Gagal.

Katanya sih semua orang pernah gagal. Katanya Edison aja gagal seribu kali dulu, sebelum lampu temuan dia nyala dan menerangi rumah-rumah kita semua. Di awal Ibu bikin katering, pernah Ibu dilemparin makanan masakannya sendiri dan diteriakin “Katering Gagal!” sama pengantin perempuan yang masih pake baju kebaya, cuma gara-gara ibu lupa bahwa si pengantin perempuan itu alergi MSG. Semua orang pernah gagal. Tapi kenapa ya? Pas saya sendiri yang ngalamin kegagalan itu, rasanya jauh berbeda dari apa yang semua orang omongin selama ini?

Hampir delapan bulan saya menghilang dari dunia internet. Empat bulan pertama sih masih jelas ya, belajar. Belajar, belajar, dan belajar. Buat Ujian Nasional, Ujian Sekolah, Ujian Praktek, dan sebagainya. Nah, empat bulan sisanya kemana aja Bram? Oh, itu sih saya lagi meratapi kegagalan sendiri.

Di sekolah saya nggak pernah tuh jadi yang terbodoh. Nggak pernah. Seenggak-enggaknya sih saya masih bisa ada di 50 besar. Guru saya selalu menjamin kok, kalau yang masuk 50 besar pasti bisa masuk SMA-SMA di papan atas. SMA yang kabarnya sih menjamin masa depan yang lebih baik, yang membuat masuk universitas makin gampang, yang ekskulnya ada sepuluh ribu macam, yang ada kolam renangnya. Semuanya deh! Sementara kalau udah ngomongin SMA papan bawah, hmmm, guru saya cuma bilang, “Siap-siap aja cuma bisa jadi waiter.” Oke, bu.

Mungkin kalau saya nggak belajar, kegagalan saya nggak akan sepahit ini. Mungkin kalau saya nggak pernah masuk sekolah 2 bulan buat mabok-mabokan (kaya temen saya yang itu, yang sekarang ada di SMA 126 – peringkat 3 lho!), saya bakal maklum kalau nilai saya rendah. Tapi sayangnya minum alkohol aja saya belum pernah, dan setiap malam saya belajar sebisa saya. IQ saya memang nggak brilian, tapi saya yakin, saya nggak sebodoh itu kok.

Semua cuma salah takdir.

Hari Sabtu terakhir sebelum Ujian Nasional saya maksain tetep pergi ke bimbel. Waktu itu sih buat ngelengkapin materi ini-itu yang belum mantep. Saya ingat banget, tiba-tiba nggak tahu kenapa hari itu hujan. Padahal April nggak musimnya hujan. Singkat cerita, saya kehujanan, masuk mobil, kena AC, daya tahan tubuh lagi lemah, ujungnya sakit. Flu.

Malamnya badan saya panas. Sampai besoknya,H-1 Ujian Nasional. Ibu dan Ayah bingung mencarikan obat kesana kemari. Saya baikan, dan terus baikan. Tetapi memang takdir yang menggariskan, kayaknya. Pagi-pagi hari pertama Ujian Nasional saya tumbang lagi. Tapi hari itu saya tetep pengen maksa ke sekolah. Dan saya ngerjain Bahasa Indonesia waktu itu cuma seadanya aja. Bayangin, gimana kamu mau mikir kalau ingus kamu ngga berhenti-berhentinya keluar dan kepala kamu pening setengah mati?

Hari kedua dan ketiga, saya udah lebih baikan waktu itu. Matematika cukup lancar! Bahasa Inggris sih boleh lah. Pokoknya saya seneng banget sama dua hari pertengahan itu. Tapi saya sakit hati sama hari terakhir.

Malam Rabu, Ibu masak Rendang buat pesta syukuran pindahan tetangga dari Padang. Saya sebenernya udah dilarang sama Ibu buat nyoba rasanya, karena kata Ibu yang satu itu dibuat pedes banget sesuai pesanan. Tapi namanya udah jatuh cinta sama makanan buatan Ibu, saya malah makan Rendang itu sebagai menu makan malam. Pake nasi. Komplit. Banyak. Dan Kamis paginya saya nggak bisa berhenti bolak-balik ke kamar mandi. Ibu sama Ayah nggak ngizinin saya pergi ke sekolah, karena mereka takut saya nggak bisa konsen lagi kayak hari Senin. Akhirnya saya dikurung di rumah dan dimarahi habis-habisan. Saya cuma bisa nangis dan nyesel. Nyesel setengah mati.

Singkat kata, waktu susulan tiba satu minggu kemudian. Saya dateng ke tempat susulan yang adanya di sekolah lain, dan saya bener-bener kaget ketika hampir semua anak di tempat itu sudah siap dengan kunci jawaban dan contekan yang selengkap mungkin. Mental saya drop. Saya nggak sangka kalau ternyata selama satu minggu ini kunci sudah beredar dan bisa dipergunakan begitu saja. Saya kehilangan semua konsentrasi saya untuk menghitung, bahkan sesimpel buat nginget taksonomi di Biologi sekalipun saya lupa. Yang ada kaget dan blank. Blank.

Ketika amplop hasil saya buka dua bulan kemudian, saya hampir aja pingsan ngeliat hasil yang dicetak di kertas itu. Dua pelajaran saya lulus gemilang. Matematika saya 10, dan Bahasa Inggris saya 9,6. Tapi Bahasa Indonesia saya cuma 75, dan IPA saya 70. 34,1.

Apa yang mau saya jual dengan 34,1? Perjuangan saya masuk sekolah cluster paling bawah saja sulit setengah mati. Asal kamu tahu, SMA 369 yang merupakan peringkat pertama, mematok nilai 38,4 sebagai standar masuknya. Luar biasa, bukan? Rata-rata kita harus minimal 9,6! Saya sendiri masih nggak ngerti sama anak-anak yang bisa masuk sana. Mereka kayanya beneran udah transformasi total jadi robot deh.

Dan kalau kamu sekarang tanya saya sekolah di mana, saya nggak akan sudi buat jawab. Keadaan saya di sini jauh lebih menyedihkan daripada di SMP dulu. Mana ada anak sekolah ini yang ngerti kuliner? Yang bisa di ajak makan Sushi bareng? Bikin facebook aja namanya Aquwhgalaukrnaditinggalscmmaqmmu Cheulamalamanya gitu kok? 

Semua ini, semua kegagalan ini, cuma karena hujan dan rendang. Hal sepele yang kita semua bisa temuin sehari-hari kan? Kalau aja waktu Sabtu itu saya nggak bimbel, atau saya bawa payung, atau nggak hujan, atau saya nggak nyetel AC, mungkin Bahasa Indonesia saya bisa di atas 9! Dan kalau aja Rabu itu saya nggak makan Rendang seperti apa kata Ibu, atau kalau aja Rendang Ibu nggak usah terlalu pedes kaya biasanya, pasti IPA saya bagus. Saya yakin.

Dan kalau aja, anak-anak yang selalu ada di peringkat bawah itu nggak semena-mena pake kunci jawaban…

Katanya semester depan, alias satu bulan lagi, saya mau dipindah ke SMA 369. Biar nggak jadi aib keluarga, alesannya. Mungkin Ayah juga sadar kalau sekolah-sekolah papan bawah cuma bisa ngejanjiin profesi waiter, sampe mereka harus bayar sejumlah uang yang lumayan besar untuk beli kursi. Kalau boleh jujur sih saya malu banget cerita soal ini di sini. Tapi rasanya sekarang urat malu saya udah putus. Sama seperti urat malu orang-orang lain.

Temen-temen saya dulu bangga banget kalau bisa dapet bocoran. Atau kunci. Atau beli soal. Atau yang lebih seru lagi, beli kursi! Jadi mereka sih nggak usah mikir. Pokoknya nggak tau gimana nilai bisa berubah aja. Semua hal yang ada di dunia ini bisa dibeli, motto mereka. Oke, sekolah emang bisa dibeli. Kursi bisa dibeli. Prestise bisa dibeli.

