperti telor ceplok. Saya tidak bisa membayangkan dada dengan bentuk telor ceplok, eh, maksud saya villa. Jadi villa yang bertelur dada, atau telur transvestit yang diceplok di atas villa?

Tapi kisah hari ini sungguh berbeda. Tidak ada gadis bermuka jelek, tidak ada transvestit, yang sebenarnya bermuka jelek juga. Mungkin di balik raut muka yang tidak sedap dipandang itu ada jutaan makna dan ribuan butir merica, tapi semua itu tidak ada korelasi dengan kisah saya hari ini.

Hari ini, adalah hari Kamis. Besok, adalah hari Jumat. Hari ini adalah Tahun Baru. Besok adalah hari Baru, di tahun yang lama. Jadi sampai kapan sebuah Tahun dianggap baru?

Hari ini, supir yang bertugas mengendaraiku keliling Bandung bernama Encok. Tapi supaya keren, ia minta dipanggil Cekon, maka akan kupanggil dia Cekon. Satuan Intenasional untuk Waktu, katanya.

Hari ini, penumpang cukup sepi. Entah karena langit berwarna biru atau aspal berwarna abu-abu dan bukan ungu violet coklat stroberi atau apa, tapi tidak banyak penumpang yang mengentutiku hari ini. Hanya ada satu yang berak. Hmm. Yang itu bohong.

Dua kaki itu menopang badan seorang remaja yang tidak jelas alat kelaminnya. Tentu, karena terhalang oleh celana! Ia bermuka rata. Ekspresinya hampa. Pakaiannya seperti manusia. Ia naik saat beberapa warga masih sibuk mengangkat bangkai motor dari pinggir jalan. Sedihnya nasib motor itu, sepertinya orang ini adalah tersangka yang menodainya. Apakah motor itu menjadi bangkai karena dinodai oleh orang ini? Jika iya, bagaimana cara menodainya? Seperkasa apakah orang ini sehingga motor bisa bertekuk lutut? Di manakah lutut motor?

Ia naik. Ia terguling dan terhempas dengan dahsyat ke lantai. Mengapa? Gaya kelembaman, teman. Rem diinjak secara mendadak oleh Cekon, entah karena alesan apa. Kakinya kram, sepertinya. Atau kakinya encok? Atau kakinya tremor? Atau kakinya ada dua?

Ia tidak bangun! Apakah ia mati? Jika ia mati, berarti ia tidak hidup, bukan tidak bangun. Tapi tubuhnya bergerak-gerak dengan dahsyat seperti kesurupan. Lalu mulutnya membuka lebar. Dan air liur menyembur dengan dahsyat ke seluruh penjuru. Berkat gravitasi, air liur itu kembali lagi. Begitu seterusnya, sampai seekor lalat (sejak kapan lalat berekor?) yang kepanasan ingin berenang di dalamnya. Saya tidak usah bercerita apa kelanjutannya, terka sendiri.

Keadaan mulai terkendali ketika saya dibelokkan paksa ke lobi sebuah mall. Dua kaki besar menyangga tubuh besar seorang besar yang berdada tidak rata, tapi sepertinya ia Pria. Wajahnya bingung, seperti Nabi Nuh ketika disuruh membuat bendungan. Pantas saja dunia pernah kiamat, sepertinya Nabi Nuh salah membaca buku manual. Lanjut. Pria berdada tidak rata ini hanya mengintip, memandang wajah Cekon dengan penuh nafsu.

“Mas…”

Cekon diam.

“Mang…”

“Pak…”

Pria berdada membuka pintu. Tapi pintu Angkot selalu terbuka.

Cekon terus diam.

Pria berdada naik. Angkot berjalan.

“Pak, tunggu! Saya mau ke Dago Asri. Argonya tolong dinyalain ya.”

Saya terdiam sambil berjalan.

Lalu di sebuah lampu merah yang bagi saya  tidak berwarna muncul seorang gadis entah dari mana. Untung kakinya menginjak tanah. Ia tampak memperhatikan tulisan yang ada di samping badan saya. Setelah sebelumnya melakukan hal terunik yang pernah saya lihat di dunia.

“Mas, ini Angkot kan?” si gadis bermuka satu itu bertanya.

Cekon diam. Karena gadis ini tidak bertanya padanya.

“Apah? Bukan atuh, neng. Saya mah orang biasa lagi naek motor, ini teh lagi nunggu anak saya yang ada di dalam, lagi les belajar.” seorang bokap-bokap beretnis kental sedang duduk di atas motornya, penuh dengan kebingungan dilanda sebuah pertanyaan yang telah mengubah hidupnya. Hm, ga juga sih kayanya.

Saya heran. Perasaan saya, si gadis aneh itu telah melihat nama yang tertera pada kulit saya, tapi kenapa dia masih tidak tau saya itu angkot ya? Oh iya, tulisan di kulit saya bukan ANGKOT. Tapi Angkutan Kota. Pantesan gadis itu bingung. Hm.

Gadis itu mendekat. Oh tidak, sepertinya dia berbahaya. Seperti musuh saya, si angkot jurusan Sabang-Merauke.

“Mbas?” Si gadis bingung itu bertanya pada Cekon. Memadukan panggilan Mba dan Mas.

“Ini angkot?”

Cekon terdiam sekali lagi. Lalu bersin dan langsung minum tulak angin. Hm bukan iklan.

“Hello? Is this eengkhoot?”

