Monthly Archives: December 2009

Gagal.

Katanya sih semua orang pernah gagal. Katanya Edison aja gagal seribu kali dulu, sebelum lampu temuan dia nyala dan menerangi rumah-rumah kita semua. Di awal Ibu bikin katering, pernah Ibu dilemparin makanan masakannya sendiri dan diteriakin “Katering Gagal!” sama pengantin perempuan yang masih pake baju kebaya, cuma gara-gara ibu lupa bahwa si pengantin perempuan itu alergi MSG. Semua orang pernah gagal. Tapi kenapa ya? Pas saya sendiri yang ngalamin kegagalan itu, rasanya jauh berbeda dari apa yang semua orang omongin selama ini?

Hampir delapan bulan saya menghilang dari dunia internet. Empat bulan pertama sih masih jelas ya, belajar. Belajar, belajar, dan belajar. Buat Ujian Nasional, Ujian Sekolah, Ujian Praktek, dan sebagainya. Nah, empat bulan sisanya kemana aja Bram? Oh, itu sih saya lagi meratapi kegagalan sendiri.

Di sekolah saya nggak pernah tuh jadi yang terbodoh. Nggak pernah. Seenggak-enggaknya sih saya masih bisa ada di 50 besar. Guru saya selalu menjamin kok, kalau yang masuk 50 besar pasti bisa masuk SMA-SMA di papan atas. SMA yang kabarnya sih menjamin masa depan yang lebih baik, yang membuat masuk universitas makin gampang, yang ekskulnya ada sepuluh ribu macam, yang ada kolam renangnya. Semuanya deh! Sementara kalau udah ngomongin SMA papan bawah, hmmm, guru saya cuma bilang, “Siap-siap aja cuma bisa jadi waiter.” Oke, bu.

Mungkin kalau saya nggak belajar, kegagalan saya nggak akan sepahit ini. Mungkin kalau saya nggak pernah masuk sekolah 2 bulan buat mabok-mabokan (kaya temen saya yang itu, yang sekarang ada di SMA 126 – peringkat 3 lho!), saya bakal maklum kalau nilai saya rendah. Tapi sayangnya minum alkohol aja saya belum pernah, dan setiap malam saya belajar sebisa saya. IQ saya memang nggak brilian, tapi saya yakin, saya nggak sebodoh itu kok.

Semua cuma salah takdir.

Hari Sabtu terakhir sebelum Ujian Nasional saya maksain tetep pergi ke bimbel. Waktu itu sih buat ngelengkapin materi ini-itu yang belum mantep. Saya ingat banget, tiba-tiba nggak tahu kenapa hari itu hujan. Padahal April nggak musimnya hujan. Singkat cerita, saya kehujanan, masuk mobil, kena AC, daya tahan tubuh lagi lemah, ujungnya sakit. Flu.

Malamnya badan saya panas. Sampai besoknya,H-1 Ujian Nasional. Ibu dan Ayah bingung mencarikan obat kesana kemari. Saya baikan, dan terus baikan. Tetapi memang takdir yang menggariskan, kayaknya. Pagi-pagi hari pertama Ujian Nasional saya tumbang lagi. Tapi hari itu saya tetep pengen maksa ke sekolah. Dan saya ngerjain Bahasa Indonesia waktu itu cuma seadanya aja. Bayangin, gimana kamu mau mikir kalau ingus kamu ngga berhenti-berhentinya keluar dan kepala kamu pening setengah mati?

Hari kedua dan ketiga, saya udah lebih baikan waktu itu. Matematika cukup lancar! Bahasa Inggris sih boleh lah. Pokoknya saya seneng banget sama dua hari pertengahan itu. Tapi saya sakit hati sama hari terakhir.

Malam Rabu, Ibu masak Rendang buat pesta syukuran pindahan tetangga dari Padang. Saya sebenernya udah dilarang sama Ibu buat nyoba rasanya, karena kata Ibu yang satu itu dibuat pedes banget sesuai pesanan. Tapi namanya udah jatuh cinta sama makanan buatan Ibu, saya malah makan Rendang itu sebagai menu makan malam. Pake nasi. Komplit. Banyak. Dan Kamis paginya saya nggak bisa berhenti bolak-balik ke kamar mandi. Ibu sama Ayah nggak ngizinin saya pergi ke sekolah, karena mereka takut saya nggak bisa konsen lagi kayak hari Senin. Akhirnya saya dikurung di rumah dan dimarahi habis-habisan. Saya cuma bisa nangis dan nyesel. Nyesel setengah mati.

