Abdul Muis Sang Penjual Kelapa di Jalan Dago.

Saya adalah empat roda angkot. Tapi angkotnya cuma satu, rodanya ada empat. Itulah yang membedakan sebuah fakta alias kenyataan yang nisbi, dan sesuatu yang riil, yang dapat dicium oleh mata, yang dapat dilihat oleh tangan, dan dapat dirasakan oleh hidung.

Tugas saya cuma satu: untuk mengantarkan orang. Walau begitu, kadang ada banyak rintangan yang harus saya lewati saat melaksanakannya. Mulai dari spion-spion mobil mewah yang terkadang menggiurkan untuk dipatahkan, rambu dilarang berhenti yang terlalu besar untuk dilihat, atau lampu merah yang mendadak kehilangan warna. Sungguh, berat sekali hidup saya sebagai angkot. Sebatang kara, mencari sesuap bensin di Kota Besar. Dari percakapan orang-orang yang pernah hinggap dan kentut di jok saya, saya ikut merasakan pengalaman hidup mereka. Pengalaman mereka ternyata juga sama sulitnya seperti pengalaman saya.

Pernah ada seorang gadis bermuka jelek yang bercerita pada pacarnya bahwa ia sedang hamil sepuluh bulan. Pacarnya menangis, karena sepatunya yang putih seputih sabun mandi itu ternodai oleh lumpur Sidoarjo. Dan ia juga menangis membayangkan wajah bayi yang dikandung pacarnya.

Pernah ada juga seorang transvestit berdada rata yang bercerita pada sahabatnya, yang bukan seorang transvestit, bahwa ia bercita-cita ingin mendesain villanya sendiri, dan dia ingin villa itu berbentuk seperti telor ceplok. Saya tidak bisa membayangkan dada dengan bentuk telor ceplok, eh, maksud saya villa. Jadi villa yang bertelur dada, atau telur transvestit yang diceplok di atas villa?

Tapi kisah hari ini sungguh berbeda. Tidak ada gadis bermuka jelek, tidak ada transvestit, yang sebenarnya bermuka jelek juga. Mungkin di balik raut muka yang tidak sedap dipandang itu ada jutaan makna dan ribuan butir merica, tapi semua itu tidak ada korelasi dengan kisah saya hari ini.

Hari ini, adalah hari Kamis. Besok, adalah hari Jumat. Hari ini adalah Tahun Baru. Besok adalah hari Baru, di tahun yang lama. Jadi sampai kapan sebuah Tahun dianggap baru?

Hari ini, supir yang bertugas mengendaraiku keliling Bandung bernama Encok. Tapi supaya keren, ia minta dipanggil Cekon, maka akan kupanggil dia Cekon. Satuan Intenasional untuk Waktu, katanya.

Hari ini, penumpang cukup sepi. Entah karena langit berwarna biru atau aspal berwarna abu-abu dan bukan ungu violet coklat stroberi atau apa, tapi tidak banyak penumpang yang mengentutiku hari ini. Hanya ada satu yang berak. Hmm. Yang itu bohong.

Dua kaki itu menopang badan seorang remaja yang tidak jelas alat kelaminnya. Tentu, karena terhalang oleh celana! Ia bermuka rata. Ekspresinya hampa. Pakaiannya seperti manusia. Ia naik saat beberapa warga masih sibuk mengangkat bangkai motor dari pinggir jalan. Sedihnya nasib motor itu, sepertinya orang ini adalah tersangka yang menodainya. Apakah motor itu menjadi bangkai karena dinodai oleh orang ini? Jika iya, bagaimana cara menodainya? Seperkasa apakah orang ini sehingga motor bisa bertekuk lutut? Di manakah lutut motor?

Ia naik. Ia terguling dan terhempas dengan dahsyat ke lantai. Mengapa? Gaya kelembaman, teman. Rem diinjak secara mendadak oleh Cekon, entah karena alesan apa. Kakinya kram, sepertinya. Atau kakinya encok? Atau kakinya tremor? Atau kakinya ada dua?

Ia tidak bangun! Apakah ia mati? Jika ia mati, berarti ia tidak hidup, bukan tidak bangun. Tapi tubuhnya bergerak-gerak dengan dahsyat seperti kesurupan. Lalu mulutnya membuka lebar. Dan air liur menyembur dengan dahsyat ke seluruh penjuru. Berkat gravitasi, air liur itu kembali lagi. Begitu seterusnya, sampai seekor lalat (sejak kapan lalat berekor?) yang kepanasan ingin berenang di dalamnya. Saya tidak usah bercerita apa kelanjutannya, terka sendiri.