Pria berdada diam. Remaja tanpa kelamin masih sibuk menghangatkan lalat yang ada di mulutnya.

Roda saya masih empat. Saya bersyukur, belum berkurang satu. Sungguh tidak wajar sih, bagaimana bisa rodaku masih empat saat bumi masih berputar? Dunia memang terkadang tidak logis, tapi begitu pula gadis rimba makan pisang ini.

Gadis itu tidak mengenal angkot. Sebuah kendaraan perkasa beroda empat seperti saya, gadis itu tidak kenal. Padahal saya sering main film.

Saya sedih. Gadis itu masuk, lalu gadis itu duduk. Dengan wajahnya yang cengo, ia menengok kiri-kanan.

Pria berdada sepertinya sibuk dengan sebuah benda yang bentuknya aneh. Panjang, lebar, tebal, ringan, dan berkondom.

Tunggu.

Apakah itu?

“Pake Blackberry juga ya?” Sang gadis bertanya pada si pria berdada. Saya menguping pembicaraan mereka.

“Iya, tapi saya sebenarnya nggak suka. Saya pengen banting Curve ini. Kamu pake Curve juga? Bagus ya memang… keduanya.”

Saya terkejut. Selain berdada, pria itu juga baku, grogi, dan tidak jelas. Sebagai angkot yang jumawa berwibawa, saya tidak mengerti yang mereka bicarakan. Sepertinya tentang buah.

“Heh? Maaf ya, aku sih pake yang BOLD. Tebal. Dan kalau di Indonesia sih sekitar 8 jutaan harganya.” Gadis ini sombong, saya pikir. Angkot bisa berpikir, asyik ya. (pake Y)

“Oh em.. iya, saya sih yang Curve aja yang murahan seharga 4 jutaan doang… Kondom kamu lucu ya kelihatannya!”

“HAH! Aku? Pake kondom? Say what! Aku kan cewek!”

“Oooh… eeehm… maksud saya… Blackberrynya.”

“YA AMPUN IYA DONG! aku tuh punya warna baby blue, school bus yellow, asparagus, red blood (merah darah), lavender magenta, azure, ultra violet, sama warna tidak ada warna. Keren kan?” Kata si gadis ahli pelangi.

“Waduh, lengkap ya.. Saya jadi minder nih. Cuma punya warna putih, abu-abu, dark turquoise, deep carmine pink, dan electric black. Oya, Boleh minta pin-nya?”

“Ehm, pin ya? Hm.. 881190..??”

“HAHAHAHA! Eh.. maksud saya.. Wah kok pin-nya sedikit ya? Mungkin Bold beda sama Curve ya hahaha, ehm.” Saya tau pria berdada ini sedang menertawakan gadis yang berdada itu juga. Walau beda ukuran.

“Iya dong pastinya beda. Dari harga juga uda beda gitu. Beda. Banget.” Gadis itu menjawab dengan sok tau.

“Oh ya kenalan dulu, saya Bram.”

“Aku Kya. Kiara sih, tapi yaudalah Kya aja. Lebih asik aja kan? Iya dong. Eh, kenalan jaman sekarang kok cuma salaman? Hello! It’s soo… freaking last year. Sekarang tuh jamannya facebook tau! Nggak ngeadd, nggak asik.”

“E-mailnya apa? Boleh minta?”

“BABYGURL69@YAHOO.COM. Kamu?”

“HAHAHAHAHA! Eh maksud saya… oh baby gurl ya, sixty nine… yaya… bagus ya emailnya. E-mail saya sih ga sebagus kamu kya, cuma brambram@brimbrembrom.com”

“Hihi lucu juga e-mailnya. Tapi biasa aja deng.”

Saya sungguh bingung dengan setiap kata aneh yang mereka bicarakan. Saya, sebagai angkot, merasa ketinggalan zaman dan udah nggak fashionable. Saya malu. Apa itu e-mail? Ada stripnya… jangan-jangan jurusan angkot juga? E ke mail?

Aku menggeleng-gelengkan kepala (emang ada ya?). Tidak ada jurusan angkot e-mail. Saya tahu yakin, karena saya bukan tempe yakin.

Pandangan saya tertuju pada remaja tidak berkelamin. Seekor lalat tak berekor yang tadi ber-spa di linangan air liurnya sekarang ditemani dua buah ekor lalat tak berbuah ekor juga tak berekor buah. Saya bingung, sebenarnya lalat itu ekor atau buah? Buah atau ekor, buah berekor itu sekarang telah koit. Ah, seperti nama ikan saja.

Air liur remaja tak berkelamin telah merebus tiga ekor berbuah lalat tak berbuah ekor. Tapi aku tidak khawatir apa bila cairan laknat itu menetes sampai di lantaiku, karena aku adalah angkot perkasa.

Tapi aku tidak pernah memperkosa.

Pria berdada itu memelototkan matanya (kata apaan tuh?). Matanya sekarang melotot. Lalu ia menyipitkan matanya, dan matanya sekarang sipit. Lalu ia kembali memelototkan matanya, matanya memelotot, dan tiba-tiba, saya merasakan sebuah aura yang aneh. Gelambir-gelambir lemak di seluruh tubuh pria berdada tiba-tiba bergoyang gergaji.

Bibirnya mulai cerai. Maksudnya, bibirnya mulai membuka. Saya menekan tombol slow-motion. Perlahan demi perlahan, karena lagi slow-motion, mulutnya terbuka dan pita suaranya mulai bergetar. Mantra-mantra sakti mandraguna mulai diucapnya.

“Kkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk”

Persetan dengan slow-motion.

“Kanan!”

Apa katanya? Bakwan? Tekwan?

Saya hanya bercanda. Bagaimana mungkin saya tidak tahu apa yang ia katakan, saat saya sedang menulisnya di sini?

Ehem. Kanan, katanya? Dada berpria ini tingkah lakunya sungguh aneh. Untuk apa dada seorang pria, eh, seorang pria berdada, berkata ‘kanan’ di dalam sebuah angkot?

Tunggu, saya curiga. Mungkin itu adalah sebuah mantra sakti.

Jadi Dada itu selama ini bukan seorang wanita? Aku telah dibohongi sekian lama oleh sahabat-sahabat karibku. Aku benci mereka.

Tidak ada yang aneh. Rodaku masih empat, bulat-bulat seperti baso.

“Pak! Mas! Kang! Kanan!” Pria Berdada Bergoyang berteriak dengan begitu semangat sehingga mendadak saya kehilangan keseimbangan. Saya bukan truk pengangkut beras, bukan juga beras pengangkut truk, dan kehadiran pria ini sungguh mengganggu, juga ganggu ini menghadirkan pria sungguhan. (lho?)

“Eh… siapa tadi? Brom? Brem? Siapapun kamu deh. Kamu mau ngapain? Ada apa di kanan?” tanya sang wanita. Dadanya tidak bergoyang, berbeda dengan pria berdada.

“T…t…t… turun! Rumah! Ibu!”

“OH MY HOLY FREAKING GODDESS! It’s my home too, Bram! Eh bukan deng. Haha.”

“T… t… t… tapi gimana s… s… saya bisa turun! Saya mau pulang! Saya mau pulang!”

Saya juga mau pria berdada itu pulang. Kami berkeinginan sama, mungkinkah kami jodoh? Tapi, jangan sampai. Saya tak sampai hati. Saya sampai Dago.

“Wah! Kamu mau pulang? Ya udah, pulang aja! Jangan pergi-pergi.”

“BUKAN! SAYA MAU TURUN!”

“AH! TURUN! Aku juga mau. Tapi nanti. Haha. Sekarang mau BB-ing in da club dulu biar kaya 50 cent. Cie ile (gaya bicara taun 90an) gaul banget ya aku?”

“TOLOONG! TOLOONG! SAYA MAU TURUN!”

Pria berdada bergetar hebat, dadanya menampar semua hal yang ada di muka bumi ini. Tunggu, itu sih adegan di The Simpsons Movie. Maksud saya, dia mulai membenturkan benda panjang, lebar, tebal, ringan, dan berkondom yang sedari tadi ia pegang erat. Benda itu terus terbentur dengan parah!

“EEH! WHAT ARE YOU DOING WITH THAT FREAKIN’ BEE-BEE OF YOURS?” Ehem. Ratu singkatan.

“Oh, ini. Nggak, supaya dramatis aja. PAK! MAS! KANG! SAYA MAU TURUN!”

“Hmm. (annoyed). Eh, kebawa-bawa emoticons di Plurk nih! Anyway, coba deh panggilnya Mbas! Siapa tahu dia berkelamin ganda!”

“MBAS! TURUN! KANAN!”

Dan Cekon tidak bergeming. Ia tidak peka terhadap kata-kata lain selain… K… K… K….

“Kiri.”

Remaja tak berkelamin bangkit dari kematiannya. Air liur menderas dari mulutnya layaknya air terjun Niagara-gara! Eh, kalau saya nggak salah, itu kan wahana dufan? Ah dasar nih, kebanyakan chatting sama mikrolet Jakarta. (HAHA) Tiga lalat tak berdaya berjatuhan dengan kecepatan cepat (hmm redundan), menabrak lantai-lantaiku yang begitu Suci, layaknya sinetron di sebuah stasiun tivi.

Pria Dada dan Wanita Dada sama-sama terdiam. Melongo. Melotot. Menari. Menyanyi. Mari semua dansa denganku. Wah, Aura Kasih tiba-tiba muncul sebagai cameo.

Saya minggir, menabrak tiga motor, satu APV, satu ojeg, dan sejuta empat ratus pangkat tiga ratus lima belas debu-debu yang berterbangan. Cekon melakukan belokan mendadak, rem mendecit, saya beraksi drifting. Dan cerita ini pun berubah menjadi…

THE FAST AND THE FURIOUS: WHADDUP’ A!? (A for Angkot, not Agnezzzzz, or you can just call her NYEZ)

Sekali lagi, saya berbohong. Maaf, pembaca yang budiman, budiwati. Yang pasti, saya berhenti, jalanan terbelah oleh tongkat nabi Musa.

Pria berdada masih melongo. Wanita berdada sibuk mengobrol dengan Aura Kasih, tukeran PIN Blackberry. Lho, sejak kapan ada Aura Kasih?

“Kamu… Kamu… KAMU!” Pria berdada terus melotot hingga matanya akan keluar, seperti di film GERGAJI. (ehem) Tapi sayang, kacamata itu menahannya. Coba saja kalau tidak, tulisan ini pasti akan dapat rating R. Rasainlhomuntahmuntahnontonfilmpenuhdarah.

“Gue? Laki-laki.”

Akhirnya, pertanyaan itu terjawab juga. Dia wanita, tapi dia berbohong!