Singkat kata, waktu susulan tiba satu minggu kemudian. Saya dateng ke tempat susulan yang adanya di sekolah lain, dan saya bener-bener kaget ketika hampir semua anak di tempat itu sudah siap dengan kunci jawaban dan contekan yang selengkap mungkin. Mental saya drop. Saya nggak sangka kalau ternyata selama satu minggu ini kunci sudah beredar dan bisa dipergunakan begitu saja. Saya kehilangan semua konsentrasi saya untuk menghitung, bahkan sesimpel buat nginget taksonomi di Biologi sekalipun saya lupa. Yang ada kaget dan blank. Blank.

Ketika amplop hasil saya buka dua bulan kemudian, saya hampir aja pingsan ngeliat hasil yang dicetak di kertas itu. Dua pelajaran saya lulus gemilang. Matematika saya 10, dan Bahasa Inggris saya 9,6. Tapi Bahasa Indonesia saya cuma 75, dan IPA saya 70. 34,1.

Apa yang mau saya jual dengan 34,1? Perjuangan saya masuk sekolah cluster paling bawah saja sulit setengah mati. Asal kamu tahu, SMA 369 yang merupakan peringkat pertama, mematok nilai 38,4 sebagai standar masuknya. Luar biasa, bukan? Rata-rata kita harus minimal 9,6! Saya sendiri masih nggak ngerti sama anak-anak yang bisa masuk sana. Mereka kayanya beneran udah transformasi total jadi robot deh.

Dan kalau kamu sekarang tanya saya sekolah di mana, saya nggak akan sudi buat jawab. Keadaan saya di sini jauh lebih menyedihkan daripada di SMP dulu. Mana ada anak sekolah ini yang ngerti kuliner? Yang bisa di ajak makan Sushi bareng? Bikin facebook aja namanya Aquwhgalaukrnaditinggalscmmaqmmu Cheulamalamanya gitu kok? 

Semua ini, semua kegagalan ini, cuma karena hujan dan rendang. Hal sepele yang kita semua bisa temuin sehari-hari kan? Kalau aja waktu Sabtu itu saya nggak bimbel, atau saya bawa payung, atau nggak hujan, atau saya nggak nyetel AC, mungkin Bahasa Indonesia saya bisa di atas 9! Dan kalau aja Rabu itu saya nggak makan Rendang seperti apa kata Ibu, atau kalau aja Rendang Ibu nggak usah terlalu pedes kaya biasanya, pasti IPA saya bagus. Saya yakin.

Dan kalau aja, anak-anak yang selalu ada di peringkat bawah itu nggak semena-mena pake kunci jawaban…

Katanya semester depan, alias satu bulan lagi, saya mau dipindah ke SMA 369. Biar nggak jadi aib keluarga, alesannya. Mungkin Ayah juga sadar kalau sekolah-sekolah papan bawah cuma bisa ngejanjiin profesi waiter, sampe mereka harus bayar sejumlah uang yang lumayan besar untuk beli kursi. Kalau boleh jujur sih saya malu banget cerita soal ini di sini. Tapi rasanya sekarang urat malu saya udah putus. Sama seperti urat malu orang-orang lain.

Temen-temen saya dulu bangga banget kalau bisa dapet bocoran. Atau kunci. Atau beli soal. Atau yang lebih seru lagi, beli kursi! Jadi mereka sih nggak usah mikir. Pokoknya nggak tau gimana nilai bisa berubah aja. Semua hal yang ada di dunia ini bisa dibeli, motto mereka. Oke, sekolah emang bisa dibeli. Kursi bisa dibeli. Prestise bisa dibeli.

