Babi.

Saya nulis cerpen? Pasti nggak akan jauh-jauh dari soal makanan. Baca yaa, karya perdana nih! Tapi maaf endingnya jelek banget. Sebenernya ini cerpen udah lama, cuma masih gantung aja. Begitu kepikiran endingnya kok jadi kaya gitu? Ya udah lah ya. Eniwei maaf Foodilosophy-nya masih dimatengin! Doain aja nggak kematengan. Oke?

p.s. 100 hari menuju Ujian Nasional! w00t! Semangaat!

BABI.


Ayahku Haji. Ibuku Pegawai Negeri. Aku ingin makan babi.

Ayah tidak kerja, ia pengangguran. Kerjaannya mengaji, membaca Al-Qur’an. Kepalanya selalu dibungkus sorban. Ialah calon penghuni surga teladan. Shalatnya pasti tiap selesai adzan.

Ayah bilang makan babi itu dosa. Nanti bisa masuk neraka. Dihukum aku selamanya. Dipanggang di atas bara. Panasnya tidak terkira. Badanku gosong dibuatnya.

Aku tak ingin peduli. Aku ingin makan babi.

Ibuku pegawai negeri rendahan. Gajinya kecil tidak punya lebihan. Anaknya tiga, yang satu kuliahan. Bagaimana cara ibuku mampu bertahan?

Beli ayam saja ibu tak mampu. Paling mahal makan tempe atau tahu. Kadang-kadang aku tak mau. Langsung ibu memarahiku.
Ia bilang aku tak tahu malu. Aku membisu, Ia memukuliku.

Kami tak mampu membeli nasi. Apalagi beli daging babi?

Tadi malam aku mimpi jadi kaya. Makan enak bisa beli apa saja. Harta berlimpah rumah puluhan jumlahnya. Naik pesawat bisa pergi keliling dunia.

Aku tak butuh menjadi kaya. Sekarang, mana daging babinya?

Mari kembali ke dunia nyata. Ayah makin relijius saja rupanya. Ia sebutkan semua hadis dan juga fatwa. Makan babi itu haram, ujarnya. Aku sudah tahu dari sejak dulu kala.

Aku pura-pura tidak tahu. Hanya daging babi yang aku mau.

Semakin dilarang, aku semakin penasaran. Tidak bisa kusembunyikan perasaan. Daging babi begitu menggoda iman. Rasanya sudah tak bisa kutahan.

Aku cuma ingin makan babi. Walau hanya untuk sekali.

Negara ini negara Islam taat. Kota ini kota pesantren paling hebat. Semua kafir dipaksa untuk bertobat. Penjual babi dipaksa jadi petani tomat. Daging babi sudah habis dibabat. Jika muncul paling hanya untuk sesaat.

Untuk sekarang aku akan taat. Tapi akan kucari babi itu suatu saat.

Temanku namanya Galang. Anaknya baik tidak kepalang. Ibunya cantik, bapaknya garang. Hobinya makan Babi Panggang. Babi itu enak, dia bilang. Pikiranku melayang. Imajinasiku terbang.

Aku ikut terbang. Bersama babi panggang.

Ia adalah Kristen sejati. Hari ini baginya hari yang suci. Natal ia rayakan bersama sanak famili. Di Gereja ia berdoa dan bernyanyi. Pulang-pulang, di rumah berjajar makanan surgawi. Salah satunya, ya daging babi tadi!

Iri aku kepadanya. Makan babi tanpa perlu merasa dosa.

Kakakku bilang aku harus bersabar saja. Di surga nanti semua makanan tersedia. Daging babi bertumpuk berjuta-juta. Aku bisa makan-makan sepuasnya!

Siapa yang jamin aku bisa masuk surga? Aku mau daging babi sekarang juga!

Apakah perlu aku pindah agama? Atau menganggap Tuhan tidak ada? Atau mungkin, aku makan babi saja! Masalah dosa biar waktu yang menjawabnya. Misalnya iya kan aku tinggal tobat saja.

Sepertinya aku suka opsi kedua. Daging babi, aku segera tiba!

Kutabung uangku sembunyi-sembunyi. Sedikit sedikit kusisihkan dengan rapi. Takkan kutemukan daging babi kota ini. Aku akan kabur, suatu hari nanti. Ketika uangku sudah sangat mencukupi.

Ku menunggu saat-saat itu. Saat intim bersama babi idamanku.

Hari demi hari terlewati. Lembar demi lembar tersusun menjadi tinggi. Koper, pakaian, sudah kubungkus tadi pagi. Ini adalah sebuah perjalanan yang suci. Pertemuanku dengan hidangan yang kunanti.

Tinggal beberapa jam lagi. Daging babi lezat sudah menanti.

Inilah dia tempatnya. Rumah makan yang sederhana. Tak ada logo halal di depannya. Yang ada aksara-aksara cina. Aku yakin ini tempatnya. Jantungku berdebar dibuatnya.

Teringat akan Ayahku yang Haji. Dan Ibuku yang Pegawai Negeri. Dan kakakku yang sabar menanti sajian surgawi. Dan duniaku yang dulu tidak warna-warni. Semua akan berganti. Setelah aku melahap apa yang terhidang di depanku ini.

Daging Babi harum baunya. Tapi seperti apa rasanya?

Ibu-ibu Cina melihatku. Gembel kampung dengan muka yang layu. Sedang memegang sepasang sumpit dari kayu. Mencoba makan sambil menyeruput kaldu.

Kupegang erat potongan pertama. Kelihatannya nikmat lezat tak terkira. Air liurku menetes dibuatnya. Tapi mengapa aku tak bisa?

Mengapa aku tak mau? Babi ini tak bisa menunggu!

Read More »