Hey, I’m back..

Hey! It’s me Kya. Asiik, uda kaya pembawa acara aja nih. Hehe, akhirnya aku kembali menulis. Entah ada angin apa, yang jelas bukan angin dubur. Hem apa sih, garing BUHUHUAAANGET deh. (haha tetep ya?) Ya, aku belum berubah sedikitpun. Masih tetep Kya yang sama, eh ada yang beda sih, blackberry aku rusak. Dan sekarang blackberry udah bukan barang ekslusif lagi, udah jadi pasaran. Lebih pasaran dari blackcherry dan blueberry (merek merek cina sialan, jago juga mereka niru!).

Hm.. Malem ini aku ga ada niat buat nulis tentang sesuatu yang melucu atau bahagia sebenarnya. Aku mau menulis tentang apa yang terjadi selama aku vakum menulis.

*

Kenapa Tuhan menciptakan agama? Dari dulu sampai sekarang, aku ga pernah bisa berhenti mikirin dan bertanya tentang pertanyaan ini. Mungkin pertanyaan ini ga penting buat kalian yang ga punya masalah yang berhubungan langsung dengan agama. Mungkin pertanyaan ini kedengerannya nakal atau sompral atau apalah, terserah lo pada. (wets marah gaul) Tapi buat aku, pertanyaan ini begitu penting, mendalam, menusuk, membuat kadang kalbu terpecah pecah menyadari bahwa jawaban atas ini malah membuat hati semakin pilu. Aku dibuat semakin bingung dengan eksistensi agama di dunia ini.

*

Semua berawal ketika aku jatuh cina. EH? HAHA SALAH NULIS. Jatuh cinta maksudnya! Haha, ya aku jatuh cinta. Tapi ini lah yang membuat aku sempat hilang untuk 20 juta ribu tahun lamanya, menghilang bersama dinosaurus-dinosaurus yang sudah punah, menghilang bersama mereka di sebuah dimensi yang bisa kamu bilang lampau, tapi buat aku, tak terjangkau. Aku hilang bersama euforia yang membuat aku merasa hidup ini lebih berarti dibandingkan dengan kepuasan yang diberikan oleh uang dan barang-barang high tech yang orang tuaku bisa berikan. Kehebohan twitter, plurk, facebook, ataupun formspring yang baru saja menggelegar dunia maya pun tidak membuatku sedikitpun menolehkan leher untuk melirik. Aku terlalu tenggelam dalam dimensi yang walaupun jijik buat diutarakan, dimensi cinta.

Tidak ada yang lebih indah dari jatuh cinta. Mencintai dan dicintai, sebuah simbiosa yang tak tergantikan. Ketika matanya memandang mata aku, mengalirkan sebuah getaran ketulusan yang hanya bisa dirasakan detik itu, hanya detik itu. Kita berdua merasa, dirasa, terasa. Semua terasa begitu mengambang, waktu hilang, tak ada pikiran untuk mengingat hitungan terbilang. Ketika kita berdua mendengarkan lagu Senyum dari Selatan-nya Sore, dan sama sama terbawa oleh imajinasi liar. Imajinasi yang berujung pada sebuah sintesa perasaan dari kedua belah pihak yang membawa kegaduhan nada menjadi sebuah kesunyian hati tak terbelah. Ketika kita saling tersenyum, saling memandang tanpa memikirkan masa lalu, kemarin, 2 detik yang lalu atau apapun. Ketika apa yang kita rasakan adalah saat itu, hanya detik itu, dan keseluruhan saat dalam dimensi itu membuat kita meneteskan air mata bahagia yang entah darimana datangnya, kita pun tak memikirkan asal muasal daripadanya.

Aku jatuh cinta, bukan cina. (kali ini bener) Mungkin bukan untuk pertama kalinya, tapi sebenernya kalau boleh jujur. Setiap perasaan cinta akan selalu terasa seperti yang pertama? Aneh, aku juga gatau kenapa. Tapi, aku tau cinta selalu memberikan sensasi sensasi baru yang manusia kejar semasa hidupnya. Namun kali ini sensasinya berupa paradoks yang tak terelakkan. Aku jadi heran, kenapa harus ada sedih ketika kita bisa bahagia? Kenapa harus ada perbedaan ketika kita bisa sama? Kenapa harus ada agama sebagai pembatas cinta ketika kita semua adalah sama, manusia?