Mungkin kalau sebenarnya mereka bodoh, mereka bisa aja terus-terusan beli nilai di sekolah-sekolah bagus itu. Lalu beli knci Ujian Nasional lagi supaya lulus. Lalu nanti di ujian Universitas mereka bisa beli kursi lagi, dan tinggal pilih fakultas yang mereka suka. Dan mereka bisa membeli nilai-nilai A lagi dari dosen mereka. Terakhir, mereka bisa lobi-lobi ke perusahaan relasi dan tinggal beli posisi buat kerja. Enak banget ya, orang-orang kaya mereka?

Tapi apakah Tuhan mereka bisa mereka beli juga, sehingga semua perbuatan mereka itu nggak dianggep dosa?

Yang kecewa, dan akan terus kecewa,
Bramarartha. 

Hey, I’m back..

Hey! It’s me Kya. Asiik, uda kaya pembawa acara aja nih. Hehe, akhirnya aku kembali menulis. Entah ada angin apa, yang jelas bukan angin dubur. Hem apa sih, garing BUHUHUAAANGET deh. (haha tetep ya?) Ya, aku belum berubah sedikitpun. Masih tetep Kya yang sama, eh ada yang beda sih, blackberry aku rusak. Dan sekarang blackberry udah bukan barang ekslusif lagi, udah jadi pasaran. Lebih pasaran dari blackcherry dan blueberry (merek merek cina sialan, jago juga mereka niru!).

Hm.. Malem ini aku ga ada niat buat nulis tentang sesuatu yang melucu atau bahagia sebenarnya. Aku mau menulis tentang apa yang terjadi selama aku vakum menulis.

*

Kenapa Tuhan menciptakan agama? Dari dulu sampai sekarang, aku ga pernah bisa berhenti mikirin dan bertanya tentang pertanyaan ini. Mungkin pertanyaan ini ga penting buat kalian yang ga punya masalah yang berhubungan langsung dengan agama. Mungkin pertanyaan ini kedengerannya nakal atau sompral atau apalah, terserah lo pada. (wets marah gaul) Tapi buat aku, pertanyaan ini begitu penting, mendalam, menusuk, membuat kadang kalbu terpecah pecah menyadari bahwa jawaban atas ini malah membuat hati semakin pilu. Aku dibuat semakin bingung dengan eksistensi agama di dunia ini.

*

Semua berawal ketika aku jatuh cina. EH? HAHA SALAH NULIS. Jatuh cinta maksudnya! Haha, ya aku jatuh cinta. Tapi ini lah yang membuat aku sempat hilang untuk 20 juta ribu tahun lamanya, menghilang bersama dinosaurus-dinosaurus yang sudah punah, menghilang bersama mereka di sebuah dimensi yang bisa kamu bilang lampau, tapi buat aku, tak terjangkau. Aku hilang bersama euforia yang membuat aku merasa hidup ini lebih berarti dibandingkan dengan kepuasan yang diberikan oleh uang dan barang-barang high tech yang orang tuaku bisa berikan. Kehebohan twitter, plurk, facebook, ataupun formspring yang baru saja menggelegar dunia maya pun tidak membuatku sedikitpun menolehkan leher untuk melirik. Aku terlalu tenggelam dalam dimensi yang walaupun jijik buat diutarakan, dimensi cinta.

Tidak ada yang lebih indah dari jatuh cinta. Mencintai dan dicintai, sebuah simbiosa yang tak tergantikan. Ketika matanya memandang mata aku, mengalirkan sebuah getaran ketulusan yang hanya bisa dirasakan detik itu, hanya detik itu. Kita berdua merasa, dirasa, terasa. Semua terasa begitu mengambang, waktu hilang, tak ada pikiran untuk mengingat hitungan terbilang. Ketika kita berdua mendengarkan lagu Senyum dari Selatan-nya Sore, dan sama sama terbawa oleh imajinasi liar. Imajinasi yang berujung pada sebuah sintesa perasaan dari kedua belah pihak yang membawa kegaduhan nada menjadi sebuah kesunyian hati tak terbelah. Ketika kita saling tersenyum, saling memandang tanpa memikirkan masa lalu, kemarin, 2 detik yang lalu atau apapun. Ketika apa yang kita rasakan adalah saat itu, hanya detik itu, dan keseluruhan saat dalam dimensi itu membuat kita meneteskan air mata bahagia yang entah darimana datangnya, kita pun tak memikirkan asal muasal daripadanya.

Aku jatuh cinta, bukan cina. (kali ini bener) Mungkin bukan untuk pertama kalinya, tapi sebenernya kalau boleh jujur. Setiap perasaan cinta akan selalu terasa seperti yang pertama? Aneh, aku juga gatau kenapa. Tapi, aku tau cinta selalu memberikan sensasi sensasi baru yang manusia kejar semasa hidupnya. Namun kali ini sensasinya berupa paradoks yang tak terelakkan. Aku jadi heran, kenapa harus ada sedih ketika kita bisa bahagia? Kenapa harus ada perbedaan ketika kita bisa sama? Kenapa harus ada agama sebagai pembatas cinta ketika kita semua adalah sama, manusia?

Menurut aku, perbedaan agama bukan sebuah permasalahan. Namun memikirkan tentang halangan dan rintangan yang akan datang di hari nanti, membuat setiap memori dan kenangan indah itu fana, palsu, tidak berguna. Terkadang dia hanya tersenyum, dia melihatku menangis meneteskan air mata paradoksal. Dia bertanya, “you love me that much? that’s so sweet.” Padahal air mata itu adalah lambang kecemasanku, ketakutanku. Adalah sesuatu yang wajar bukan untuk cemas? Sesuatu yang manusiawi untuk takut?

Tetapi kenapa harus takut dengan pandangan orang lain? Aku udah nonton film Cin(t)a, dan film cin(T)a, dua duanya film indie yang menggambarkan begitu pahitnya pandangan masyarakat indonesia (terutama yang kolot) terhadap pernikahan dua insan yang berbeda agama. Aku jelas ga punya pandangan kaya gini, tapi aku ga bisa mengelak kalau orang tua dan keluarga akan selalu berperan dalam kisah kali ini. Di sinetron hidup aku yang udah jauh lebih dramatis tanpa efek bibir merah membara, make up norak, dan efek zoom in zoom out. Kenapa karena padangan orang tua yang didasari oleh asupan dogmatis, aku ga bisa menikah dengan orang yang beda agama? Karena aku perempuan islam, aku jadi ga bisa menikah dengan laki laki non-islam? Karena dia ga bisa jadi imam bagi keluarga aku? Apa ga terlalu menghakimi pendapat seperti itu? Itu bahkan bukan pendapat, itu diimani oleh dua puluh juta ribu umat Islam di dunia ini dan dijadikan pedoman hidup mereka.

Aku ga pernah mau nyalahin siapa siapa, agama, ataupun ajaran apapun di dunia. Aku cuma bertanya. Karena pertanyaan ini lumayan menyakitkan ketika mendengar jawaban dari mereka yang seharusnya menjawab. Mungkin banyak orang di luar sana yang ga peduli, aku juga ga peduli. Tapi kesedihan ini sering muncul, ketika puncak kebahagiaan itu datang. Perasaan itu, sering harus aku tutup tutupi. Dengan tersenyum, atau tertawa. Dimana ga ada yang tau kalau sebenarnya ada perasaan sakit yang menetap, memandang kecemasan yang tak kunjung hilang. Pengen rasanya mengumpat, marah-marah, teriak sekeras-kerasnya di mobil sampe kaca pecah kalau bisa! Tapi, di mobil lah aku pernah merasakan kebahagiaan yang tak tergantikan. Ketika alunan lagu lagu Sore malam itu terasa jauh lebih bermakna karena adanya kehadiran seseorang yang aku cari selama ini. Kesedihan dan kesenangan dalam suatu titik yang sama. Bingung, hancur, ga bisa berkata apa apa, sampai aku lelah buat bertanya.