Mungkin kalau sebenarnya mereka bodoh, mereka bisa aja terus-terusan beli nilai di sekolah-sekolah bagus itu. Lalu beli knci Ujian Nasional lagi supaya lulus. Lalu nanti di ujian Universitas mereka bisa beli kursi lagi, dan tinggal pilih fakultas yang mereka suka. Dan mereka bisa membeli nilai-nilai A lagi dari dosen mereka. Terakhir, mereka bisa lobi-lobi ke perusahaan relasi dan tinggal beli posisi buat kerja. Enak banget ya, orang-orang kaya mereka?

Tapi apakah Tuhan mereka bisa mereka beli juga, sehingga semua perbuatan mereka itu nggak dianggep dosa?

Yang kecewa, dan akan terus kecewa,
Bramarartha. 

Hey, I’m back..

Hey! It’s me Kya. Asiik, uda kaya pembawa acara aja nih. Hehe, akhirnya aku kembali menulis. Entah ada angin apa, yang jelas bukan angin dubur. Hem apa sih, garing BUHUHUAAANGET deh. (haha tetep ya?) Ya, aku belum berubah sedikitpun. Masih tetep Kya yang sama, eh ada yang beda sih, blackberry aku rusak. Dan sekarang blackberry udah bukan barang ekslusif lagi, udah jadi pasaran. Lebih pasaran dari blackcherry dan blueberry (merek merek cina sialan, jago juga mereka niru!).

Hm.. Malem ini aku ga ada niat buat nulis tentang sesuatu yang melucu atau bahagia sebenarnya. Aku mau menulis tentang apa yang terjadi selama aku vakum menulis.

*

Kenapa Tuhan menciptakan agama? Dari dulu sampai sekarang, aku ga pernah bisa berhenti mikirin dan bertanya tentang pertanyaan ini. Mungkin pertanyaan ini ga penting buat kalian yang ga punya masalah yang berhubungan langsung dengan agama. Mungkin pertanyaan ini kedengerannya nakal atau sompral atau apalah, terserah lo pada. (wets marah gaul) Tapi buat aku, pertanyaan ini begitu penting, mendalam, menusuk, membuat kadang kalbu terpecah pecah menyadari bahwa jawaban atas ini malah membuat hati semakin pilu. Aku dibuat semakin bingung dengan eksistensi agama di dunia ini.

*

Semua berawal ketika aku jatuh cina. EH? HAHA SALAH NULIS. Jatuh cinta maksudnya! Haha, ya aku jatuh cinta. Tapi ini lah yang membuat aku sempat hilang untuk 20 juta ribu tahun lamanya, menghilang bersama dinosaurus-dinosaurus yang sudah punah, menghilang bersama mereka di sebuah dimensi yang bisa kamu bilang lampau, tapi buat aku, tak terjangkau. Aku hilang bersama euforia yang membuat aku merasa hidup ini lebih berarti dibandingkan dengan kepuasan yang diberikan oleh uang dan barang-barang high tech yang orang tuaku bisa berikan. Kehebohan twitter, plurk, facebook, ataupun formspring yang baru saja menggelegar dunia maya pun tidak membuatku sedikitpun menolehkan leher untuk melirik. Aku terlalu tenggelam dalam dimensi yang walaupun jijik buat diutarakan, dimensi cinta.

Tidak ada yang lebih indah dari jatuh cinta. Mencintai dan dicintai, sebuah simbiosa yang tak tergantikan. Ketika matanya memandang mata aku, mengalirkan sebuah getaran ketulusan yang hanya bisa dirasakan detik itu, hanya detik itu. Kita berdua merasa, dirasa, terasa. Semua terasa begitu mengambang, waktu hilang, tak ada pikiran untuk mengingat hitungan terbilang. Ketika kita berdua mendengarkan lagu Senyum dari Selatan-nya Sore, dan sama sama terbawa oleh imajinasi liar. Imajinasi yang berujung pada sebuah sintesa perasaan dari kedua belah pihak yang membawa kegaduhan nada menjadi sebuah kesunyian hati tak terbelah. Ketika kita saling tersenyum, saling memandang tanpa memikirkan masa lalu, kemarin, 2 detik yang lalu atau apapun. Ketika apa yang kita rasakan adalah saat itu, hanya detik itu, dan keseluruhan saat dalam dimensi itu membuat kita meneteskan air mata bahagia yang entah darimana datangnya, kita pun tak memikirkan asal muasal daripadanya.