Menurut aku, perbedaan agama bukan sebuah permasalahan. Namun memikirkan tentang halangan dan rintangan yang akan datang di hari nanti, membuat setiap memori dan kenangan indah itu fana, palsu, tidak berguna. Terkadang dia hanya tersenyum, dia melihatku menangis meneteskan air mata paradoksal. Dia bertanya, “you love me that much? that’s so sweet.” Padahal air mata itu adalah lambang kecemasanku, ketakutanku. Adalah sesuatu yang wajar bukan untuk cemas? Sesuatu yang manusiawi untuk takut?

Tetapi kenapa harus takut dengan pandangan orang lain? Aku udah nonton film Cin(t)a, dan film cin(T)a, dua duanya film indie yang menggambarkan begitu pahitnya pandangan masyarakat indonesia (terutama yang kolot) terhadap pernikahan dua insan yang berbeda agama. Aku jelas ga punya pandangan kaya gini, tapi aku ga bisa mengelak kalau orang tua dan keluarga akan selalu berperan dalam kisah kali ini. Di sinetron hidup aku yang udah jauh lebih dramatis tanpa efek bibir merah membara, make up norak, dan efek zoom in zoom out. Kenapa karena padangan orang tua yang didasari oleh asupan dogmatis, aku ga bisa menikah dengan orang yang beda agama? Karena aku perempuan islam, aku jadi ga bisa menikah dengan laki laki non-islam? Karena dia ga bisa jadi imam bagi keluarga aku? Apa ga terlalu menghakimi pendapat seperti itu? Itu bahkan bukan pendapat, itu diimani oleh dua puluh juta ribu umat Islam di dunia ini dan dijadikan pedoman hidup mereka.

Aku ga pernah mau nyalahin siapa siapa, agama, ataupun ajaran apapun di dunia. Aku cuma bertanya. Karena pertanyaan ini lumayan menyakitkan ketika mendengar jawaban dari mereka yang seharusnya menjawab. Mungkin banyak orang di luar sana yang ga peduli, aku juga ga peduli. Tapi kesedihan ini sering muncul, ketika puncak kebahagiaan itu datang. Perasaan itu, sering harus aku tutup tutupi. Dengan tersenyum, atau tertawa. Dimana ga ada yang tau kalau sebenarnya ada perasaan sakit yang menetap, memandang kecemasan yang tak kunjung hilang. Pengen rasanya mengumpat, marah-marah, teriak sekeras-kerasnya di mobil sampe kaca pecah kalau bisa! Tapi, di mobil lah aku pernah merasakan kebahagiaan yang tak tergantikan. Ketika alunan lagu lagu Sore malam itu terasa jauh lebih bermakna karena adanya kehadiran seseorang yang aku cari selama ini. Kesedihan dan kesenangan dalam suatu titik yang sama. Bingung, hancur, ga bisa berkata apa apa, sampai aku lelah buat bertanya.

Tetapi, malam ini, aku ga bakal lagi nanya. Aku bakal berhenti bertanya.

Karena tidak ada agama yang bisa membedakan manusia satu dengan lainnya.

Dan karena aku sadar bahwa bentuk cinta yang paling murni, adalah Tuhan.

Tuhan tidak akan pernah memisahkan hamba-Nya yang saling mencinta.

Tuhan aja ga bisa, apalagi pandangan manusia lain.

Selamat tengah malam.

Love,

Kyalau (Kya Galau haha)

…dan aku keluar dari kamar mandi.

Aku menghirup udara yang segar. Segar udara di luar toilet. Segar yang jauh lebih segar dari aroma tinja yang baru kutinggali.

