Pantatku Bergetar di Atas Motar (maksa)

Gue biasanya naik sepeda. Sepeda gue nggak pake shock absorber, jadi wajarlah kalau pantat gue gonjat-genjot bergejolak ria bersama jalanan Bandung yang dahsyat menggoyang.

Suatu hari, gue mencoba menaiki motor. Sungguh sebuah sensasi yang berbeda. Stangnya sama-sama untuk dua tangan, rodanya sama-sama dua, tapi ada perbedaan hakiki di antara dua kendaraan itu.

Motor ada mesinnya. Sungguh luar biasa, sebuah kendaraan beroda dua bisa bergerak tanpa dikayuh dengan kaki.

Gue duduk di atas jok. Gue memegang stang.

Tapi motor tidak mau maju. Sepertinya ia marah kepadaku. Sepertinya aku telah selingkuh. Sepertinya warna-warni dunia seakan memudar dari memori dan emosi.

Oh, betapa kelabunya dunia karena motor. Memakai kacamata biru pun masih terasa kelabu. Tapi karena pakai kacamata biru, jadinya kelabiru.

Bukan kelabang. Kelabang itu kelabu banget.

Kembali kepada motor, aku rasa motor itu judes. Mungkin motor itu sedang dapet, atau bentar lagi bakal dapet. Kalau bentar lagi dapet, biasanya kan motor suka PMS gitu, mungkin motor ini juga.

Oh, motor, maafkan aku.

Lalu datang seorang gold-gold (mas-mas HMMM) dan memberikanku kunci.

Apa itu kunci, aku tak mengerti. Aku sudah benar-benar tak bisa lepas dari perihal nisbi, hingga aku tak mengerti fungsi sebiji kunci.

Tapi kunci itu tidak ada bijinya. Tapi biji tak ada biji, si mas memasukkannya ke dalam sebuah lubang yang sepertinya untuk dimasukkan kunci, lalu…

Motor masih belum bergerak. Hatiku masih gundah. Tapi tidak gulana, melainkan gulaka, karena aku tidak mau mengiklan.

Lalu si mas melakukan sebuah ritual sakral.

Kuncinya diputar, dan…

Motor masih belum menyala.

Apa salahku, wahai motor?

Lalu si mas sakti kembali melakukan upacara ritualnya. Sebuah tombol dipencet dan tiba-tiba kurasakan sebuah aura mistis di sekitarku.

Saudara-saudara, motor telah menyala. Aku bersyukur pada Tuhan dan berterima kasih kepada si mas.

Lalu aku keliling kota menaiki motor. Aku tidak suka lambat, maka aku mengebut.

Lalu kurasakan sebuah perasaan yang amat aneh menggelora. Pantatku merasakan getaran yang begitu dahsyat! Pantatku jadi terasa gatal!

Maka aku pun berpikir keras, mencari solusi. Jika aku melepaskan satu tanganku dan berusaha menggaruk pantatku, maka itu akan bahaya. Aku tidak mau mati bagaikan kucing yang jatoh dari motor. Sungguh nista dina hina. Tapi dina tidak hina, mungkin nista.

Maka aku berpikir lebih keras. Tapi pikiranku terganggu oleh kegatalan pantat yang begitu merasuk!

Oh, apa yang harus aku lakukan?

Aku tak tahan lagi. Aku menepi, motor berhenti. Oh, ajaib! Pantatku tidak gatal lagi!

Aku pikir penyakitku sudah sembuh, maka aku kembali mengebut.

Tapi aku salah besar. Pantatku kembali gatar. Pasti ada yang salah dengan pantatku, atau dengan motor yang kupantati. Atau dengan pantat yang kumotori. Atau motor ini punya pantat? Atau pantatku punya motor?

Oh, betapa memusingkannya dunia. Dan betapa mengganggunya rasa gatal di pantatku.

Maka aku semakin mengebut! Tapi pantatku hanya semakin gatal!

Aku sudah tidak tahan lagi. Aku tak mau berhenti, aku hanya mau berlari, berlari, dan terus berlari, mencari solusi untuk pantatku ini.