“Kamu pahlawan saya!” Pria Berdada memandang dengan penuh nafsu dan harapan dan kekaguman. Kenapa harus ada kata nafsu ya? Saya jadi agak-agak…

“PAHLAWAN BERTOPENG! DJDHUAR! DJDHUAR!”

Mendadak, remaja-wanita-tanpa-kelamin-yang-ngaku-laki-laki lupa daratan. (gimana cara lupanya?) Dia menendang-nendang dengan begitu bertenaga layaknya seorang mantan atlet Tae Kwon Do yang tiba-tiba beralih haluan menjadi desainer gadungan!

Saya kesakitan! Saya ternoda! Ternyata, malang nasib musuh saya, motor. Memang remaja ini yang menodai dia hingga jadi bangkai! Aku tidak mau ternoda dan jadi bangkai! Ampun DiJe! (jaman kapan, mas?)

“WHAT THE HEAL (PENYEMBUHAN)! Apa-apaan ini? Aku mau turun!” tiba-tiba sang wanita mendadak peduli, setelah Aura Kasih mengaku bahwa dirinya hanyalah imajinasi sang Angkot yang berlebihan. (kok bingung ya?)

“Dia, ternyata Pahlawan Bertopeng!”

Remaja-wanita-tanpa-kelamin-yang-ngaku-laki-laki (duh cape ngetiknya) terus-terusan menendang hingga dia terguling ke tanah. Pintu terbuka. (bukannya dari awal emang udah kebuka ya?) Kedua pasang dada menghambur keluar pintu.

“KIA! DIA PAHLAWAN SAYA!”

“Eh, apaan itu K-I-A? Mobil, hah? Nama aku tuh ya, harus pake Why!”

“Why Kia! DIA PAHLAWAN SAYA!”

“APAAN ITU WHY KIA? WAI. YE. Y. Igrek. (HAHA IGREK, MEK) Kaya temen aku yang gaul itu, Mymy! Eh bukan mi-mi bacanya! May may.”

“KYA! DIA PAHLAWAN SAYA!”

“Bukan! Gue… Satria. Add facebook gue ya, s@tr.ia.”

“KYA! DIA TERNYATA SATRIA BAJA HITAM! YA TUHAN, SAYA NGGAK PERNAH KELEWATAN SHOW ANDA DI INDONESIAR. MY FAFORIT HERO!”

“Eeew… faforit? FAVORITE kali! feiveritch pelafalannya!”

Dan saya terdiam. Menunggu untuk tahu namamu… Uoo… Lho, kerasukan roh-nya Angga Maliq.

Kenapa saya diam? Ada apa ini? Cekon! Injak gas-nya! Tekan! Ah, pas, bagian situ! Aww! Rrrr! Wuenakke Pol! Auuuh… auuuh…

Tapi dia berhenti lagi. ADA APA?

Dan Cekon bergerak, untuk pertama kalinya dalam cerita ini!

“Kalian, turun disini? Mana uangnya?”

Dan, seperti di anime-anime Jepang, dan lagu single Intan Nuraeni…

GUBRAK! -_-;

Mana es kelapanya? Saya haus!

kya suka singing, hm yaya!

Hari ini hari kamis yang menarik, dan semua ini Goni yang memulainya.

Goni (nama yang tidak wajar): “Eh kya, hobi lu apa sih?”

Kya: “Hobi aku nyanyi dong.” (pembicaraan tidak sinkron antara Goni dan Kya, dmana Kya pake aku-kamu, dan Goni pake gw-lu! HAHA)

Goni: “Knapa bisa suka nyanyi, Kya?”

Kya: “JADI GINI GON.. aku pengen cerita sedikit tentang hobi aku. hobi aku banyak banget sebenernya, salah satunya minum. Haha hm yaya naondeui. Ga deng, aku pengen cerita aja dikit tentang betapa aku sangat mencintai.. menyanyi! Yeah! Haha apaan sih sok-sok yeah.

Kadang aku suka heran loh Gon, ko bisa ya setiap mulut yang ada di dunia ini bisa mengeluarkan bunyi-bunyian yang berbeda, suara yang berbeda? Haha aneh banget! Dan anehnya kenapa kalo si F (haha knapa harus F?) nyanyi, dia suaranya bisa bagus, tp si T fales. Padahal mereka jurusan kuliahnya sama, hmm yaya ga nyambung. Tapi maksud aku, gila gila Tuhan memang gaul bangetlah bisa menciptakan kita kaya gini!

Nah, hobi aku kan nyanyi nih, Gon. Ya ga jago-jago amat sih.. cuma lumayan jago lah. HAHAHA SOMBONG GILA. Ga deng, tp ya insyaAllah suara aku ga kaya si F tadi. (haha padahal F hanya huruf belaka). Buat aku, nyanyi itu keharusan di setiap aku beraktivitas dan berkeringat! Hmm yaya haha! Hidup aku itu bak musical! Makanya aku juga suka banget nonton musical seperti Elementary School Musical 3, Junior High School Musical 3 (hm ngegaring mba? haha) walau ceritanya sampah juga haha tetep ZUKA-ZUKA. HM.

Contohnya nih kalo aku lagi di taman nih Gon, rasanya lgsg pengen nyanyi lagu PDA-nya John Legend..

“Let’s go to the park.. I wanna kiss you underneath the stars!” haha padahal ke tamannya siang-siang, ga ada bintang.

