Benang Merah

Aing adalah seekor benang. Tapi sejak kapan benang punya ekor? Aing nggak tahu, aing nggak tempe. Aing nggak peduli, aing nggak pengen boker. Pokoknya, aing adalah seekor benang… warna aing merah gitu? Tahu dari mana, aing benang warna merah? Aing nggak mau ngarang, tapi aing mau ngaku aing berwarna merah. Muahahaha.

Aing benang, dan aing dipaksa buat nulis. Buat nulis apa, aing juga nggak tahu. Tiba-tiba ada sapi jatuh dari langit, sayapnya warna merah menyala. Sapi itu matanya bundar, kulitnya putih. Sepertinya sapi itu seorang kaukasia.

Tapi, sapi itu tidak ada hubungannya dengan cerita ini. Lho, emang ini adalah cerita? Ya, wahai domba yang tersesat, ini adalah sebuah cerita.

Sebuah cerita tentang asa kita berdua. Eh, salah. Itu mah lagu.

Ini, bukan itu, adalah sebuah kisah tentang tiga manusia yang bernama Satria, Bramara, dan Kiara. Huruf nama terakhir mereka bertiga memang sama, A, tapi itu hanya formalitas belaka.

Tapi bukan. Ini bukan sebuah kisah.

Ini adalah tiga buah kisah. Tiga buah kehidupan, tiga buah otak kinclong ciptaan Yang Mahakuasa, yang menulis kisah hidup mereka masing-masing.

Lalu mereka bertemu, dan mereka bersatu, oleh satu benang merah.

Nah, itu aing. Aing si benang merah itu. Keren kan, Aing?

Sapi kaukasia menggonggong, kafilah berlalu. Mari kita memberi nama sapi itu. Namanya… Sapy. Sungguh lucu dan imut, bukan? Oh sudah barang tentu begitu, pasalnya ada huruf Y. Y adalah segalanya,  bukan Z.

Karena Y bukan Z, wahai domba yang tersesat, maka selamat membaca.

Sebuah benang, di matamu mungkin hanya sebuah benang. Sebuah benang yang tidak akan berharga jika dibiarkan tergeletak sendirian. Tipis, rapuh, tak berarti. Ada benang yang nantinya akan menjadi lembar-lembar kain, yang akan menjahitnya menjadi pakaian. Ada benang untuk mengikat hal-hal yang terlepas sebelumnya. Ada benang-benang lain, yang penting, yang tidak penting, yang mungkin keberadaannya tidak kamu sadari.

Tapi aku… berbeda. Aku bukan benang biasa. Aku adalah benang yang tidak akan kamu lihat keberadaannya, tapi kamu mengetahuinya. Semua orang menyebut-nyebut namaku, mengagung-agungkannya sebagai sebuah hadiah dari Sang Takdir. Aku adalah benang yang sudah tertempel di tubuhmu masing-masing, dengan berbagai ujung yang melekat dengan banyak orang-orang lainnya.

Aku adalah benang merah.

Walaupun aku tidak yakin tubuhku berwarna merah, setidaknya orang-orang mempercayainya sebagai itu. Aku adalah perlambang dari sebuah persamaan. Terkadang, aku dijadikan alasan untuk saling menyamakan. Tapi aku adalah aku, dan aku bekerja sesuai dengan kemauanku. Aku bisa mengikatmu dengan orang yang ribuan kilomoter jauhnya darimu, atau mungkin dengan orang yang selalu kau lihat tiap hari, tapi kau tidak menyadarinya. Aku mempertemukan, aku memperkenalkan. Aku menyatukan berbagai hati dan pikiran.

Tapi seperti halnya semua hal yang ada di dunia ini, pasti memiliki sebuah akhir dan awal. Aku bisa saja putus, diputuskan, atau memutuskan diri. Aku tidaklah kekal. Karena kembali ke hakikatku sebagai benang, aku memang tipis dan rapuh. Aku bisa terlepas disaat-saat yang tak terduga, disaat kau menyangka bahwa semuanya akan berjalan sempurna, selamanya.

Kali ini, aku akan berkisah tentang tiga anak manusia. Tiga manusia yang masih selalu mencari hal-hal tentang kehidupan. Mencari makna dalam kejadian. Mencari arti dalam perbuatan. Mereka juga mencari pelengkap jiwa yang terkadang masih hilang, dan tugasku, adalah mempersatukannya.