Tapi rasa gatal itu semakin meradang. Seperti radang tenggorokan, tapi di pantat, tapi bukan radang pantat. Jangan sampai membuatku berpikir bagaimana rasanya radang pantat.

Akhirnya, aku menyerah pada takdir. Aku sudah tidak kuat, aku lepaskan motor itu dan loncat seperti ninja ke belakang, sambil salto sembilan kali.

Aku jatuh bagaikan balerina.

Motor menabrak pohon palem dan meledak bagaikan bom atom dengan harum seperti pohon pinus.

Dan pantatku tidak lagi gatal.

Aku begitu bahagia.

Sekarang aku tak bermotor, dan tak berpantat. Eh, tak berpantat gatal, maksudku. Atau tak bergatal pantat?

Ya sudah, sebuah angkot lewat, memanggil-manggil pantatku.

Atau lebih tepatnya, pantatku memanggil-manggil angkot, mencari sensasi baru.

Sebuah angkot, warnanya hijau.

kya-tika aku berkaca..

Siapa sih aku? Kenapa sih aku kaya gini? Maka dari itu hari ini aku berusaha ngaca. Sebenernya sih tiap hari aku ngaca eh tiap menit deng HAHA harus slalu oke dong tiap saat, Kya gitu! Haha sok cantik. Kata orang kita harus selalu mengaca, eh berkaca, eh apapunlah pokonya di depan kaca. Dan ketika kita telah melakukan itu, kita bisa melihat diri kita yang sebenarnya. Wets, gaya banget pikirku? (haha PIKIRKU, betapa baku-nya, girl!) Maka dari itu aku mikir, yaudah mari kita coba cobi nih, siapa tau aku bisa bener-bener tau siapa diri Kya yang sebenernya. Oke kita mulai.

Aku berdiri di depan kaca, dan aku melihat seorang gadis berumur 18taun, yang..

OH SHIT! BERJERAWAT!

HAHA fak fak, apa-apaan ini? Jadi, gadis berjerawat? Itu kah aku yang sebenar-benarnya? Edan, KECEWA. K E C E W A! Pake SPASI! Haha ga mungkin, lgsg aku coba cobi lagi, ayo mungkin kali ini bisa melihat diri lebih dalam.

Hm, tapi ini emang ada jerawat nih di deket idung sialan haha masih dibahas. Oke skip! Oke.. skarang aku melihat seseorang yang tersenyum. Anehnya orang ini tersenyum pada dirinya sendiri ketika mengaca. Haha sok misterius padahal itu aku deng, si Kya yang selalu senyum kalo abis sisiran (kadang sambil sisiran HAHA gila gila, multitalented dan multitasking) atau lagi pake krim malem. Hm yaya, narsis! Haha.

Selain itu aku juga bisa melihat seseorang dengan wah gaya rambut masa kini nih kayanya, gila siapa nih rambutnya ko bagus banget? HAHA memuji diri sendiri. Iya rambut aku panjang, sepunggung (punggung itu panjang dan ada ukurannya, haha sungguh penjelasan yang jelas), dengan poni GOLEM! (GO lalu LEMPAR!), rambutnya style-nya semacam tangga style yang dimana rambut daerah deket lehernya lebih pendek style daripada yang setelahnya, dan begitu terus menjadi semakin memanjang style haha kebanyakan style. Aku suka rambut aku, walau ga gitu lembut kalo ada seorang lelaki yang mau pegang (haha sial! Tidak sempurna!), tapi posisi rambutku ABSOLUT  & PASTI, selalu sama/per sekon-nya haha.

Dari rambut, aku juga bisa liat si orang ini (padahal ngomongin diri sendiri) cara berpakaiannya boleh banget. Bisa dibeli! Haha, gayanya oke. Perpaduan baju, celana, gelang kalung dan berbagai aksesoris lainnya seperti gelang kalung (haha diulang), bagus. Seleranya keliatan berkelas, kelasnya kelas 3A deh kayanya HAHA apaan coba ga jelas. Aku suka style orang ini. Aku suka saat dia pake tas coklat, tunic putih, jeans biru muda, sepatu moccasins, dan kalung Indian dan gelang kayu coklat (bukan kayu norak yg dipiloks). Perfecto! Aku suka dia, haha hm yaya!