Terus eh, tiba2 ada kupu-kupu nih Gon! Langsung pengen nyanyi lagu Butterfly-nya JAZON MRAS. HAHA Jason mraz deng. (padahal isi lagu sama binatang kupu2nya ga nyambung haha)

Pokonya aku pengen nyanyi di setiap detik hidupku, haha edan berlebihan. Ga gitu juga sih Gon, tapi ngerti kan? Dan mulut aku tuh GATBANG (GATEL BANGET) kalo uda denger2 kata-kata yang memicu aku untuk bernyanyi, semacam kata-kata PERANGSANG haha. Contoh:

F (HAHA knapa F lagi): eh makan dimana nih?

U: terserah

Kya: Terserah.. kali ini.. sungguh aku takkan perduli.. ku tak sanggup lagi..

HM YAYA. Tapi beneran loh Gon, aku gatau knapa aku seperti ini. Apakah ini adalah suatu kelainan? Ga sih, ga mungkin aku kelainan, Gon. Kya kan gaul dan baru beli blackberry bold (HAHA SOMBONG DAN PAMER GIRL). Yaya, eh iya nih btw seneng banget baru dibeliin BB sama orang tua, Gon! Ciee BB maen singkat aja skarang mentang-mentang uda punya. Hehe. Oke balik lagi ke si hobi nyanyi itu ya Gon, sayangnya nyanyi itu susah. Banyak banget dah pantangannya!

Kadang aku harus tahan-tahan HASRAT dan NAFSU yang menggebu-gebu untuk SEKS haha BOONG DENG, Gon! Maksud aku makan gorengan! Padahal gorengan kan paling enak! Soalnya digoreng.. hm yaya. Haha, dan kalo misalnya abis makan gorengan atau makanan yg pedes-pedes, atau coklat, duh tenggorokan rasanya kaya ada AIR LIUR yang MENYANGKUT abadi terus ngekos di tenggorokan! Gila gila, terus kalo misalnya mau nyanyi jadi harus BATUK STYLE mulu yaitu ehem ehem sebelom nyanyi. Ga bagus, bener-bener jelek style. Ga suka suka. Haha yaya soksok perfeskionis. Eh perfeksionis haha salah ketik style. Haha apaan sih kebanyakan ‘style’ ya Gon?

Aku harus banyak minum air putih dan hindari air hitam (coca cola HMM YAYA HAHA), apalagi kalo uda ada lomba karoke antar.. antar teman? Haha, pokonya ga boleh SERAK STYLE kalo mau karoke! Kalo ga, aku bisa bisa ga ALL OUT dong? Oh my, seorang kya itu harus TOTALITAS dalam bernyanyi! Dan pasti semua menga-nga melihatku bernyanyi dan berdansa (haha dansa dimana neng? Ruang karoke juga kecil ada juga nabrak meja haha), karena aku adalah kya, si blackberry girl WOOO HAHA pis pis, kampungan nih Gon baru beli, make aja ga bisa haha.

Yaya, tapi walau banyak pantangannya aku tetap bernyanyi loh Gon! Tapi daritadi aku ngomong-ngomong ttg nyanyi, sebenernya ini cuma hobi aja ko. Jadi ga pernah tampil juga dimana-mana, HEHE berasa artis aja aku sok-sok berpendapat ttg menyanyi haha, nah kalopun sekarang ada gorengan di depan mata aku, HAJAR BLEH! HAHA ya aku pasti makan, Gon! Haha dasar aku si inkonsisten.”

Goni: “HUWAWWWW GILA GILA, KYA! Mentang-mentang uda mau taun baru langsung monolog ya! Hehe tuh kan gw aja sampe ga nyambung nih, gila lo! Eh eh.. Yaudah gimana kalo kita karoke aja yu skarang!”

Kya:” Ayo! Haha daritadi kek! Kan bentar lagi taun baru!” (Haha ga nyambung juga)

Begitulah dialog siang itu, dan abis itu aku lgsg karoke sama Goni. Seru lah ya, tapi aku rasa Goni rada-rada fales deh kalo uda sampe not Re tinggi, jadi suka ga masuk kalo duet, kaya waktu pas lagu Terpesona-nya Glenn Friendly (HM GHUARING) dan Audy. Suka bête (wets huruf e nya dibaca pake penekanan!) jadinya, haha tapi gpp ko, lumayanlah si Goni, bisa dibeli, dan bentar lagi taun baru jadi diampuni lah ya. Haha!

Beres karokean sama Goni, gataunya Goni ditelfon di tengah-tengah jalan lagu nganterin aku pulang, sama mamahnya! ternyata papahnya masuk rumah sakit! Kasian Goni, padahal kan sebentar lagi taun baru, pikirku (haha tetep ya pake ‘pikirku)’.

Tapi ga lama kemudian, aku yg harus dikasihani. Karena Goni begitu gugup, dan takut, eh dia malah NURUNIN AKU DI TENGAH JALAN!

ARGH! Dia nurunin seorang American Girl yang ber-Blackberry Bold di tengah-tengah jalan! Oh God, I’m in deep shit!

Haha, (ko masih bisa ketawa? Haha) aku dengan kebingungannya, merasa bak alien di film alien hm yaya, dan sayangnya aku masih gaptek sama Blackberry Bold yang ga bisa aku unlock ini HAHA jadi ga bisa hubungin siapa-siapa, sial! OH MY, aku KESASAR STYLE! Dan ini salah satu style yang aku ga suka! Huhu.