Keadaan mulai terkendali ketika saya dibelokkan paksa ke lobi sebuah mall. Dua kaki besar menyangga tubuh besar seorang besar yang berdada tidak rata, tapi sepertinya ia Pria. Wajahnya bingung, seperti Nabi Nuh ketika disuruh membuat bendungan. Pantas saja dunia pernah kiamat, sepertinya Nabi Nuh salah membaca buku manual. Lanjut. Pria berdada tidak rata ini hanya mengintip, memandang wajah Cekon dengan penuh nafsu.

“Mas…”

Cekon diam.

“Mang…”

“Pak…”

Pria berdada membuka pintu. Tapi pintu Angkot selalu terbuka.

Cekon terus diam.

Pria berdada naik. Angkot berjalan.

“Pak, tunggu! Saya mau ke Dago Asri. Argonya tolong dinyalain ya.”

Saya terdiam sambil berjalan.

Lalu di sebuah lampu merah yang bagi saya  tidak berwarna muncul seorang gadis entah dari mana. Untung kakinya menginjak tanah. Ia tampak memperhatikan tulisan yang ada di samping badan saya. Setelah sebelumnya melakukan hal terunik yang pernah saya lihat di dunia.

“Mas, ini Angkot kan?” si gadis bermuka satu itu bertanya.

Cekon diam. Karena gadis ini tidak bertanya padanya.

“Apah? Bukan atuh, neng. Saya mah orang biasa lagi naek motor, ini teh lagi nunggu anak saya yang ada di dalam, lagi les belajar.” seorang bokap-bokap beretnis kental sedang duduk di atas motornya, penuh dengan kebingungan dilanda sebuah pertanyaan yang telah mengubah hidupnya. Hm, ga juga sih kayanya.

Saya heran. Perasaan saya, si gadis aneh itu telah melihat nama yang tertera pada kulit saya, tapi kenapa dia masih tidak tau saya itu angkot ya? Oh iya, tulisan di kulit saya bukan ANGKOT. Tapi Angkutan Kota. Pantesan gadis itu bingung. Hm.

Gadis itu mendekat. Oh tidak, sepertinya dia berbahaya. Seperti musuh saya, si angkot jurusan Sabang-Merauke.

“Mbas?” Si gadis bingung itu bertanya pada Cekon. Memadukan panggilan Mba dan Mas.

“Ini angkot?”

Cekon terdiam sekali lagi. Lalu bersin dan langsung minum tulak angin. Hm bukan iklan.

“Hello? Is this eengkhoot?”

Pria berdada diam. Remaja tanpa kelamin masih sibuk menghangatkan lalat yang ada di mulutnya.

Roda saya masih empat. Saya bersyukur, belum berkurang satu. Sungguh tidak wajar sih, bagaimana bisa rodaku masih empat saat bumi masih berputar? Dunia memang terkadang tidak logis, tapi begitu pula gadis rimba makan pisang ini.

Gadis itu tidak mengenal angkot. Sebuah kendaraan perkasa beroda empat seperti saya, gadis itu tidak kenal. Padahal saya sering main film.

Saya sedih. Gadis itu masuk, lalu gadis itu duduk. Dengan wajahnya yang cengo, ia menengok kiri-kanan.

Pria berdada sepertinya sibuk dengan sebuah benda yang bentuknya aneh. Panjang, lebar, tebal, ringan, dan berkondom.

Tunggu.

Apakah itu?

“Pake Blackberry juga ya?” Sang gadis bertanya pada si pria berdada. Saya menguping pembicaraan mereka.

“Iya, tapi saya sebenarnya nggak suka. Saya pengen banting Curve ini. Kamu pake Curve juga? Bagus ya memang… keduanya.”

Saya terkejut. Selain berdada, pria itu juga baku, grogi, dan tidak jelas. Sebagai angkot yang jumawa berwibawa, saya tidak mengerti yang mereka bicarakan. Sepertinya tentang buah.

“Heh? Maaf ya, aku sih pake yang BOLD. Tebal. Dan kalau di Indonesia sih sekitar 8 jutaan harganya.” Gadis ini sombong, saya pikir. Angkot bisa berpikir, asyik ya. (pake Y)

“Oh em.. iya, saya sih yang Curve aja yang murahan seharga 4 jutaan doang… Kondom kamu lucu ya kelihatannya!”