Kamu tidak sadar, mungkin separuh dari jiwamu akan ditemukan dalam bentuk yang paling sederhana. Bukanlah kekasih yang memberimu setaman mawar tiap hari. Bukan ibu yang mengecup lembut keningmu tiap mau tidur. Bukan anakmu yang selalu kau peluk manja. Tapi bisa saja, jiwa-jiwa itu hadir dalam bentuk manusia yang tidak pernah kamu duga. Hidup ini memang dikendalikan oleh permainan takdir yang licik.

Ketiga orang yang akan saya pertemukan ini tidak pernah tahu bahwa mereka bisa bersatu. Takdir akan selalu mempersatukan mereka dalam kejadian-kejadian yang tak pernah mereka duga. Tempat-tempat yang tak pernah mereka bayangkan.

Kiara Caesaria, gadis Amerika yang sedang mencari jati dirinya.  Satria Adi, yang berkonflik dengan keabsurdannya. Serta Bramara Artha, yang menyesali kesepiannya. Mereka adalah tiga orang yang sepertinya terpisah jauh, padahal sebenarnya sangat dekat. Orang-orang dengan hati dan pikiran yang diciptakan untuk bersatu, menjalani kisah demi kisah yang cemerlang.

Mereka mungkin tidak pernah mengenal. Mereka mungkin tidak ingin saling mengenal. Tapi biar saya beserta tangan-tangan Sang Takdir mempersatukan mereka. Dan mungkin, memisahkan mereka. Suatu saat. Suatu hari. Suatu hari… Kamis?

Halo. aku benang merah. Aku punya banyak teman di dunia ini, kaya benang biru, benang ijo (edan, ga baku haha) oke maksud aku benang hijau, benang kuning, benang turquoise, benang magenta, benang indigo (gila gila susah-susah ya nama warnanya! haha), Namun, mereka semua itu palsu! Mereka semua itu pake CASING! Karena hanya aku si benang merah yang ASLI, HAHAHAHA!

Apaan sih, sok asik. Ya, memang itulah sifat dasar seorang benang merah (haha kok seorang sih?), seuntai benang merah. wets bagus ya bahasanya. seuntai! Haha. Makanya mereka semua, teman-temanku yang sekarang bukan teman-temanku lagi berkhitanan ehem maksudnya berkhianat! (edan, masih jadi benang aja udah garing ya!). Mereka malas menjadi benang berkepribadian sok asik, tetapi aku bangga menjadi benang sok asik. Haha walau itu kedengarannya agak aneh ya?

Kenapa benang merah sok asik? Karena aku ditugaskan sebuah tugas oleh sang penugas (hm yaya) untuk mempertalikan tiga manusia. Sebenernya beda-beda sih, tergantung ketebalan benangnya. Kebetulan aku tuh kurang tebal jadi cuma cukup buat 3 orang hehe, gila ya aku cupu! Yaudalah gapapa, masalahnya 3 orang aja udah susah bet dah nyet buat dipertemukan! (loh ko jadi benang jakarta? hm yaya haha)

Tiga orang ini, aku pilih berdasarkan.. hm gmana ya dijelasinnya, agak susah sih, bahasa benang sama bahasa manusia kan agak-agak beda gitu (BENBONG: BENANG SOMBONG). Ya kalau kata anak benang jaman sekarang sih kalau lagi dengerin benangpod (hm yaya haha), di SHUFFLE MODE! Haha alias, dipilih secara acak. HAHA ga elit ternyata cara pemilihannya.

Dan lalu, YA! Pilihanku jatoh (eh jatuh maksudnya, eh ga penting deng sama-sama aja haha) kepada Bram, Kiara, dan Satria. Aku gatau mereka kaya gimana, tapi aku akan berusaha mempertemukan mereka. Karena mereka telah ditakdirkan oleh sang penakdir (hm yaya) untuk bertemu melalui usahaku, dan…..

kalau dipikir-pikir,

KO BENANG BISA NGOMONG YA? HEHE.

Yaudah, gapapalah ya. (Haha, komentar yang aneh)

Karena aku adalah benang merah, percaya tidak percaya, aku ada! YEAH! (HAHA benang sok gaul pake YEAH-YEAH segala!)

Read More »