Lalu aku tiba-tiba inget kata-kata orang, kalo mereka suka naik sesuatu zat haha bukan zat sih, tapi alat transportasi yang namanya ANGKOT.

Hm, mana ya yang namanya angkot?

Kopi Tubruk.

Pernah nggak, kamu ngerasa bener-bener sendirian?

Walaupun kemarin malam semua orang sibuk meniup terompet, berdoa menuju tahun yang baru. Walaupun di tangan kamu, belasan PING, BUZZ, NUDGE, semua getar terus tanpa henti. Walaupun di sekitar kamu semua orang lagi ketawa-ketawa dengan lepasnya. Walaupun di sekitar kamu matahari lagi bersinar terang banget, suatu hal yang langka di musim hujan. Walaupun di depan kamu lagi ada gelas-gelas kopi yang katanya sih paling enak dan mahal.

Saya lagi kayak gitu.

Kedai kopi ini, Starbucks namanya, kata orang-orang sih masih jadi salah satu yang paling populer. Sekali kamu dateng, jalan di dalamnya, bakal ada bau kopi misterius yang tiba-tiba masuk ke hidung. Harusnya sih bau kopi ini bisa jadi stimulan, bikin orang ngerasa lebih tenang. Lebih rileks. Tapi entah kenapa, hari ini bau kopi itu nggak bekerja seperti semestinya. Saya emang bukan penggemar kopi. Saya cenderung benci kopi. Saya juga nggak terlalu suka minum-minum, karena saya sebenernya cuma suka makan. Tulisan saya yang sebelumnya juga udah bilang kayak gitu, kan?

Tapi kemarin malem ada sesuatu yang saya nggak sangka-sangka.

Ibu sibuk nyiapin Catering buat acara Tahun Baru-nya Pak Gubernur. Ayah sibuk, nggak tau ngapain. Saya nggak mau ngabisin taun baru dengan nonton acara konser-konser live dari Ancol, dong? Jadi saya, dengan terpaksa, ikut barbeque party di rumah salah satu teman sekolah. Dia emang baik banget, dan dia juga udah ngundang saya. Jadi ya… kenapa enggak?

Ternyata dugaan saya salah. Memang, makan enaknya nggak meleset. Tapi tamu yang hadir disana, wah, banyak banget! Salah satunya adalah segerombolan manusia-manusia yang saya kenal. Mereka satu kelas sama saya.

Manusia-manusia (saya nggak rela, manggil mereka teman!) yang kebetulan satu sekolah dan satu kelas sama saya, saat itu punya obrolan yang seru banget. Tipe-tipe obrolan yang bener-bener berani sekaligus bener-bener sombong. Mereka sibuk pamer, apa aja hal-hal “nakal” yang pernah mereka buat di tahun 2008 kemarin. Beberapa bilang soal nonton porno. Beberapa bilang soal (maaf) onani. Beberapa pamer soal batang-batang rokok yang pernah mereka hisap. Beberapa juga pamer soal berapa botol vodka yang bisa mereka habiskan dalam satu hari. Sampai, satu orang, yang nggak pernah saya suka seumur hidup saya, bicara kalau dia pernah (hampir) menghamili anak orang. Saya nggak relijius, tapi saat dia bilang itu, saya istighfar dalem hati.

Saya nggak tau siapa yang mulai iseng, tapi tiba-tiba kayaknya satu anak sadar kalau saya nguping dari tadi. Dia nanya sama saya.

“Bram, maneh pernah ngapain aja?”

Saya kan sebenarnya lagi (pura-pura) sibuk ngupas udang bakar bumbu bawang putih. Saya sempet nggak mau ngejawab. Tapi mereka manggil-manggil.

“Eh, apaan?”

“Maneh udah pernah ngapain aja? Ngocok? Nonton porno?”

Saya diam, masih istighfar. Saya bukan tipe orang yang bisa gampang banget cerita hal-hal privat kaya gini sama orang lain.

“Saya…”

Saya masih diem. Saya masih nggak tau apa yang harus saya bilang.

“Saya pernah minum tiga cangkir kopi, semalem.”

Saya balik muka.

Mereka diem.

Mereka ketawa. Tiba-tiba. Keras banget. Saya cuma bisa diem, diem, dan terus-terusan diem.

Saya masih nggak ngerti, kenapa mereka ketawa? Ada yang lucu? Kopi itu buat saya, sama berbahayanya sama alkohol. Kafein itu bisa jadi candu. Dan saya juga punya maag, jadi waktu itu saya emang ngerasa kalo saya udah salah. Saya ngelanggar.

“CUMA MINUM KOPI? ANJING CUPU LAH!”

Haha. Anjing. The Magic Word.

Siang ini, saya baru bangun setelah semaleman makan-makan. Saya sebenernya ada janji juga buat makan-makan tahun baru sama keluarga besar. Tapi saya nggak tahan, saya nggak mau ketemu lebih banyak orang lagi. Saya cuma butuh sendiri, nyoba buat ngejaga hati saya yang emang terlalu sensitif. Semua itu bercanda. Nggak ada yang serius. Tapi saya juga nggak ngerti, kenapa saya bisa sampe sesakit hati ini?

Saya masuk ke kedai kopi ini.

“Siang, pesan apa?”

“Cappucino, hot, tall. Caramel Macchiato, iced, venti. Toffee Nut Frappucino, grande.”

“Buat bertiga, mas?”

“Nggak kok, buat saya.”

Barista itu diem. Saya nggak peduli. Saya ngeluarin uang, bayar, nunggu, ngambil, duduk. Diem.