“HAH! Aku? Pake kondom? Say what! Aku kan cewek!”

“Oooh… eeehm… maksud saya… Blackberrynya.”

“YA AMPUN IYA DONG! aku tuh punya warna baby blue, school bus yellow, asparagus, red blood (merah darah), lavender magenta, azure, ultra violet, sama warna tidak ada warna. Keren kan?” Kata si gadis ahli pelangi.

“Waduh, lengkap ya.. Saya jadi minder nih. Cuma punya warna putih, abu-abu, dark turquoise, deep carmine pink, dan electric black. Oya, Boleh minta pin-nya?”

“Ehm, pin ya? Hm.. 881190..??”

“HAHAHAHA! Eh.. maksud saya.. Wah kok pin-nya sedikit ya? Mungkin Bold beda sama Curve ya hahaha, ehm.” Saya tau pria berdada ini sedang menertawakan gadis yang berdada itu juga. Walau beda ukuran.

“Iya dong pastinya beda. Dari harga juga uda beda gitu. Beda. Banget.” Gadis itu menjawab dengan sok tau.

“Oh ya kenalan dulu, saya Bram.”

“Aku Kya. Kiara sih, tapi yaudalah Kya aja. Lebih asik aja kan? Iya dong. Eh, kenalan jaman sekarang kok cuma salaman? Hello! It’s soo… freaking last year. Sekarang tuh jamannya facebook tau! Nggak ngeadd, nggak asik.”

“E-mailnya apa? Boleh minta?”

“BABYGURL69@YAHOO.COM. Kamu?”

“HAHAHAHAHA! Eh maksud saya… oh baby gurl ya, sixty nine… yaya… bagus ya emailnya. E-mail saya sih ga sebagus kamu kya, cuma brambram@brimbrembrom.com”

“Hihi lucu juga e-mailnya. Tapi biasa aja deng.”

Saya sungguh bingung dengan setiap kata aneh yang mereka bicarakan. Saya, sebagai angkot, merasa ketinggalan zaman dan udah nggak fashionable. Saya malu. Apa itu e-mail? Ada stripnya… jangan-jangan jurusan angkot juga? E ke mail?

Aku menggeleng-gelengkan kepala (emang ada ya?). Tidak ada jurusan angkot e-mail. Saya tahu yakin, karena saya bukan tempe yakin.

Pandangan saya tertuju pada remaja tidak berkelamin. Seekor lalat tak berekor yang tadi ber-spa di linangan air liurnya sekarang ditemani dua buah ekor lalat tak berbuah ekor juga tak berekor buah. Saya bingung, sebenarnya lalat itu ekor atau buah? Buah atau ekor, buah berekor itu sekarang telah koit. Ah, seperti nama ikan saja.

Air liur remaja tak berkelamin telah merebus tiga ekor berbuah lalat tak berbuah ekor. Tapi aku tidak khawatir apa bila cairan laknat itu menetes sampai di lantaiku, karena aku adalah angkot perkasa.

Tapi aku tidak pernah memperkosa.

Pria berdada itu memelototkan matanya (kata apaan tuh?). Matanya sekarang melotot. Lalu ia menyipitkan matanya, dan matanya sekarang sipit. Lalu ia kembali memelototkan matanya, matanya memelotot, dan tiba-tiba, saya merasakan sebuah aura yang aneh. Gelambir-gelambir lemak di seluruh tubuh pria berdada tiba-tiba bergoyang gergaji.

Bibirnya mulai cerai. Maksudnya, bibirnya mulai membuka. Saya menekan tombol slow-motion. Perlahan demi perlahan, karena lagi slow-motion, mulutnya terbuka dan pita suaranya mulai bergetar. Mantra-mantra sakti mandraguna mulai diucapnya.

“Kkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk”

Persetan dengan slow-motion.

“Kanan!”

Apa katanya? Bakwan? Tekwan?

Saya hanya bercanda. Bagaimana mungkin saya tidak tahu apa yang ia katakan, saat saya sedang menulisnya di sini?

Ehem. Kanan, katanya? Dada berpria ini tingkah lakunya sungguh aneh. Untuk apa dada seorang pria, eh, seorang pria berdada, berkata ‘kanan’ di dalam sebuah angkot?

Tunggu, saya curiga. Mungkin itu adalah sebuah mantra sakti.