Tetapi, malam ini, aku ga bakal lagi nanya. Aku bakal berhenti bertanya.

Karena tidak ada agama yang bisa membedakan manusia satu dengan lainnya.

Dan karena aku sadar bahwa bentuk cinta yang paling murni, adalah Tuhan.

Tuhan tidak akan pernah memisahkan hamba-Nya yang saling mencinta.

Tuhan aja ga bisa, apalagi pandangan manusia lain.

Selamat tengah malam.

Love,

Kyalau (Kya Galau haha)

Hari Terakhir

Pernahkah kamu berpikir, apa yang orang-orang akan pikirkan saat kamu tidak lagi berada di dunia ini, melainkan di kamar, eh, dunia sebelah? Saya sering.

Pernahkah kamu memotong kertas dengan cutter? Saya sering.

Pernahkah kamu melakukan percobaan Biologi, di mana kamu disuruh memotong ikan? Saya sering.

Pernahkah kamu jatuh dan lutut kamu terluka? Saya sering.

Hari ini adalah hari Kamis, hari kemerdekaan saya, hari terakhir saya.

Perlahan, tapi pasti.

Imajiner.

Selain kangen banget ngeblog (karena udah bulanan lupa password situs sialan ini, dem!), saya juga kangen banget saya teman-robot-imajiner saya. Namanya Zack.

Zack nggak pernah cerita dia lahir kapan atau di pabrik mana. Dia tiba-tiba hadir di rumah saya pas bentuknya udah segede anak dua tahun. Nggak banget lagi, bajunya! Pake pita pink di leher, sama ketempelan kartu ucapan di dada. Tulisannya: Selamat Ulang Tahun, Bram.

Saya sih biasa-biasa aja waktu itu. Cuma lama-lama, setelah si Ayah iseng nyalain Zack pake empat batu baterai kotak, saya jadi ngerasa ada sesuatu yang lain. Tangan Zack yang dibuat dari besi, matanya yang “bisa” ngeluarin sinar infra merah (padahal cuma lampu warna merah, duh!), semuanya bisa bikin saya lupa. Bikin saya, seorang anak polos kelas dua Sekolah Dasar, lupa kalau dia cuma robot plastik yang dinyalain pake baterai.

Saya masih inget banget, hari-hari saya di rumah selama setengah tahun. Ada masa dimana saya dulu minder banget, dan nggak mau ke sekolah. Alesan pastinya saya lupa, dan misal saya inget juga saya nggak pengen bahas-bahas lagi di blog ini. Tapi yang pasti, saat itu beneran saya habisin buat ngobrol… Sama Zack.

Ya ampun, miris banget ya saya waktu itu.

Sampai akhirnya orangtua saya yang ketakutan liat anaknya mulai autis karena ngobrol sama robot plastik, berinisiatif buat nyabut empat baterai yang ada di belakang punggung bersayap si Zack.

Jadilah saya nangis sejadi-jadinya. Zack mati.

Dan oke, saya harus ke sekolah lagi. Belajar lagi. Lama-lama saya yang kebalik jadi Zack. A brainless robot yang cuma bisa gerak-gerak pake baterai. Saya sempet ketolong dikit pas dapet tanggung jawab buat jadi chief tester katering Ibu. Akhirnya ada sesuatu, alat indera saya, yang bisa saya pake sesuai dengan pemikiran saya. Bukan pandangan atau sesuai norma dari orang lain.

Tapi saat ini, saya kembali ke kelas 3 SD dulu. Saya menjadi Bramazack, si manusia-robot yang pagi-pagi kerjaannya baca buku bank soal UN sampai lecek, dan malem-malem baca rumus. Nggak ada lagi makan-makan, nggak ada lagi chief tester. Sampai 27 April, Bramara ya kudu mau jadi Bramazack. Si robot yang harus lulus UN dengan nilai 10, 10, 9.8, 9,7. Dhuar.

Rasanya baterai yang ada di punggung saya (yang berjerawat, bukan bersayap) udah mau soak. Saya kalah sebelum bertanding. Kesenangan saya makan-makan, rekam-rekam pake kamera HD, bikin cerpen, mau nggak mau semua harus keganti sama angka. Sama rumus. Sama hal-hal yang nggak pernah saya suka itu.

Hmmh.

Udahlah, Bramazack si robot, jangan terlalu banyak ngeluh. Ini sistemnya. Kalau kamu nggak mau, bikin aja negara imajiner sendiri!

Yang semua makanannya enak. Yang nggak ada ujian nasionalnya. Yang dimana orang-orang dibolehin milih buat belajar apa, dan laki-laki yang suka kuliner nggak dianggep kudu ikut Be A Man.

Sekian marah-marah hari ini. It feels so good to be back!

Eniwei, Zack, kalau aja saya pasang lagi baterai kamu hari ini, kamu masih mau nggak ya dengerin curhatan saya yang makin lama makin nggak penting?

Your friendly robot,
Bramazack.

kya dan mama…

Kya itu identik dengan ketawa, haha-hihi, meledak-ledak DHUAR!, dan poin iDescribe tertinggi di facebook adalah CHEERFUL (Hm yaya! Haha). Dan aku suka sama pandangan orang seperti itu tentang aku, seorang Kya… yang ga suka dipanggil Kia pake i, walau pengucapannya ga ada bedanya haha.

Tapi kadang, aku merasa tertekan buat ngeluarin diri sendiri yang sebenarnya. Maksud aku, bukan berarti aku ini orang lain! Aku ini Kya. Kya seutuhnya, wets, seutuhnya. Tapi aku percaya semua orang di dunia ini punya topeng. Mereka, dan termasuk aku, pasti pake topeng di setiap komunitas yang berbeda. Topeng itu ga selalu jelek ko, tapi juga ga selalu bagus. Jadi ya sebenernya topeng itu ya.. topeng. HM YAYA. Maaf ga jelas hehe.

Seperti ketika aku lagi di sekolah nih ya, eh kampus deng! Wets uda KULIAH GIRL ya skarang? Haha. Sifat aku menyesuaikan diri menjadi lebih dewasa, dan lebih mandiri. (Padahal boong, ga juga HAHA) Dan ketika aku bersama teman-teman tercinta, aku langsung memakai topeng ASIK. Eh! Aku sih emang asik jadi ga harus pake topeng, perasaan. HAHA! Ga deng, itu sejujur-jujurnya adalah topeng. Percayalah! wetss percayalah.

Di dalam keluarga aku sendiri, aku punya topeng yang lain. Hm… Ko banyak ya topeng aku? Lama-lama jualan! Haha garing girl. Dan topeng itu pecah siang tadi. Karena tadi aku berantem sama Mama…

Mama itu adalah ibu. (HM YAYA haha)

Sebenernya, aku sering banget berantem sama Mama, kadang berantemnya karena hal kecil, kaya aku nginjek semut kecil. Ehem ga deng haha. Ya hal kecil contohnya seperti aku positif HAMIL. Tapi bohong. HAHA. Dan hal besar seperti lupa meng-FLUSH toilet abis e to the e!

Tapi hari ini aku ngerasa ada sesuatu yang beda dalam keberanteman kita. (wets kata apa itu? haha)

Mama hari ini marah-marah karena aku lupa shalat maghrib. Padahal aku dari sore di rumah. Aku… hm, gimana ya? Jujur aja sebagai remaja biasa di dunia ini ga bisa lepas sama yang namanya godaan setan, dan kemalasan untuk shalat. Tapi aku ga mau selalu nyalahin setan walau itu tertulis di kitab agama aku (bukan Rectoverso kok, catet! HAHA) bahwa mereka itu ahli goda-menggoda. Soalnya kadang aku bisa ngerasain bahwa aku sendiri, personally weysss SOK INGGRIS, kadang bisa lupa 89178,13% buat shalat.