Aku jatuh cinta, bukan cina. (kali ini bener) Mungkin bukan untuk pertama kalinya, tapi sebenernya kalau boleh jujur. Setiap perasaan cinta akan selalu terasa seperti yang pertama? Aneh, aku juga gatau kenapa. Tapi, aku tau cinta selalu memberikan sensasi sensasi baru yang manusia kejar semasa hidupnya. Namun kali ini sensasinya berupa paradoks yang tak terelakkan. Aku jadi heran, kenapa harus ada sedih ketika kita bisa bahagia? Kenapa harus ada perbedaan ketika kita bisa sama? Kenapa harus ada agama sebagai pembatas cinta ketika kita semua adalah sama, manusia?

Menurut aku, perbedaan agama bukan sebuah permasalahan. Namun memikirkan tentang halangan dan rintangan yang akan datang di hari nanti, membuat setiap memori dan kenangan indah itu fana, palsu, tidak berguna. Terkadang dia hanya tersenyum, dia melihatku menangis meneteskan air mata paradoksal. Dia bertanya, “you love me that much? that’s so sweet.” Padahal air mata itu adalah lambang kecemasanku, ketakutanku. Adalah sesuatu yang wajar bukan untuk cemas? Sesuatu yang manusiawi untuk takut?

Tetapi kenapa harus takut dengan pandangan orang lain? Aku udah nonton film Cin(t)a, dan film cin(T)a, dua duanya film indie yang menggambarkan begitu pahitnya pandangan masyarakat indonesia (terutama yang kolot) terhadap pernikahan dua insan yang berbeda agama. Aku jelas ga punya pandangan kaya gini, tapi aku ga bisa mengelak kalau orang tua dan keluarga akan selalu berperan dalam kisah kali ini. Di sinetron hidup aku yang udah jauh lebih dramatis tanpa efek bibir merah membara, make up norak, dan efek zoom in zoom out. Kenapa karena padangan orang tua yang didasari oleh asupan dogmatis, aku ga bisa menikah dengan orang yang beda agama? Karena aku perempuan islam, aku jadi ga bisa menikah dengan laki laki non-islam? Karena dia ga bisa jadi imam bagi keluarga aku? Apa ga terlalu menghakimi pendapat seperti itu? Itu bahkan bukan pendapat, itu diimani oleh dua puluh juta ribu umat Islam di dunia ini dan dijadikan pedoman hidup mereka.

Aku ga pernah mau nyalahin siapa siapa, agama, ataupun ajaran apapun di dunia. Aku cuma bertanya. Karena pertanyaan ini lumayan menyakitkan ketika mendengar jawaban dari mereka yang seharusnya menjawab. Mungkin banyak orang di luar sana yang ga peduli, aku juga ga peduli. Tapi kesedihan ini sering muncul, ketika puncak kebahagiaan itu datang. Perasaan itu, sering harus aku tutup tutupi. Dengan tersenyum, atau tertawa. Dimana ga ada yang tau kalau sebenarnya ada perasaan sakit yang menetap, memandang kecemasan yang tak kunjung hilang. Pengen rasanya mengumpat, marah-marah, teriak sekeras-kerasnya di mobil sampe kaca pecah kalau bisa! Tapi, di mobil lah aku pernah merasakan kebahagiaan yang tak tergantikan. Ketika alunan lagu lagu Sore malam itu terasa jauh lebih bermakna karena adanya kehadiran seseorang yang aku cari selama ini. Kesedihan dan kesenangan dalam suatu titik yang sama. Bingung, hancur, ga bisa berkata apa apa, sampai aku lelah buat bertanya.

Tetapi, malam ini, aku ga bakal lagi nanya. Aku bakal berhenti bertanya.

Karena tidak ada agama yang bisa membedakan manusia satu dengan lainnya.

Dan karena aku sadar bahwa bentuk cinta yang paling murni, adalah Tuhan.

Tuhan tidak akan pernah memisahkan hamba-Nya yang saling mencinta.

Tuhan aja ga bisa, apalagi pandangan manusia lain.

Selamat tengah malam.

Love,

Kyalau (Kya Galau haha)