Jadi Dada itu selama ini bukan seorang wanita? Aku telah dibohongi sekian lama oleh sahabat-sahabat karibku. Aku benci mereka.

Tidak ada yang aneh. Rodaku masih empat, bulat-bulat seperti baso.

“Pak! Mas! Kang! Kanan!” Pria Berdada Bergoyang berteriak dengan begitu semangat sehingga mendadak saya kehilangan keseimbangan. Saya bukan truk pengangkut beras, bukan juga beras pengangkut truk, dan kehadiran pria ini sungguh mengganggu, juga ganggu ini menghadirkan pria sungguhan. (lho?)

“Eh… siapa tadi? Brom? Brem? Siapapun kamu deh. Kamu mau ngapain? Ada apa di kanan?” tanya sang wanita. Dadanya tidak bergoyang, berbeda dengan pria berdada.

“T…t…t… turun! Rumah! Ibu!”

“OH MY HOLY FREAKING GODDESS! It’s my home too, Bram! Eh bukan deng. Haha.”

“T… t… t… tapi gimana s… s… saya bisa turun! Saya mau pulang! Saya mau pulang!”

Saya juga mau pria berdada itu pulang. Kami berkeinginan sama, mungkinkah kami jodoh? Tapi, jangan sampai. Saya tak sampai hati. Saya sampai Dago.

“Wah! Kamu mau pulang? Ya udah, pulang aja! Jangan pergi-pergi.”

“BUKAN! SAYA MAU TURUN!”

“AH! TURUN! Aku juga mau. Tapi nanti. Haha. Sekarang mau BB-ing in da club dulu biar kaya 50 cent. Cie ile (gaya bicara taun 90an) gaul banget ya aku?”

“TOLOONG! TOLOONG! SAYA MAU TURUN!”

Pria berdada bergetar hebat, dadanya menampar semua hal yang ada di muka bumi ini. Tunggu, itu sih adegan di The Simpsons Movie. Maksud saya, dia mulai membenturkan benda panjang, lebar, tebal, ringan, dan berkondom yang sedari tadi ia pegang erat. Benda itu terus terbentur dengan parah!

“EEH! WHAT ARE YOU DOING WITH THAT FREAKIN’ BEE-BEE OF YOURS?” Ehem. Ratu singkatan.

“Oh, ini. Nggak, supaya dramatis aja. PAK! MAS! KANG! SAYA MAU TURUN!”

“Hmm. (annoyed). Eh, kebawa-bawa emoticons di Plurk nih! Anyway, coba deh panggilnya Mbas! Siapa tahu dia berkelamin ganda!”

“MBAS! TURUN! KANAN!”

Dan Cekon tidak bergeming. Ia tidak peka terhadap kata-kata lain selain… K… K… K….

“Kiri.”

Remaja tak berkelamin bangkit dari kematiannya. Air liur menderas dari mulutnya layaknya air terjun Niagara-gara! Eh, kalau saya nggak salah, itu kan wahana dufan? Ah dasar nih, kebanyakan chatting sama mikrolet Jakarta. (HAHA) Tiga lalat tak berdaya berjatuhan dengan kecepatan cepat (hmm redundan), menabrak lantai-lantaiku yang begitu Suci, layaknya sinetron di sebuah stasiun tivi.

Pria Dada dan Wanita Dada sama-sama terdiam. Melongo. Melotot. Menari. Menyanyi. Mari semua dansa denganku. Wah, Aura Kasih tiba-tiba muncul sebagai cameo.

Saya minggir, menabrak tiga motor, satu APV, satu ojeg, dan sejuta empat ratus pangkat tiga ratus lima belas debu-debu yang berterbangan. Cekon melakukan belokan mendadak, rem mendecit, saya beraksi drifting. Dan cerita ini pun berubah menjadi…

THE FAST AND THE FURIOUS: WHADDUP’ A!? (A for Angkot, not Agnezzzzz, or you can just call her NYEZ)

Sekali lagi, saya berbohong. Maaf, pembaca yang budiman, budiwati. Yang pasti, saya berhenti, jalanan terbelah oleh tongkat nabi Musa.

Pria berdada masih melongo. Wanita berdada sibuk mengobrol dengan Aura Kasih, tukeran PIN Blackberry. Lho, sejak kapan ada Aura Kasih?