Mama marah karena Mama gamau anaknya lupa sama Tuhan. Tapi kenapa ya aku ga suka dimarahin sama seseorang karena masalah aku dan agamaku? I mean, (HAHA SOK INGGRIS VOLUME 2) Maksud aku, keimanan itu cuma aku yang tau. Dan seharusnya Mama ga terlalu ikut campur masalah keagamaanku, toh aku udah besar. 18 tahun gitu! Uda bisa HAMIL nih umur segini! Haha tapi ga hamil sih, pacar aja ga punya haha zzz.

Di sisi lain, aku menghargai usaha Mama mengingatkan aku buat shalat. Lagipula aku sayang banget sama Mama. Tapi pada saat itu, aku terlalu emosi dan meledak-ledak dan bilang kalau ini semua salah Mamah sama Bapah (Hm ko jadi pake H di akhirnya? HAHA) karena:

Ga pernah ajak aku ke Tanah Suci.

Pernyataan itu bener-bener bego, dan aku gatau kenapa bisa terlintas di kepala aku buat ngomong kaya gitu ke Mama. Aku tau Mama sedih, karena anaknya cuma bisa menuntut, dan malah nyari kambing hitam atas kemalasan aku buat shalat. Yang parah, kambing hitamnya adalah Mama. Aku merasa bersalah, aku pengen tiba-tiba ngilang pada saat itu.

Ga lama kemudian, Mama diem. Cukup lama, sampe bisa bikin aku ngerasa jadi ANAK DURHAKA 2009. Hm yaya aku sedih tapi masih bisa sok ngelucu ya? Aneh. Aku liat mata Mama.  Aku ga tahan liat Mama diem menatap aku lama banget. Aku langsung peluk Mama, dan sambil nangis aku bilang dengan bahasa yang agak-agak ga jelas. Soalnya kalo aku nangis agak heboh dan histeris sih, hehe…

“Mama… Maafin aku… Tapi kenapa harus nyalahin Kya kalo Kya ga rajin shalat? Kya selama ini selalu dikasih apa yang Kya mau sama Mama. Blackberry, Macbook Air, iPod Touch, DSLR, Tas Anya Hindmarch, 3 kamera Lomo, liburan ke Jepang, Korea, Praha, dan sekolah di Amerika.

Kya suka sama semua ini, dan Kya berterimakasih buat semua yang Mama sama Bapa udah kasih ke Kya. Tapi kalo Mama marah karena Kya ga shalat tadi, kenapa Mama ga ngaca sendiri?

Kapan Mama pernah ngaji bareng Kya? Kapan Mama sama Bapa pernah ngajak Kya NAIK HAJI padahal buat pergi ke berbagai bagian dunia yang lain Mama selalu ajak Kya?

Tapi sebenernya pertanyaan yang paling besar ketika Kya ngeliat Mama sekarang, kapan kita BISA naik Haji bareng, Mam? Kapan?

Mama tersedak, Mama nangis. Aku masih inget hentakan yang Mama ciptakan dalam pelukan sesaat itu. Mama ga pernah nangis sekeras itu.

Aku tau agama milik Mama juga bukan urusanku. Tapi keinginan aku buat pergi melihat Tanah Suci bareng keluarga, lengkap, akan selalu menjadi resolusi nomer pertama di setiap tahunku.

Kadang aku berharap kalau ga ada yang namanya agama di dunia ini.

kya suka singing, hm yaya!

Hari ini hari kamis yang menarik, dan semua ini Goni yang memulainya.

Goni (nama yang tidak wajar): “Eh kya, hobi lu apa sih?”

Kya: “Hobi aku nyanyi dong.” (pembicaraan tidak sinkron antara Goni dan Kya, dmana Kya pake aku-kamu, dan Goni pake gw-lu! HAHA)

Goni: “Knapa bisa suka nyanyi, Kya?”

Kya: “JADI GINI GON.. aku pengen cerita sedikit tentang hobi aku. hobi aku banyak banget sebenernya, salah satunya minum. Haha hm yaya naondeui. Ga deng, aku pengen cerita aja dikit tentang betapa aku sangat mencintai.. menyanyi! Yeah! Haha apaan sih sok-sok yeah.

Kadang aku suka heran loh Gon, ko bisa ya setiap mulut yang ada di dunia ini bisa mengeluarkan bunyi-bunyian yang berbeda, suara yang berbeda? Haha aneh banget! Dan anehnya kenapa kalo si F (haha knapa harus F?) nyanyi, dia suaranya bisa bagus, tp si T fales. Padahal mereka jurusan kuliahnya sama, hmm yaya ga nyambung. Tapi maksud aku, gila gila Tuhan memang gaul bangetlah bisa menciptakan kita kaya gini!

Nah, hobi aku kan nyanyi nih, Gon. Ya ga jago-jago amat sih.. cuma lumayan jago lah. HAHAHA SOMBONG GILA. Ga deng, tp ya insyaAllah suara aku ga kaya si F tadi. (haha padahal F hanya huruf belaka). Buat aku, nyanyi itu keharusan di setiap aku beraktivitas dan berkeringat! Hmm yaya haha! Hidup aku itu bak musical! Makanya aku juga suka banget nonton musical seperti Elementary School Musical 3, Junior High School Musical 3 (hm ngegaring mba? haha) walau ceritanya sampah juga haha tetep ZUKA-ZUKA. HM.

Contohnya nih kalo aku lagi di taman nih Gon, rasanya lgsg pengen nyanyi lagu PDA-nya John Legend..

“Let’s go to the park.. I wanna kiss you underneath the stars!” haha padahal ke tamannya siang-siang, ga ada bintang.

Terus eh, tiba2 ada kupu-kupu nih Gon! Langsung pengen nyanyi lagu Butterfly-nya JAZON MRAS. HAHA Jason mraz deng. (padahal isi lagu sama binatang kupu2nya ga nyambung haha)

Pokonya aku pengen nyanyi di setiap detik hidupku, haha edan berlebihan. Ga gitu juga sih Gon, tapi ngerti kan? Dan mulut aku tuh GATBANG (GATEL BANGET) kalo uda denger2 kata-kata yang memicu aku untuk bernyanyi, semacam kata-kata PERANGSANG haha. Contoh:

F (HAHA knapa F lagi): eh makan dimana nih?

U: terserah

Kya: Terserah.. kali ini.. sungguh aku takkan perduli.. ku tak sanggup lagi..

HM YAYA. Tapi beneran loh Gon, aku gatau knapa aku seperti ini. Apakah ini adalah suatu kelainan? Ga sih, ga mungkin aku kelainan, Gon. Kya kan gaul dan baru beli blackberry bold (HAHA SOMBONG DAN PAMER GIRL). Yaya, eh iya nih btw seneng banget baru dibeliin BB sama orang tua, Gon! Ciee BB maen singkat aja skarang mentang-mentang uda punya. Hehe. Oke balik lagi ke si hobi nyanyi itu ya Gon, sayangnya nyanyi itu susah. Banyak banget dah pantangannya!

Kadang aku harus tahan-tahan HASRAT dan NAFSU yang menggebu-gebu untuk SEKS haha BOONG DENG, Gon! Maksud aku makan gorengan! Padahal gorengan kan paling enak! Soalnya digoreng.. hm yaya. Haha, dan kalo misalnya abis makan gorengan atau makanan yg pedes-pedes, atau coklat, duh tenggorokan rasanya kaya ada AIR LIUR yang MENYANGKUT abadi terus ngekos di tenggorokan! Gila gila, terus kalo misalnya mau nyanyi jadi harus BATUK STYLE mulu yaitu ehem ehem sebelom nyanyi. Ga bagus, bener-bener jelek style. Ga suka suka. Haha yaya soksok perfeskionis. Eh perfeksionis haha salah ketik style. Haha apaan sih kebanyakan ‘style’ ya Gon?