Saya jejer tiga gelas itu. Yang satu kecil, panas. Yang satu dingin, sedang. Yang satu dingin banget, gede lagi.

Tiga-tiganya kopi. Hal yang saya nggak suka. Hal yang bisa bikin maag saya kambuh.

Saya mulai minum cappucino saya. Pahit. Panas, lagi. Lidah saya melepuh. Saya nyoba bikin dingin, pake Macchiato. Tapi lidah saya malah jadi perih. Saya nggak peduli. Saya abisin Macchiato itu, nggak pake sedotan, tapi saya teguk langsung. Ternyata kopi ini nggak enak. Semua orang mengagumi, tapi sebenernya nggak enak! Saya bisa, bikin ginian di rumah. Tinggal minta ibu bantu bikin caramelnya aja. Terus gelas-gelas ini saya bawa pulang, saya isi pake kopi buatan sendiri. Buat saya, kopi-kopi ini mahal di logo doang!

Saya lanjutin minum Frappucinonya. Sama, nggak enak. Whipped creamnya bikin eneg. Rasa toffeenya emang kerasa, tapi saya lebih suka makan Ting-Ting tradisional aja, lebih enak. Lama-lama yang kerasa cuma es. Es batu diblender.

Saya makin ngerasa panas. Sedih. Orang-orang sekitar minum sedikit-sedikit, seolah minuman di tangan mereka itu emas kayaknya. Banyak yang sibuk sama laptop. Ada yang sibuk ngobrol. Di ujung, ada yang pegangan tangan, hampir ciuman.

Saya berusaha buat ngerasa sakit aja sekalian. Saya minum lagi Cappucinonya, belum dingin. Belum selesai gigi saya adaptasi sama es batu blender tadi, saya harus nerima kopi panas ini. Saya pusing. Saya lari ke kamar mandi.

Saya muntah.

Saya nggak segera malu, atau balik, atau gimana. Saya balik duduk lagi, sambil liat-liat pemandangan di luar. Yang ternyata, masih dibatasi kaca. Kaca.

Saya mulai pelan-pelan mikir. Drinkilosophy?

Ternyata saya selama ini udah jadi deretan kopi Starbucks. Saya nggak ada apa-apanya. Rasa, nggak mantep. Nahan ngantuk juga ga ampuh. Tapi kopi keparat ini ngerasa punya label, merek. Maka itu dia bisa memahalkan diri. Akhirnya kopi ini cuma bisa terkurung di ruangan kaca berpendingin di mall-mall. Diminum sama orang-orang yang emang cuma pengen keliatan gaya doang, mungkin banyak malah yang ga suka kopi.

Sekarang dimana esensi kopi yang asli? Nemenin bapak-bapak yang lagi ngeronda di pos kamling. Nemenin mahasiswa kos-kosan yang lagi sibuk ngerjain skripsi. Nemenin muda mudi yang mau pacaran semaleman. Apa mereka minum Starbucks? Nggak. Mereka cuma minum kopi tubruk.

Saya juga ternyata udah terlalu ngebentengin diri. Saya ngerasa beda, ngerasa bisa segalanya, cuma karena Ibu saya mampu ngisi dompet saya pake lembar-lembar uang. Saya udah nggak mau gerak ke mana-mana. Tinggal di zona nyaman saya, dimana segala sesuatunya udah ada tanpa diminta. Karena itu, saya mana mungkin membangkang? Saya harus membahagiakan orang tua, karena mereka udah membahagiakan saya. Saya harus balas budi dong, jadi anak baik. Kalau saya jadi anak baik, nanti saya dikasih makan yang enak-enak. Inilah saya, si kopi mahal. Rich spoiled brat. Bikinnya susah, pake susu mahal, krim mahal, coffee maker mahal. Minumnya diirit-irit. Netes dikit aja ngejerit.

Kapan saya bisa jadi kopi tubruk? Yang siap ada di dunia nyata. Bikinnya juga cuma butuh air panas sama kopi bubuk, kopi instan juga jadi. Nggak usah coffee maker, langsung dikocek pake sendok juga bisa tuh. Dan kalau tumpah, yang minum ga usah sedih, tinggal bikin lagi toh?

Ah, udahlah! Ini ngawur. Ini ngelantur. Salah saya juga sih, ngejadiin buku Filosofi Kopi-nya Dee sebagai salah satu kitab selain Al-Qur’an.

Saya mulai pengen pelan-pelan ngebanting telepon sialan ini, asli. Eh, salah, orang-orang bilang ini Blackberry. Telepon ini terus-terusan geter. Incoming calls, sms, ping, buzz, nudge, semua jenis messenger. Yang ngasih pesan bukan siapa-siapa, cuma Ibu. Pasti sambil masak di rumah buat makan siang dia juga sibuk main Blackberry, update status Facebook dia sambil ngintip Wall anaknya, sekaligus chat buat ngucapin “Happy New Year 2009!” sama semua pelanggannya. Dia pengen saya pulang, karena kakek nenek udah sampai di rumah. Makanan juga udah siap. Tapi saya nggak peduli.

Saya pengen bebas, lepas. Belok sedikit dari jalur yang udah susah-susah diaspal sama kedua orang tua saya.