“Kamu… Kamu… KAMU!” Pria berdada terus melotot hingga matanya akan keluar, seperti di film GERGAJI. (ehem) Tapi sayang, kacamata itu menahannya. Coba saja kalau tidak, tulisan ini pasti akan dapat rating R. Rasainlhomuntahmuntahnontonfilmpenuhdarah.

“Gue? Laki-laki.”

Akhirnya, pertanyaan itu terjawab juga. Dia wanita, tapi dia berbohong!

“Kamu pahlawan saya!” Pria Berdada memandang dengan penuh nafsu dan harapan dan kekaguman. Kenapa harus ada kata nafsu ya? Saya jadi agak-agak…

“PAHLAWAN BERTOPENG! DJDHUAR! DJDHUAR!”

Mendadak, remaja-wanita-tanpa-kelamin-yang-ngaku-laki-laki lupa daratan. (gimana cara lupanya?) Dia menendang-nendang dengan begitu bertenaga layaknya seorang mantan atlet Tae Kwon Do yang tiba-tiba beralih haluan menjadi desainer gadungan!

Saya kesakitan! Saya ternoda! Ternyata, malang nasib musuh saya, motor. Memang remaja ini yang menodai dia hingga jadi bangkai! Aku tidak mau ternoda dan jadi bangkai! Ampun DiJe! (jaman kapan, mas?)

“WHAT THE HEAL (PENYEMBUHAN)! Apa-apaan ini? Aku mau turun!” tiba-tiba sang wanita mendadak peduli, setelah Aura Kasih mengaku bahwa dirinya hanyalah imajinasi sang Angkot yang berlebihan. (kok bingung ya?)

“Dia, ternyata Pahlawan Bertopeng!”

Remaja-wanita-tanpa-kelamin-yang-ngaku-laki-laki (duh cape ngetiknya) terus-terusan menendang hingga dia terguling ke tanah. Pintu terbuka. (bukannya dari awal emang udah kebuka ya?) Kedua pasang dada menghambur keluar pintu.

“KIA! DIA PAHLAWAN SAYA!”

“Eh, apaan itu K-I-A? Mobil, hah? Nama aku tuh ya, harus pake Why!”

“Why Kia! DIA PAHLAWAN SAYA!”

“APAAN ITU WHY KIA? WAI. YE. Y. Igrek. (HAHA IGREK, MEK) Kaya temen aku yang gaul itu, Mymy! Eh bukan mi-mi bacanya! May may.”

“KYA! DIA PAHLAWAN SAYA!”

“Bukan! Gue… Satria. Add facebook gue ya, s@tr.ia.”

“KYA! DIA TERNYATA SATRIA BAJA HITAM! YA TUHAN, SAYA NGGAK PERNAH KELEWATAN SHOW ANDA DI INDONESIAR. MY FAFORIT HERO!”

“Eeew… faforit? FAVORITE kali! feiveritch pelafalannya!”

Dan saya terdiam. Menunggu untuk tahu namamu… Uoo… Lho, kerasukan roh-nya Angga Maliq.

Kenapa saya diam? Ada apa ini? Cekon! Injak gas-nya! Tekan! Ah, pas, bagian situ! Aww! Rrrr! Wuenakke Pol! Auuuh… auuuh…

Tapi dia berhenti lagi. ADA APA?

Dan Cekon bergerak, untuk pertama kalinya dalam cerita ini!

“Kalian, turun disini? Mana uangnya?”

Dan, seperti di anime-anime Jepang, dan lagu single Intan Nuraeni…

GUBRAK! -_-;

Mana es kelapanya? Saya haus!

5 Comments

  1. Posted 2 January 2009 at 01.35 | Permalink

    BBB dan BBBB
    bukan benang biasa dan bukan blackberry biasa

    nice!

  2. Posted 2 January 2009 at 08.53 | Permalink

    kebayang kalo gw naek angkot yg ada orang ngacay2 ga jelas gitu. hahaha gokil.

  3. Posted 2 January 2009 at 18.24 | Permalink

    siiing krik krik. ngekngok.

  4. Posted 3 January 2009 at 15.58 | Permalink

    ANGKOT!

  5. largeww
    Posted 7 January 2009 at 22.12 | Permalink

    jatuh cinta sama postingan ini. haha.

One Trackback

  1. By Live High, Live Mighty. at simplyiyo. on 4 January 2009 at 10.58

    [...] hanya bisa bilang: Amyn. Pake Y, biar gaul! [...]

Post a Comment

Your email is never shared. Required fields are marked *

*
*