Aku harus banyak minum air putih dan hindari air hitam (coca cola HMM YAYA HAHA), apalagi kalo uda ada lomba karoke antar.. antar teman? Haha, pokonya ga boleh SERAK STYLE kalo mau karoke! Kalo ga, aku bisa bisa ga ALL OUT dong? Oh my, seorang kya itu harus TOTALITAS dalam bernyanyi! Dan pasti semua menga-nga melihatku bernyanyi dan berdansa (haha dansa dimana neng? Ruang karoke juga kecil ada juga nabrak meja haha), karena aku adalah kya, si blackberry girl WOOO HAHA pis pis, kampungan nih Gon baru beli, make aja ga bisa haha.

Yaya, tapi walau banyak pantangannya aku tetap bernyanyi loh Gon! Tapi daritadi aku ngomong-ngomong ttg nyanyi, sebenernya ini cuma hobi aja ko. Jadi ga pernah tampil juga dimana-mana, HEHE berasa artis aja aku sok-sok berpendapat ttg menyanyi haha, nah kalopun sekarang ada gorengan di depan mata aku, HAJAR BLEH! HAHA ya aku pasti makan, Gon! Haha dasar aku si inkonsisten.”

Goni: “HUWAWWWW GILA GILA, KYA! Mentang-mentang uda mau taun baru langsung monolog ya! Hehe tuh kan gw aja sampe ga nyambung nih, gila lo! Eh eh.. Yaudah gimana kalo kita karoke aja yu skarang!”

Kya:” Ayo! Haha daritadi kek! Kan bentar lagi taun baru!” (Haha ga nyambung juga)

Begitulah dialog siang itu, dan abis itu aku lgsg karoke sama Goni. Seru lah ya, tapi aku rasa Goni rada-rada fales deh kalo uda sampe not Re tinggi, jadi suka ga masuk kalo duet, kaya waktu pas lagu Terpesona-nya Glenn Friendly (HM GHUARING) dan Audy. Suka bête (wets huruf e nya dibaca pake penekanan!) jadinya, haha tapi gpp ko, lumayanlah si Goni, bisa dibeli, dan bentar lagi taun baru jadi diampuni lah ya. Haha!

Beres karokean sama Goni, gataunya Goni ditelfon di tengah-tengah jalan lagu nganterin aku pulang, sama mamahnya! ternyata papahnya masuk rumah sakit! Kasian Goni, padahal kan sebentar lagi taun baru, pikirku (haha tetep ya pake ‘pikirku)’.

Tapi ga lama kemudian, aku yg harus dikasihani. Karena Goni begitu gugup, dan takut, eh dia malah NURUNIN AKU DI TENGAH JALAN!

ARGH! Dia nurunin seorang American Girl yang ber-Blackberry Bold di tengah-tengah jalan! Oh God, I’m in deep shit!

Haha, (ko masih bisa ketawa? Haha) aku dengan kebingungannya, merasa bak alien di film alien hm yaya, dan sayangnya aku masih gaptek sama Blackberry Bold yang ga bisa aku unlock ini HAHA jadi ga bisa hubungin siapa-siapa, sial! OH MY, aku KESASAR STYLE! Dan ini salah satu style yang aku ga suka! Huhu.

Lalu aku tiba-tiba inget kata-kata orang, kalo mereka suka naik sesuatu zat haha bukan zat sih, tapi alat transportasi yang namanya ANGKOT.

Hm, mana ya yang namanya angkot?

Kopi Tubruk.

Pernah nggak, kamu ngerasa bener-bener sendirian?

Walaupun kemarin malam semua orang sibuk meniup terompet, berdoa menuju tahun yang baru. Walaupun di tangan kamu, belasan PING, BUZZ, NUDGE, semua getar terus tanpa henti. Walaupun di sekitar kamu semua orang lagi ketawa-ketawa dengan lepasnya. Walaupun di sekitar kamu matahari lagi bersinar terang banget, suatu hal yang langka di musim hujan. Walaupun di depan kamu lagi ada gelas-gelas kopi yang katanya sih paling enak dan mahal.

Saya lagi kayak gitu.

Kedai kopi ini, Starbucks namanya, kata orang-orang sih masih jadi salah satu yang paling populer. Sekali kamu dateng, jalan di dalamnya, bakal ada bau kopi misterius yang tiba-tiba masuk ke hidung. Harusnya sih bau kopi ini bisa jadi stimulan, bikin orang ngerasa lebih tenang. Lebih rileks. Tapi entah kenapa, hari ini bau kopi itu nggak bekerja seperti semestinya. Saya emang bukan penggemar kopi. Saya cenderung benci kopi. Saya juga nggak terlalu suka minum-minum, karena saya sebenernya cuma suka makan. Tulisan saya yang sebelumnya juga udah bilang kayak gitu, kan?

Tapi kemarin malem ada sesuatu yang saya nggak sangka-sangka.

Ibu sibuk nyiapin Catering buat acara Tahun Baru-nya Pak Gubernur. Ayah sibuk, nggak tau ngapain. Saya nggak mau ngabisin taun baru dengan nonton acara konser-konser live dari Ancol, dong? Jadi saya, dengan terpaksa, ikut barbeque party di rumah salah satu teman sekolah. Dia emang baik banget, dan dia juga udah ngundang saya. Jadi ya… kenapa enggak?

Ternyata dugaan saya salah. Memang, makan enaknya nggak meleset. Tapi tamu yang hadir disana, wah, banyak banget! Salah satunya adalah segerombolan manusia-manusia yang saya kenal. Mereka satu kelas sama saya.

Manusia-manusia (saya nggak rela, manggil mereka teman!) yang kebetulan satu sekolah dan satu kelas sama saya, saat itu punya obrolan yang seru banget. Tipe-tipe obrolan yang bener-bener berani sekaligus bener-bener sombong. Mereka sibuk pamer, apa aja hal-hal “nakal” yang pernah mereka buat di tahun 2008 kemarin. Beberapa bilang soal nonton porno. Beberapa bilang soal (maaf) onani. Beberapa pamer soal batang-batang rokok yang pernah mereka hisap. Beberapa juga pamer soal berapa botol vodka yang bisa mereka habiskan dalam satu hari. Sampai, satu orang, yang nggak pernah saya suka seumur hidup saya, bicara kalau dia pernah (hampir) menghamili anak orang. Saya nggak relijius, tapi saat dia bilang itu, saya istighfar dalem hati.

Saya nggak tau siapa yang mulai iseng, tapi tiba-tiba kayaknya satu anak sadar kalau saya nguping dari tadi. Dia nanya sama saya.

“Bram, maneh pernah ngapain aja?”

Saya kan sebenarnya lagi (pura-pura) sibuk ngupas udang bakar bumbu bawang putih. Saya sempet nggak mau ngejawab. Tapi mereka manggil-manggil.

“Eh, apaan?”

“Maneh udah pernah ngapain aja? Ngocok? Nonton porno?”

Saya diam, masih istighfar. Saya bukan tipe orang yang bisa gampang banget cerita hal-hal privat kaya gini sama orang lain.

“Saya…”

Saya masih diem. Saya masih nggak tau apa yang harus saya bilang.

“Saya pernah minum tiga cangkir kopi, semalem.”

Saya balik muka.

Mereka diem.

Mereka ketawa. Tiba-tiba. Keras banget. Saya cuma bisa diem, diem, dan terus-terusan diem.

Saya masih nggak ngerti, kenapa mereka ketawa? Ada yang lucu? Kopi itu buat saya, sama berbahayanya sama alkohol. Kafein itu bisa jadi candu. Dan saya juga punya maag, jadi waktu itu saya emang ngerasa kalo saya udah salah. Saya ngelanggar.