Lalu aku bertanya kepada diriku sendiri, apakah toilet-toilet umum di Paris harum semua? Meski seribu orang datang tiap jam untuk ee dengan khidmatnya? Buktinya banyak banget parfum yang ada tulisan eau de toilette. Artinya tentu dapat kita asumsikan sebagai ‘aroma toilet’. Berarti setiap botol eau de toilette mewakili satu bilik toilet. Aku berimajinasi, betapa nikmatnya duduk di toilet di Paris, memenuhi panggilan alam. Menghirup aroma yang enak tanpa harus keluar dari toilet. Duduk di dalam bilik tanpa harus membaui aroma orang-orang yang mendahului aku duduk di tempat yang sama. Atau mungkin, aku adalah yang pertama, dan aromaku akan diabadikan menjadi parfum yang dipakai banyak orang di seluruh dunia.

Tapi tulisan ini bukan renungan tentang toilet. Tulisan ini adalah renungan tentang mangga. Mangga arumanis hasil cangkokan. Harum, manis, mungkin karena itulah namanya mangga arumanis. Warnanya violet, tapi aku tidak tahu kenapa. Mungkin mangga ini seorang, seekor, eh, sebuah mutan, yang bergabung dalam kelompok X-Mangga. Mungkin mangga ini jatuh ke dalam sebuah kaleng kucing (cat) berwarna ungu violet. Lalu aku terbayang Pasha Ungu. Apakah ia suka memakan mangga arumanis berwarna violet? Mengapa nama grup musiknya tidak ia ganti menjadi Ungu Mangga, supaya lebih populer seperti Hijau Daun?

Kawan, sesungguhnya memang banyak sekali pertanyaan seputar dunia ini yang sukar dijawab. Misalnya, buah grapefruit, atau kalau diterjemahkan menjadi buah buah anggur. Dari luar, terlihat seperti sebuah jeruk. Kulitnya jingga, sama seperti jeruk. Tapi coba Kawan potong, maka Kawan akan mengeluarkan darah yang sangat banyak, dan darah itu berwarna merah. Eh salah. Tapi benar, darah warnanya merah. Oke, kembali ke buah. Buah buah anggur tersebut akan terbelah dua, atau mungkin tiga atau empat atau lim x??, tergantung bagaimana Kawan memotongnya, dan daging buah buah anggur itu tidaklah berwarna merah seperti sapi, putih seperti ayam, ataupun jingga seperti jeruk, tapi ungu, seperti Pasha, eh, seperti anggur. Juga seperti Extra Joss atau M150 atau Hemaviton (ada gitu?) rasa anggur. Tapi coba Kawan ingat-ingat, benarkah anggur warnanya ungu? Tidak semua. Ada yang ungu, ada yang hijau, ada juga yang hitam setelah dicelupkan ke dalam kaleng cat hitam. Kenapa? Saya tidak tahu, tidak pula tempe. Apakah kamu suka susu kedelai? Saya lebih suka susu sapi. Apakah anak sapi suka susu kedelai? Ini pula saya tidaklah tahu maupun tempe, mendoan ataupun bacem.

Tapi tidak semua pertanyaan tidak dapat dijawab. Misalnya, jiga kita melihat organisma selain buah buah anggur, seperti, misalnya, pria-age (man-usia) seperti kita, lalu kita bercermin sebagaimana dipetuahkan Almarhum Michael Jackson, maka kita akan melihat seonggok daging yang biasa kita sebut hidung. Di hidung kita ada empat lubang — dua lubang aku, dua lubang kamu. Kenapa ada dua lubang di hidungmu? Karena jika tidak ada lubang, maka rasanya akan sangatlah sulit bernapas.

Dan tulisan ini pun berakhir dengan tidak elegan.

Uh Ah

Gue udah kapok naik motor, tapi belakangan ini hujan melulu (deket imlek sih), jadi gue nggak bisa naik sepeda juga.

Maka gue menaiki sesuatu yang tidak akan saya sebutkan apa itu sampai akhir tulisan ini, untuk alasan mendramatisir.