Lalu sedikit turun ke bawah, ooh aku melihat benda berkilauan yang ia genggam! Apakah itu? Dan WOW! Pemirsa, ternyata sebuah Blackberry Bold gila gila! (apaan sih sewot sendiri padahal hape sendiri haha ets bukan hape, blackberry bukan hape, tapi blackberry itu B L A C K B E R R Y pake spasi, HAHA!). Keliatannya masih gress, dan keliatannya masih amatir nih pemiliknya ga bisa nge-UNLOCK keypad blackberry boldnya HAHA.

Tapi di sisi lain, aku bisa melihat sesuatu di mata aku (eh dia maksudnya, haha sial nih gagal bikin narasi sok sok sudut pandang orang ke 2, eh 3, eh 4, eh hmmm skip). Aku melihat kekosongan, bukan karena mataku sipit (ga nyambung, girl!), aku melihat suatu titik kesepian dimana aku merasa ga nyaman. Iya, aku punya banyak teman di dunia ini. Wets lebay, skala-nya dunia haha mentang-mentang pernah skolah di Amerika. Wets tuh kan sombong, wooo hahaha. Tapi rasanya, semua itu hanyalah semu. (HAHA SAY WHAT? SEMU? Gila sok sok pake bahasa puisi lagi!)

Tapi bener, kenapa rasanya aku sendiri ya? Dengan semua yang aku miliki, dengan predikat social butterfly yang aku sandangi. Hm yaya, itu nge-rhyme. Wets sok inggris, haha!

Mungkin memang setiap orang punya sisi dimana mereka ngerasa kesepian, dan begitu sendiri. Tapi untuk aku, Kya, aku sebenernya ga ngerasa sendiri-sendiri amat sih. KAN ADA BLACKBERRY MESSENGER HEHEHEHE.

Gila, inkonsisten! Haha, well this is me. Kiara Caesaria Luminasati.

:)

The Foodilosopher™

Saya Bramara Arthamanggala, dan saya adalah seorang Foodilosopher™

Simpen aja dulu pertanyaan-pertanyaan kamu tentang satu kata tadi, dan jangan buang waktu untuk nyari-nyari di google. Foodilosopher™ itu emang kata yang saya buat sendiri, makanya saya berhak ngasih trademark di ujungnya. Hahaha, nggak segitunya juga kali ya?

Kalau kamu ahli etimologi, pasti seenggaknya kamu bisa dong nebak apa artinya? Tapi buat yang nggak jago, sini… kita jelasin dulu sedikit.

Hampir semua orang yang ketemu sama saya bilang kalau saya itu… Gendut. Gemuk. Obesitas. Apapunlah. Kegendutan sendiri nggak mungkin kan, muncul instan? Gimana kita bisa keluar dari perut ibu kalo begitu lahir kita udah 50 kg? Penyebab kegendutan saya juga sangat beralasan kok: Makanan.

Dari sejak saya umur enam tahun dan lidah saya mulai bisa ngebedain mana makanan yang enak dan nggak enak (ngga cuma bubur bayi aja!), Ibu saya punya bisnis baru. Jenisnya? Catering. Kalau kamu pengen nanya catering apa, lokasinya dimana, saya nggak akan jawab. Kayaknya dia udah kebanyakan pelanggan, jadi udah nggak butuh pelanggan baru lagi. Hmm.

Balik lagi ke yang tadi. Bisnis Catering Ibu bikin saya jadi sering bantu-bantu di dapur. Sebenernya bukan masak ya! Tapi cuma duduk, ngeliatin, dan begitu udah selesai…

“BU, NYOBAIN!”