“CUMA MINUM KOPI? ANJING CUPU LAH!”

Haha. Anjing. The Magic Word.

Siang ini, saya baru bangun setelah semaleman makan-makan. Saya sebenernya ada janji juga buat makan-makan tahun baru sama keluarga besar. Tapi saya nggak tahan, saya nggak mau ketemu lebih banyak orang lagi. Saya cuma butuh sendiri, nyoba buat ngejaga hati saya yang emang terlalu sensitif. Semua itu bercanda. Nggak ada yang serius. Tapi saya juga nggak ngerti, kenapa saya bisa sampe sesakit hati ini?

Saya masuk ke kedai kopi ini.

“Siang, pesan apa?”

“Cappucino, hot, tall. Caramel Macchiato, iced, venti. Toffee Nut Frappucino, grande.”

“Buat bertiga, mas?”

“Nggak kok, buat saya.”

Barista itu diem. Saya nggak peduli. Saya ngeluarin uang, bayar, nunggu, ngambil, duduk. Diem.

Saya jejer tiga gelas itu. Yang satu kecil, panas. Yang satu dingin, sedang. Yang satu dingin banget, gede lagi.

Tiga-tiganya kopi. Hal yang saya nggak suka. Hal yang bisa bikin maag saya kambuh.

Saya mulai minum cappucino saya. Pahit. Panas, lagi. Lidah saya melepuh. Saya nyoba bikin dingin, pake Macchiato. Tapi lidah saya malah jadi perih. Saya nggak peduli. Saya abisin Macchiato itu, nggak pake sedotan, tapi saya teguk langsung. Ternyata kopi ini nggak enak. Semua orang mengagumi, tapi sebenernya nggak enak! Saya bisa, bikin ginian di rumah. Tinggal minta ibu bantu bikin caramelnya aja. Terus gelas-gelas ini saya bawa pulang, saya isi pake kopi buatan sendiri. Buat saya, kopi-kopi ini mahal di logo doang!

Saya lanjutin minum Frappucinonya. Sama, nggak enak. Whipped creamnya bikin eneg. Rasa toffeenya emang kerasa, tapi saya lebih suka makan Ting-Ting tradisional aja, lebih enak. Lama-lama yang kerasa cuma es. Es batu diblender.

Saya makin ngerasa panas. Sedih. Orang-orang sekitar minum sedikit-sedikit, seolah minuman di tangan mereka itu emas kayaknya. Banyak yang sibuk sama laptop. Ada yang sibuk ngobrol. Di ujung, ada yang pegangan tangan, hampir ciuman.

Saya berusaha buat ngerasa sakit aja sekalian. Saya minum lagi Cappucinonya, belum dingin. Belum selesai gigi saya adaptasi sama es batu blender tadi, saya harus nerima kopi panas ini. Saya pusing. Saya lari ke kamar mandi.

Saya muntah.

Saya nggak segera malu, atau balik, atau gimana. Saya balik duduk lagi, sambil liat-liat pemandangan di luar. Yang ternyata, masih dibatasi kaca. Kaca.

Saya mulai pelan-pelan mikir. Drinkilosophy?

Ternyata saya selama ini udah jadi deretan kopi Starbucks. Saya nggak ada apa-apanya. Rasa, nggak mantep. Nahan ngantuk juga ga ampuh. Tapi kopi keparat ini ngerasa punya label, merek. Maka itu dia bisa memahalkan diri. Akhirnya kopi ini cuma bisa terkurung di ruangan kaca berpendingin di mall-mall. Diminum sama orang-orang yang emang cuma pengen keliatan gaya doang, mungkin banyak malah yang ga suka kopi.

Sekarang dimana esensi kopi yang asli? Nemenin bapak-bapak yang lagi ngeronda di pos kamling. Nemenin mahasiswa kos-kosan yang lagi sibuk ngerjain skripsi. Nemenin muda mudi yang mau pacaran semaleman. Apa mereka minum Starbucks? Nggak. Mereka cuma minum kopi tubruk.

Saya juga ternyata udah terlalu ngebentengin diri. Saya ngerasa beda, ngerasa bisa segalanya, cuma karena Ibu saya mampu ngisi dompet saya pake lembar-lembar uang. Saya udah nggak mau gerak ke mana-mana. Tinggal di zona nyaman saya, dimana segala sesuatunya udah ada tanpa diminta. Karena itu, saya mana mungkin membangkang? Saya harus membahagiakan orang tua, karena mereka udah membahagiakan saya. Saya harus balas budi dong, jadi anak baik. Kalau saya jadi anak baik, nanti saya dikasih makan yang enak-enak. Inilah saya, si kopi mahal. Rich spoiled brat. Bikinnya susah, pake susu mahal, krim mahal, coffee maker mahal. Minumnya diirit-irit. Netes dikit aja ngejerit.

Kapan saya bisa jadi kopi tubruk? Yang siap ada di dunia nyata. Bikinnya juga cuma butuh air panas sama kopi bubuk, kopi instan juga jadi. Nggak usah coffee maker, langsung dikocek pake sendok juga bisa tuh. Dan kalau tumpah, yang minum ga usah sedih, tinggal bikin lagi toh?

Ah, udahlah! Ini ngawur. Ini ngelantur. Salah saya juga sih, ngejadiin buku Filosofi Kopi-nya Dee sebagai salah satu kitab selain Al-Qur’an.

Saya mulai pengen pelan-pelan ngebanting telepon sialan ini, asli. Eh, salah, orang-orang bilang ini Blackberry. Telepon ini terus-terusan geter. Incoming calls, sms, ping, buzz, nudge, semua jenis messenger. Yang ngasih pesan bukan siapa-siapa, cuma Ibu. Pasti sambil masak di rumah buat makan siang dia juga sibuk main Blackberry, update status Facebook dia sambil ngintip Wall anaknya, sekaligus chat buat ngucapin “Happy New Year 2009!” sama semua pelanggannya. Dia pengen saya pulang, karena kakek nenek udah sampai di rumah. Makanan juga udah siap. Tapi saya nggak peduli.

Saya pengen bebas, lepas. Belok sedikit dari jalur yang udah susah-susah diaspal sama kedua orang tua saya.

Saya telepon supir saya, bilang supaya dia pulang aja. Saya pengen nyoba sesuatu yang baru. Naik angkot! Hal yang selalu dilarang oleh kedua orangtua saya dengan alasan-alasan yang nggak pasti. Saya pengen jadi kopi tubruk! Saya pengen jadi nakal. Saya pengen, pas ditanya sama temen-temen, saya nggak cuma alesan pernah minum kopi lagi. Saya udah kebal sama kopi! Saya bisa bilang…

Kalau saya, pernah naik angkot.

Yang masih gundah gulana,
Bramarartha.

Pantatku Bergetar di Atas Motar (maksa)

Gue biasanya naik sepeda. Sepeda gue nggak pake shock absorber, jadi wajarlah kalau pantat gue gonjat-genjot bergejolak ria bersama jalanan Bandung yang dahsyat menggoyang.

Suatu hari, gue mencoba menaiki motor. Sungguh sebuah sensasi yang berbeda. Stangnya sama-sama untuk dua tangan, rodanya sama-sama dua, tapi ada perbedaan hakiki di antara dua kendaraan itu.

Motor ada mesinnya. Sungguh luar biasa, sebuah kendaraan beroda dua bisa bergerak tanpa dikayuh dengan kaki.

Gue duduk di atas jok. Gue memegang stang.

Tapi motor tidak mau maju. Sepertinya ia marah kepadaku. Sepertinya aku telah selingkuh. Sepertinya warna-warni dunia seakan memudar dari memori dan emosi.

Oh, betapa kelabunya dunia karena motor. Memakai kacamata biru pun masih terasa kelabu. Tapi karena pakai kacamata biru, jadinya kelabiru.