Tapi yang jelas, sesuatu ini sungguh lebih dahsyat daripada motor. Pantat gue bergetar tiada tara.

Tapi nggak itu doang. Tangan gue bergetar, kuku gue bergetar, BlueBerry gue bergetar (ehem). Rambut gue juga bergetar. Bulu kaki gue bergetar.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Apakah ini sebuah gempa? Aku yakin tidak, karena bulu hidungku tidak bergetar. Hidungku memang bergetar, tapi bulu hidungku tidak.

Memang bulu hidung gue sakti. Kayak kera sakti, tapi nggak pake kera.

Hidung pake kera gimana ya?

Apakah ada keranya?

Apakah kera itu bergetar?

Pertanyaan-pertanyaan itu menyimpan sebuah misteri besar, yang pasti akan kukuakkan (suara bebek), setelah mata gue selesai bergetar.

Hati gue pun juga bergetar. Tapi bukan getar cinta, melainkan getar rindu.

Getar warnanya coklat.

Eh, itu gitar.

Lalu seluruh dunia seakan akan runtuh di hadapanku. Di sampingku, di depanku, di belakangku. Di atasku, di dalam hatiku, di dalam gubuk tak bernomor tak berpenghuni di pinggiran sebuah kota anonim di ujung peninsula tak berperilaku. Kenapa peninsula ada perilakunya, saya tidak tahu.

Lalu tibalah puncak akhir sebuah perjuangan.

Tapi sebelum saya akhiri, saya ingin mengherani kenapa saya begitu terobsesi pada getaran.

Oke, inilah saatnya.

Sebuah akhir dari sebuah awal.

Aku membuang hajat dengan sukses.

Ayam

Ayam.

Chicken, ciken, yah, apapunlah itu.

Ayam.

Ayam itu enak, maka aku suka ayam. Aku suka makan ayam.

Ayam goreng, ayam digoreng, goreng ayam…

Semur ayam, ayam disemur, ayam semur…

Ayam direbus, ayam rebus, rebus ayam.

Ah, ayam.

Betapa aku cinta ayam.

Mereka bilang daging kamu putih, tapi mereka salah!

Saat kamu disembelih, dipotong, dicincang, atau di-apapunlah-itu-namanya, dagingmu merah! Merah karena darah! Darahmu, ayam. Darah ayam segar.

Kalau bukan darah ayam segar, mungkin darah yang memotongnya. Kalau begitu, kasihan sekali orang itu, darah segarnya membasuhi dagingmu, wahai ayam. Ayam, berilah orang malang itu plester, mungkin pakai obat merah juga. Ayam, sepertinya orang itu dari Malang. Ayam sendiri dari mana?

Daging ayam juga bisa hitam. Misalnya, rawon ayam. Tapi bukan tawon ayam lho ya. Tawon ayam warnanya kuning-hitam (sok tau), rawon ayam warnanya hitam. Hitam, karena dihitamkan. Ya, ayam hitam – disingkat menjadi AHIT atau ATAM atau AH AH AH aja sudah cukup mewakili.

Ah, ayam hitam.

Ayam biru juga ada lho! Bagaimana caranya? Sungguhlah mudah. Pakailah kacamata kuda atau kacamata delman yang berlensa biru. Maka daging ayam akan menjadi biru, seperti barang-barang lain di dunia dari sudut pandang mata Anda, dan hidup Anda pun akan bahagia, bersama ayam.

Ayam, warna apapun kamu, aku akan tetap mencintaimu.

Saat aku menggigitmu, kau membalas gigitanku dengan resultan gaya yang berbanding lurus dengan resultan gaya-gaya yang terjadi akibat gigitanku… Dagingmu lembut, kalau memang lagi lembut, keras, kalau memang lagi keras, renyah, kalau sedikit gosong, atau memang digoreng atau direbus menjadi renyah. Apapun sifat-sifat dagingmu, engkau tetaplah ayam, dan aku tetap mencintaimu.

Ayam, oh ayam. Aku cinta ayam.

Karena kamu adalah ayam, dan ayam adalah kamu.