Dengan senang hati Ibu tercinta bakal ngeluarin piring kecil dan ngisi semuanya pake satu-persatu lauk pauk. Kegiatan ini dulu paling cuma berlangsung seminggu sekali. Tapi semakin lama, Catering ibu makin sukses! Dan saya terus-terusan ngelakuin ini, bahkan EMPAT KALI SEHARI! Dulu sih saya cuma manggut-manggut aja, sambil bilang, “Enak… Enak!” Tapi suatu hari, saya pernah ngerasa kalo Tom Yam Goong yang Ibu masak (buat kawinan salah satu anak pejabat lho!) terlalu manis untuk ukuran masakan Thailand. Saya nggak berani ngomong, karena Ibu juga nggak minta pendapat saya. Nggak tau kenapa, saya bener-bener ngerasa itu terlalu manis dan… NGGAK ENAK! Lagian ini kan, kawinan anak pejabat! Jadi sebelum Ibu mulai packing makanan-makanannya, saya coba ngeberaniin diri buat ngasih tau ibu.

“Bu. Tom Yamnya nggak enak. Terlalu manis!”

Pegawai Ibu yang waktu itu lagi nuang Tom Yam ke plastik buat di-pack, langsung berhenti. Ibu tiba-tiba balik ke dapur, nyoba sedikit makanannya, dan…

“Kamu bener, Bram. Ini nggak layak hidang.”

Perasaan takut saya hilang. Saya mendadak kritis soal makanan sejak saat itu. Ya, walaupun saya nggak pernah ngapalin rasa bumbu masak, tapi seenggaknya saya udah bisa ngerasain mana yang enak dan nggak enak. Seenggaknya menurut standar saya.

Dan setelah itulah saya mendadak seneng banget buat belajar soal Makanan. Dulu, sama seperti jutaan orang lainnya di bumi ini, saya makan cuma buat menuhin perut. Buat mengganti energi. Buat nyambung nyawa. Tapi semenjak kejadian Tom Yam itu saya berubah. Buat saya, makan udah sama derajatnya seperti ibadah. Penuh ritual. Perlu diawali dan diakhiri dengan doa yang khusyu. Ada langkah-langkah berupa Appetizer, Main Course, dan Dessert. Ada perintah untuk mengunyah pelan-pelan, membanting-banting makanan ke setiap sisi lidah, supaya kita bisa merasakannya secara sempurna. Saya tahu kalau proses memasak itu tidak mudah! Maka itu, kita tidak boleh menyantap makanan dengan cepat-cepat. Hargailah usaha pemasaknya. Hargailah petani yang mengurus berasnya. Hargailah supir yang mengantar sayur-mayurnya ke supermarket terdekat.

Itu adalah sedikit awal mula perkenalan saya dengan dunia kuliner. Dunia yang bagi sebagian orang bukan merupakan apa-apa. Dunia yang bahkan dulu tidak pernah dilirik orang, sebelum Bondan Winarno dan Fauzi Baadilah berkoar-koar “Mak’ Nyuus!” dan “Ajiib!”

Mari kembali ke topik awal. Jadi, apa itu Foodilosopher™?

Foodilosopher itu adalah orang yang melakukan Foodilosophy™

Foodilosophy™ = Food + Philosophy


Saya terinspirasi untuk melakukan hal ini sejak membaca sebuah cerita pendek yang sangat bagus, karya Dewi ‘Dee’ Lestari. Filosofi Kopi, judulnya. Cerpen itu memang bercerita tentang banyak hal, tapi satu hal yang nyangkut banget di otak saya adalah kegiatan favorit Ben, si tokoh utama, untuk ngasih deskripsi filosofis tentang satu persatu kopi racikannya. Hal ini lucu, karena belum pernah saya nemu orang yang tiba-tiba nyambungin antara makanan dan suatu filosofi! Tapi saya emang suka juga sih, main-main sama pikiran. Berfilosofi, walaupun tiba-tiba ngarang. Jadi semenjak itu, setiap pengalaman makan saya. Dimulai dari buka pintu restoran (atau cuci tangan, kalau di rumah) akan selalu saya rekam dan saya kaitkan dengan sesuatu. Mau nyambung, mau nggak, saya nggak peduli. Yang punya blog kan saya! (Lho, kok jadi egois ya? Hehehe) Bisa aja, rasa makanan itu yang menginspirasi saya. Bisa aja, kejadian yang ada di restoran itu. Bisa aja, obrolan yang ada di meja sebelah (nguping itu walau dosa tapi asyik, teman!)