Bukan kelabang. Kelabang itu kelabu banget.

Kembali kepada motor, aku rasa motor itu judes. Mungkin motor itu sedang dapet, atau bentar lagi bakal dapet. Kalau bentar lagi dapet, biasanya kan motor suka PMS gitu, mungkin motor ini juga.

Oh, motor, maafkan aku.

Lalu datang seorang gold-gold (mas-mas HMMM) dan memberikanku kunci.

Apa itu kunci, aku tak mengerti. Aku sudah benar-benar tak bisa lepas dari perihal nisbi, hingga aku tak mengerti fungsi sebiji kunci.

Tapi kunci itu tidak ada bijinya. Tapi biji tak ada biji, si mas memasukkannya ke dalam sebuah lubang yang sepertinya untuk dimasukkan kunci, lalu…

Motor masih belum bergerak. Hatiku masih gundah. Tapi tidak gulana, melainkan gulaka, karena aku tidak mau mengiklan.

Lalu si mas melakukan sebuah ritual sakral.

Kuncinya diputar, dan…

Motor masih belum menyala.

Apa salahku, wahai motor?

Lalu si mas sakti kembali melakukan upacara ritualnya. Sebuah tombol dipencet dan tiba-tiba kurasakan sebuah aura mistis di sekitarku.

Saudara-saudara, motor telah menyala. Aku bersyukur pada Tuhan dan berterima kasih kepada si mas.

Lalu aku keliling kota menaiki motor. Aku tidak suka lambat, maka aku mengebut.

Lalu kurasakan sebuah perasaan yang amat aneh menggelora. Pantatku merasakan getaran yang begitu dahsyat! Pantatku jadi terasa gatal!

Maka aku pun berpikir keras, mencari solusi. Jika aku melepaskan satu tanganku dan berusaha menggaruk pantatku, maka itu akan bahaya. Aku tidak mau mati bagaikan kucing yang jatoh dari motor. Sungguh nista dina hina. Tapi dina tidak hina, mungkin nista.

Maka aku berpikir lebih keras. Tapi pikiranku terganggu oleh kegatalan pantat yang begitu merasuk!

Oh, apa yang harus aku lakukan?

Aku tak tahan lagi. Aku menepi, motor berhenti. Oh, ajaib! Pantatku tidak gatal lagi!

Aku pikir penyakitku sudah sembuh, maka aku kembali mengebut.

Tapi aku salah besar. Pantatku kembali gatar. Pasti ada yang salah dengan pantatku, atau dengan motor yang kupantati. Atau dengan pantat yang kumotori. Atau motor ini punya pantat? Atau pantatku punya motor?

Oh, betapa memusingkannya dunia. Dan betapa mengganggunya rasa gatal di pantatku.

Maka aku semakin mengebut! Tapi pantatku hanya semakin gatal!

Aku sudah tidak tahan lagi. Aku tak mau berhenti, aku hanya mau berlari, berlari, dan terus berlari, mencari solusi untuk pantatku ini.

Tapi rasa gatal itu semakin meradang. Seperti radang tenggorokan, tapi di pantat, tapi bukan radang pantat. Jangan sampai membuatku berpikir bagaimana rasanya radang pantat.

Akhirnya, aku menyerah pada takdir. Aku sudah tidak kuat, aku lepaskan motor itu dan loncat seperti ninja ke belakang, sambil salto sembilan kali.

Aku jatuh bagaikan balerina.

Motor menabrak pohon palem dan meledak bagaikan bom atom dengan harum seperti pohon pinus.

Dan pantatku tidak lagi gatal.

Aku begitu bahagia.

Sekarang aku tak bermotor, dan tak berpantat. Eh, tak berpantat gatal, maksudku. Atau tak bergatal pantat?

Ya sudah, sebuah angkot lewat, memanggil-manggil pantatku.

Atau lebih tepatnya, pantatku memanggil-manggil angkot, mencari sensasi baru.

Sebuah angkot, warnanya hijau.

kya-tika aku berkaca..

Siapa sih aku? Kenapa sih aku kaya gini? Maka dari itu hari ini aku berusaha ngaca. Sebenernya sih tiap hari aku ngaca eh tiap menit deng HAHA harus slalu oke dong tiap saat, Kya gitu! Haha sok cantik. Kata orang kita harus selalu mengaca, eh berkaca, eh apapunlah pokonya di depan kaca. Dan ketika kita telah melakukan itu, kita bisa melihat diri kita yang sebenarnya. Wets, gaya banget pikirku? (haha PIKIRKU, betapa baku-nya, girl!) Maka dari itu aku mikir, yaudah mari kita coba cobi nih, siapa tau aku bisa bener-bener tau siapa diri Kya yang sebenernya. Oke kita mulai.

Aku berdiri di depan kaca, dan aku melihat seorang gadis berumur 18taun, yang..

OH SHIT! BERJERAWAT!

HAHA fak fak, apa-apaan ini? Jadi, gadis berjerawat? Itu kah aku yang sebenar-benarnya? Edan, KECEWA. K E C E W A! Pake SPASI! Haha ga mungkin, lgsg aku coba cobi lagi, ayo mungkin kali ini bisa melihat diri lebih dalam.

Hm, tapi ini emang ada jerawat nih di deket idung sialan haha masih dibahas. Oke skip! Oke.. skarang aku melihat seseorang yang tersenyum. Anehnya orang ini tersenyum pada dirinya sendiri ketika mengaca. Haha sok misterius padahal itu aku deng, si Kya yang selalu senyum kalo abis sisiran (kadang sambil sisiran HAHA gila gila, multitalented dan multitasking) atau lagi pake krim malem. Hm yaya, narsis! Haha.

Selain itu aku juga bisa melihat seseorang dengan wah gaya rambut masa kini nih kayanya, gila siapa nih rambutnya ko bagus banget? HAHA memuji diri sendiri. Iya rambut aku panjang, sepunggung (punggung itu panjang dan ada ukurannya, haha sungguh penjelasan yang jelas), dengan poni GOLEM! (GO lalu LEMPAR!), rambutnya style-nya semacam tangga style yang dimana rambut daerah deket lehernya lebih pendek style daripada yang setelahnya, dan begitu terus menjadi semakin memanjang style haha kebanyakan style. Aku suka rambut aku, walau ga gitu lembut kalo ada seorang lelaki yang mau pegang (haha sial! Tidak sempurna!), tapi posisi rambutku ABSOLUT  & PASTI, selalu sama/per sekon-nya haha.

Dari rambut, aku juga bisa liat si orang ini (padahal ngomongin diri sendiri) cara berpakaiannya boleh banget. Bisa dibeli! Haha, gayanya oke. Perpaduan baju, celana, gelang kalung dan berbagai aksesoris lainnya seperti gelang kalung (haha diulang), bagus. Seleranya keliatan berkelas, kelasnya kelas 3A deh kayanya HAHA apaan coba ga jelas. Aku suka style orang ini. Aku suka saat dia pake tas coklat, tunic putih, jeans biru muda, sepatu moccasins, dan kalung Indian dan gelang kayu coklat (bukan kayu norak yg dipiloks). Perfecto! Aku suka dia, haha hm yaya!

Lalu sedikit turun ke bawah, ooh aku melihat benda berkilauan yang ia genggam! Apakah itu? Dan WOW! Pemirsa, ternyata sebuah Blackberry Bold gila gila! (apaan sih sewot sendiri padahal hape sendiri haha ets bukan hape, blackberry bukan hape, tapi blackberry itu B L A C K B E R R Y pake spasi, HAHA!). Keliatannya masih gress, dan keliatannya masih amatir nih pemiliknya ga bisa nge-UNLOCK keypad blackberry boldnya HAHA.