Saya telepon supir saya, bilang supaya dia pulang aja. Saya pengen nyoba sesuatu yang baru. Naik angkot! Hal yang selalu dilarang oleh kedua orangtua saya dengan alasan-alasan yang nggak pasti. Saya pengen jadi kopi tubruk! Saya pengen jadi nakal. Saya pengen, pas ditanya sama temen-temen, saya nggak cuma alesan pernah minum kopi lagi. Saya udah kebal sama kopi! Saya bisa bilang…

Kalau saya, pernah naik angkot.

Yang masih gundah gulana,
Bramarartha.

Pantatku Bergetar di Atas Motar (maksa)

Gue biasanya naik sepeda. Sepeda gue nggak pake shock absorber, jadi wajarlah kalau pantat gue gonjat-genjot bergejolak ria bersama jalanan Bandung yang dahsyat menggoyang.

Suatu hari, gue mencoba menaiki motor. Sungguh sebuah sensasi yang berbeda. Stangnya sama-sama untuk dua tangan, rodanya sama-sama dua, tapi ada perbedaan hakiki di antara dua kendaraan itu.

Motor ada mesinnya. Sungguh luar biasa, sebuah kendaraan beroda dua bisa bergerak tanpa dikayuh dengan kaki.

Gue duduk di atas jok. Gue memegang stang.

Tapi motor tidak mau maju. Sepertinya ia marah kepadaku. Sepertinya aku telah selingkuh. Sepertinya warna-warni dunia seakan memudar dari memori dan emosi.

Oh, betapa kelabunya dunia karena motor. Memakai kacamata biru pun masih terasa kelabu. Tapi karena pakai kacamata biru, jadinya kelabiru.

Bukan kelabang. Kelabang itu kelabu banget.

Kembali kepada motor, aku rasa motor itu judes. Mungkin motor itu sedang dapet, atau bentar lagi bakal dapet. Kalau bentar lagi dapet, biasanya kan motor suka PMS gitu, mungkin motor ini juga.

Oh, motor, maafkan aku.

Lalu datang seorang gold-gold (mas-mas HMMM) dan memberikanku kunci.

Apa itu kunci, aku tak mengerti. Aku sudah benar-benar tak bisa lepas dari perihal nisbi, hingga aku tak mengerti fungsi sebiji kunci.

Tapi kunci itu tidak ada bijinya. Tapi biji tak ada biji, si mas memasukkannya ke dalam sebuah lubang yang sepertinya untuk dimasukkan kunci, lalu…

Motor masih belum bergerak. Hatiku masih gundah. Tapi tidak gulana, melainkan gulaka, karena aku tidak mau mengiklan.

Lalu si mas melakukan sebuah ritual sakral.

Kuncinya diputar, dan…

Motor masih belum menyala.

Apa salahku, wahai motor?

Lalu si mas sakti kembali melakukan upacara ritualnya. Sebuah tombol dipencet dan tiba-tiba kurasakan sebuah aura mistis di sekitarku.

Saudara-saudara, motor telah menyala. Aku bersyukur pada Tuhan dan berterima kasih kepada si mas.

Lalu aku keliling kota menaiki motor. Aku tidak suka lambat, maka aku mengebut.

Lalu kurasakan sebuah perasaan yang amat aneh menggelora. Pantatku merasakan getaran yang begitu dahsyat! Pantatku jadi terasa gatal!

Maka aku pun berpikir keras, mencari solusi. Jika aku melepaskan satu tanganku dan berusaha menggaruk pantatku, maka itu akan bahaya. Aku tidak mau mati bagaikan kucing yang jatoh dari motor. Sungguh nista dina hina. Tapi dina tidak hina, mungkin nista.

Maka aku berpikir lebih keras. Tapi pikiranku terganggu oleh kegatalan pantat yang begitu merasuk!

Oh, apa yang harus aku lakukan?

Aku tak tahan lagi. Aku menepi, motor berhenti. Oh, ajaib! Pantatku tidak gatal lagi!

Aku pikir penyakitku sudah sembuh, maka aku kembali mengebut.

Tapi aku salah besar. Pantatku kembali gatar. Pasti ada yang salah dengan pantatku, atau dengan motor yang kupantati. Atau dengan pantat yang kumotori. Atau motor ini punya pantat? Atau pantatku punya motor?

Oh, betapa memusingkannya dunia. Dan betapa mengganggunya rasa gatal di pantatku.

Maka aku semakin mengebut! Tapi pantatku hanya semakin gatal!

Aku sudah tidak tahan lagi. Aku tak mau berhenti, aku hanya mau berlari, berlari, dan terus berlari, mencari solusi untuk pantatku ini.

Tapi rasa gatal itu semakin meradang. Seperti radang tenggorokan, tapi di pantat, tapi bukan radang pantat. Jangan sampai membuatku berpikir bagaimana rasanya radang pantat.

Akhirnya, aku menyerah pada takdir. Aku sudah tidak kuat, aku lepaskan motor itu dan loncat seperti ninja ke belakang, sambil salto sembilan kali.

Aku jatuh bagaikan balerina.

Motor menabrak pohon palem dan meledak bagaikan bom atom dengan harum seperti pohon pinus.

Dan pantatku tidak lagi gatal.

Aku begitu bahagia.

Sekarang aku tak bermotor, dan tak berpantat. Eh, tak berpantat gatal, maksudku. Atau tak bergatal pantat?

Ya sudah, sebuah angkot lewat, memanggil-manggil pantatku.

Atau lebih tepatnya, pantatku memanggil-manggil angkot, mencari sensasi baru.

Sebuah angkot, warnanya hijau.