Jadi foodilosophy yang saya tulis di blog ini bakalan luas banget. Saya nggak akan ngasih contoh gimana, tapi silahkan liat, baca dan rasa sendiri. Kapan-kapan, coba deh, ibaratin hidup kamu, kejadian di sekitar kamu, orang-orang terdekat kamu, sebagai makanan. Dan anggap juga sebaliknya. Pasti ada dimensi lain yang bakal muncul di kehidupan kamu.

Selamat Makan, dan Selamat Berfilosofi!
Bramarartha.

Mereka Bilang, Saya Garing!

Mereka bilang, saya garing! Karena rumput hijau karena masih segar, karena bahasa Arab untuk ‘Kelapa’ adalah ‘Abdul Muis’. Karena untuk memisahkan gajah gede dari gajah kecil tinggal diayak. Karena gajah masuk ke dalam kulkas. Karena kulkas cukup gede untuk menyimpan gajah.

Nama saya Satria Adi Literatum. Saya suka banyak hal, mulai dari bala-bala di warung depan sekolah yang maknyus banget, susu moka dingin, cup noodles, hal-hal berbau Apple kecuali pengharum mobil. Saya suka desain, saya suka membaca buku. Saya suka humor, saya suka filsafat. Saya suka buku-buku yang kelam dan sadis. Saya suka membaca buku-buku Djenar Maesa Ayu. Saya tidak suka menusuk peniti pada kulit saya, tapi saya suka buku Nayla. Bulu hidung saya pernah nyangkut saat saya sedang mencukur kumis saya.

Mereka bilang saya garing. Karena mie keriting karena tidak direbonding. Karena rambut bisa diluruskan dengan setrika. Karena kacamata yang lensanya terbuat dari plastik dinamakan plastikmata. Karena pisang warnanya kuning karena sudah matang. Karena mangga yang asam adalah mangga yang belum matang. Karena rujak yang tidak pedas adalah rujak yang bumbunya tidak pedas. Karena mobil yang rodanya tiga adalah mobil yang ban mobilnya baru pecah dan sedang diganti dengan yang lain.

Saya Satria Adi Literatum. Mereka memanggil saya Satria. Sempat terpikir di benak saya untuk memanggil diri saya Satir, tapi sempat juga terpikir di pikiran saya sebuah pikiran bahwa saya tidak perlu memanggil diri saya sendiri. Saya senang bermain dengan logika. Saya senang dengan kesenangan. Makanan favorit saya adalah pizza. Pizza yang tipis menurut saya tidak mengenyangkan karena tidak tebal. Saya pernah berpikir, apakah berat badan benar-benar mematuhi hukum kekekalan massa? Saya juga pernah berpikir, apabila kita bisa tenggelam dalam tawa canda, maka kita bisa mati saat kita tertawa.

Mereka bilang… saya garing! Karena kucing ekornya ada satu. Karena anjing ekornya ada satu. Karena cicak ekornya ada banyak, tapi kebanyakan ditinggalin di jalan. Karena warna kuning telor adalah kuning. Karena pisang yang hijau adalah pisang yang dibungkus dengan dadar yang diberi warna dengan daun pandan, bukan pisang yang tidak matang. Karena pisang coklat adalah pisang yang berwarna coklat, bukan pisang yang ditaburi dengan meses.

Saya bernama Satria Adi Literatum. Nama saya aneh banget, saya tahu, tapi saya juga tahu, nama saya keren. Maka apakah keren berbanding lurus dengan aneh? Makanan apa yang tidak boleh dimakan? Makanan basi. Saya anak sekolah, kelas sepuluh. Orang-orang bilang, celana seragam saya berwarna abu-abu, tapi saya rasa abu-abu adalah warna yang berbeda. Saya naik sepeda ke sekolah.

Mereka bilang saya… garing. Karena kerupuk yang tidak renyah adalah kerupuk yang sudah melempem. Karena peristiwa tersebut terjadi pula pada keripik. Karena ukuran sebuah kerupuk atau keripik tergantung pada lebar huruf vokal di antara konsonan ‘p’ dan ‘k’. Karena suami Sandra Dewi bernama Fredly Glenn.

Nama saya Satria Adi Literatum. Mereka bilang, saya garing!