Tapi di sisi lain, aku bisa melihat sesuatu di mata aku (eh dia maksudnya, haha sial nih gagal bikin narasi sok sok sudut pandang orang ke 2, eh 3, eh 4, eh hmmm skip). Aku melihat kekosongan, bukan karena mataku sipit (ga nyambung, girl!), aku melihat suatu titik kesepian dimana aku merasa ga nyaman. Iya, aku punya banyak teman di dunia ini. Wets lebay, skala-nya dunia haha mentang-mentang pernah skolah di Amerika. Wets tuh kan sombong, wooo hahaha. Tapi rasanya, semua itu hanyalah semu. (HAHA SAY WHAT? SEMU? Gila sok sok pake bahasa puisi lagi!)

Tapi bener, kenapa rasanya aku sendiri ya? Dengan semua yang aku miliki, dengan predikat social butterfly yang aku sandangi. Hm yaya, itu nge-rhyme. Wets sok inggris, haha!

Mungkin memang setiap orang punya sisi dimana mereka ngerasa kesepian, dan begitu sendiri. Tapi untuk aku, Kya, aku sebenernya ga ngerasa sendiri-sendiri amat sih. KAN ADA BLACKBERRY MESSENGER HEHEHEHE.

Gila, inkonsisten! Haha, well this is me. Kiara Caesaria Luminasati.

:)

The Foodilosopher™

Saya Bramara Arthamanggala, dan saya adalah seorang Foodilosopher™

Simpen aja dulu pertanyaan-pertanyaan kamu tentang satu kata tadi, dan jangan buang waktu untuk nyari-nyari di google. Foodilosopher™ itu emang kata yang saya buat sendiri, makanya saya berhak ngasih trademark di ujungnya. Hahaha, nggak segitunya juga kali ya?

Kalau kamu ahli etimologi, pasti seenggaknya kamu bisa dong nebak apa artinya? Tapi buat yang nggak jago, sini… kita jelasin dulu sedikit.

Hampir semua orang yang ketemu sama saya bilang kalau saya itu… Gendut. Gemuk. Obesitas. Apapunlah. Kegendutan sendiri nggak mungkin kan, muncul instan? Gimana kita bisa keluar dari perut ibu kalo begitu lahir kita udah 50 kg? Penyebab kegendutan saya juga sangat beralasan kok: Makanan.

Dari sejak saya umur enam tahun dan lidah saya mulai bisa ngebedain mana makanan yang enak dan nggak enak (ngga cuma bubur bayi aja!), Ibu saya punya bisnis baru. Jenisnya? Catering. Kalau kamu pengen nanya catering apa, lokasinya dimana, saya nggak akan jawab. Kayaknya dia udah kebanyakan pelanggan, jadi udah nggak butuh pelanggan baru lagi. Hmm.

Balik lagi ke yang tadi. Bisnis Catering Ibu bikin saya jadi sering bantu-bantu di dapur. Sebenernya bukan masak ya! Tapi cuma duduk, ngeliatin, dan begitu udah selesai…

“BU, NYOBAIN!”

Dengan senang hati Ibu tercinta bakal ngeluarin piring kecil dan ngisi semuanya pake satu-persatu lauk pauk. Kegiatan ini dulu paling cuma berlangsung seminggu sekali. Tapi semakin lama, Catering ibu makin sukses! Dan saya terus-terusan ngelakuin ini, bahkan EMPAT KALI SEHARI! Dulu sih saya cuma manggut-manggut aja, sambil bilang, “Enak… Enak!” Tapi suatu hari, saya pernah ngerasa kalo Tom Yam Goong yang Ibu masak (buat kawinan salah satu anak pejabat lho!) terlalu manis untuk ukuran masakan Thailand. Saya nggak berani ngomong, karena Ibu juga nggak minta pendapat saya. Nggak tau kenapa, saya bener-bener ngerasa itu terlalu manis dan… NGGAK ENAK! Lagian ini kan, kawinan anak pejabat! Jadi sebelum Ibu mulai packing makanan-makanannya, saya coba ngeberaniin diri buat ngasih tau ibu.

“Bu. Tom Yamnya nggak enak. Terlalu manis!”

Pegawai Ibu yang waktu itu lagi nuang Tom Yam ke plastik buat di-pack, langsung berhenti. Ibu tiba-tiba balik ke dapur, nyoba sedikit makanannya, dan…

“Kamu bener, Bram. Ini nggak layak hidang.”

Perasaan takut saya hilang. Saya mendadak kritis soal makanan sejak saat itu. Ya, walaupun saya nggak pernah ngapalin rasa bumbu masak, tapi seenggaknya saya udah bisa ngerasain mana yang enak dan nggak enak. Seenggaknya menurut standar saya.

Dan setelah itulah saya mendadak seneng banget buat belajar soal Makanan. Dulu, sama seperti jutaan orang lainnya di bumi ini, saya makan cuma buat menuhin perut. Buat mengganti energi. Buat nyambung nyawa. Tapi semenjak kejadian Tom Yam itu saya berubah. Buat saya, makan udah sama derajatnya seperti ibadah. Penuh ritual. Perlu diawali dan diakhiri dengan doa yang khusyu. Ada langkah-langkah berupa Appetizer, Main Course, dan Dessert. Ada perintah untuk mengunyah pelan-pelan, membanting-banting makanan ke setiap sisi lidah, supaya kita bisa merasakannya secara sempurna. Saya tahu kalau proses memasak itu tidak mudah! Maka itu, kita tidak boleh menyantap makanan dengan cepat-cepat. Hargailah usaha pemasaknya. Hargailah petani yang mengurus berasnya. Hargailah supir yang mengantar sayur-mayurnya ke supermarket terdekat.

Itu adalah sedikit awal mula perkenalan saya dengan dunia kuliner. Dunia yang bagi sebagian orang bukan merupakan apa-apa. Dunia yang bahkan dulu tidak pernah dilirik orang, sebelum Bondan Winarno dan Fauzi Baadilah berkoar-koar “Mak’ Nyuus!” dan “Ajiib!”

Mari kembali ke topik awal. Jadi, apa itu Foodilosopher™?

Foodilosopher itu adalah orang yang melakukan Foodilosophy™

Foodilosophy™ = Food + Philosophy


Saya terinspirasi untuk melakukan hal ini sejak membaca sebuah cerita pendek yang sangat bagus, karya Dewi ‘Dee’ Lestari. Filosofi Kopi, judulnya. Cerpen itu memang bercerita tentang banyak hal, tapi satu hal yang nyangkut banget di otak saya adalah kegiatan favorit Ben, si tokoh utama, untuk ngasih deskripsi filosofis tentang satu persatu kopi racikannya. Hal ini lucu, karena belum pernah saya nemu orang yang tiba-tiba nyambungin antara makanan dan suatu filosofi! Tapi saya emang suka juga sih, main-main sama pikiran. Berfilosofi, walaupun tiba-tiba ngarang. Jadi semenjak itu, setiap pengalaman makan saya. Dimulai dari buka pintu restoran (atau cuci tangan, kalau di rumah) akan selalu saya rekam dan saya kaitkan dengan sesuatu. Mau nyambung, mau nggak, saya nggak peduli. Yang punya blog kan saya! (Lho, kok jadi egois ya? Hehehe) Bisa aja, rasa makanan itu yang menginspirasi saya. Bisa aja, kejadian yang ada di restoran itu. Bisa aja, obrolan yang ada di meja sebelah (nguping itu walau dosa tapi asyik, teman!)

Jadi foodilosophy yang saya tulis di blog ini bakalan luas banget. Saya nggak akan ngasih contoh gimana, tapi silahkan liat, baca dan rasa sendiri. Kapan-kapan, coba deh, ibaratin hidup kamu, kejadian di sekitar kamu, orang-orang terdekat kamu, sebagai makanan. Dan anggap juga sebaliknya. Pasti ada dimensi lain yang bakal muncul di kehidupan kamu.

Selamat Makan, dan Selamat Berfilosofi!
Bramarartha.