Gunakan Hatimu!

Halo dunia, selamat hari Senin! Bagi bapak dan ibu yang bekerja (termasuk bapak dan ibu saya), Selamat Bekerja! Carilah uang sebanyak-banyaknya. Bagi rekan-rekan yang ada di Jakarta, selamat bangun pagi! Maksud saya, selamat menjalankan ibadah sekolah. Hehehe, sekolah itu ibadah lho! Dan bagi orang-orang seperti saya yang masih punya waktu satu minggu untuk santai di rumah, saran saya, pergunakan waktu kalian dengan sebaik mungkin. Mungkin dengan membaca blog saya lalu berkomentar? Nice idea.

Oke, mungkin tulisan kali ini tidak belum bisa saya kategorikan sebagai Foodilosophy. Cuma catatan harian saja.

Baiklah, seperti apa yang saya bilang di Tahun Baru kemarin, saya pengen banget bisa berbaur. Yaa, bukan berarti saya anti-sosial juga sih. Saya masih inget kok kaya apa rasanya ada di rapat OSIS, berdebat habis-habisan soal anggaran event. Dan OSIS juga mengajarkan saya buat jadi lebih peduli dan peka sama lingkungan sendiri. OSIS juga ngajarin saya buat baca koran. Ya, koran. Bukan situs internet, karena waktu itu yang kita cari cuma media partners, sponsor, peralatan panggung dan lighting. Semua itu adanya di koran, kan? Sebagai bendahara ngawur saat itu saya harus teliti ngebaca iklan satu-satu, terus nelepon ke setiap nomer telepon yang ada. Ah, saya kangen banget masa-masa itu.

Tapi anyway, kebiasaan saya baca koran Alhamdulillah masih kebawa-bawa sampai sekarang. Saya dulu emang cuma liat iklan (dan harga handphone, hehe), tapi lama-kelamaan saya baca juga beritanya. Awalnya sih cuma berita Showbiz, jadwal bioskop (padahal mau nonton sama siapa juga saya ngga tahu), sama berita nggak penting lainnya. Tapi lama-lama mulai baca Headlinenya, mulai baca halaman bisnisnya, dan halaman lain juga. Satu-satunya yang nggak saya baca cuma halaman Olahraga, soalnya saya nggak ngerti yang gituan.

Pagi ini saya baca koran lagi. Bangun tidur sambil minum lemon tea hangat. Awalnya saya biasa-biasa aja liat headlinenya. Tapi begitu saya baca artikelnya… Astagfirullah.

Dua foto beserta keterangannya ini yang mengguncang hati saya:

Israel Masuki “Jantung” Gaza


Seorang pria Palestina yang terluka digotong ke rumah sakit, Minggu (4/1). Rudal Israel yang menghantam pusat perbelanjaan utama di Gaza City menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai 40 orang yang semuanya adalah warga sipil Palestina.

Israel Brutal, Sengaja Bom Masjid

Israel Brutal, Sengaja Bom Masjid

Militer Israel membombardir Jalur Gaza dari darat, laut dan udara sepanjang Sabtu sebagai sinyal meningkatnya ofensif mereka terhadap Hamas di kantong Palestina di Gaza sementara tank dan pasukan darat bersiap di sepanjang perbatasan untuk sebuah serangan darat ke Gaza.

Dalam sebuah insiden paling berdarah hari itu, sebuah serangan udara yang mengenai satu masjid telah menewaskan 11 warga Palestina termasuk anak-anak dan lusinan wanita selagi menunaikan ibadah shalat.

Menewaskan dua belas orang di pusat perbelanjaan?
Menewaskan sebelas orang di Masjid, semuanya sedang Shalat?

Sebentar, sebelumnya saya pengen cerita sedikit soal sikap saya. Saya tahu, Israel menyerang Palestina secara brutal. Saya juga tahu banyak banget orang yang simpati. Orang pengen berjihad. Lebih dari satu SMS nyampe ke Blackberry saya, isinya kebanyakan pesan berantai. Ada yang minta kita supaya berdoa, membaca potongan-potongan ayat Tuhan. Ada juga yang memotong pulsa kita untuk sumbangan. Saya tahu semuanya. Tapi saya… Nggak peduli! Saya udah terlalu tenggelam bareng internet, bareng messenger dan push mails yang berderu nggak henti-hentinya. Dunia saya cuma sebatas layar. Tiga puluh dua inchi, tiga belas inchi, dan dua koma empat inchi. Cuma sesimpel dan sedangkal itu.

Saya ngeliat. Saya nangkep maknanya. Saya pura-pura berfilosofi. Tapi saya tidak pernah ngeliat dengan hati.
Tapi dua artikel tadi udah mengguncang hati saya sampai ke akar-akarnya. Saya cepet-cepet buka YouTube. Al Jazeera Channel bilang kalau Israel secara blak-blakan memajang “keberhasilan” mereka meratakan masjid di Palestina. Dan saya menemukannya. Lihat sendiri. Apakah kamu udah ngeliat dengan hati?

Udah dilihat? Udah ngerasain perasaan itu? Saya nggak cuma bicara atas nama sesama Muslim. Saya ingin bicara kepada seluruh dunia.

Sekarang bayangin. Dengan trendy-nya kamu jalan-jalan di pelataran parkir mall PVJ yang begitu megah itu, nenteng Blackberry dengan “kondom” warna-warni. Secara tiba-tiba, baru aja kamu sampae cafe di depan, sebuah roket mendarat di tengah mall itu, meruntuhkan semua yang ada di atasnya. Kamu sih masih beruntung dapat hidup, walau sebagian tangan kamu ilang karena ketimpa lampu neon blitzmegaplex. Tapi gimana nasib ibumu yang lagi beli daging di Carrefour? Gimana nasib kakakmu yang lagi ngurus kucingnya di Pet Shop? Semua mahkluk malang itu (manusia, maksudnya) terjebak di Basement 1 dan Basement 2, tanpa eskalator, tanpa oksigen. Yang ada cuma tangis, dan darah. Darah.

Ayo bayangin lagi. Kamu tahu sekarang lagi ada perang. Sebagai manusia berakal yang masih percaya Tuhan kamu lari ke tempat ibadah terdekat. Apakah masjid, apakah gereja, apakah vihara, saya nggak peduli. Saat kamu lagi menangis mati-matian dalam do’amu tiba-tiba seolah Tuhan menjawabnya dengan cara yang nggak pernah kamu duga. Tempat ibadah itu meledak. Tubuhmu juga. Jiwamu terbang entah kemana.

Maafin saya atas ilustrasi yang terlalu menyeramkan tadi. Saya cuma ngebayangin, saya coba terjemahin. Masih banyak diantara kita yang nggak peduli dan malah asyik main Blackberry (hayo, hitung berapa kata Blackberry dalam tulisan ini! Hehehe). Saya juga seperti itu. Saya juga! Tapi dulu.

Sekarang, dengan segala kerendahan hati sebagai seorang manusia dan penulis nggak berpengalaman, saya meminta anda yang membaca tulisan ini, untuk menggunakan hati anda. Gunakan nurani anda sebagai seorang manusia.

Saya juga bukan tipe orang yang langsung bergerak jihad. Bukan juga tipe orang yang rela ngeluarin duit gede-gedean buat nyumbang sana-sini (duh, buka aib sendiri nomer #1335: pelit). Saya disini cuma bisa berdoa, dan berdoa, dan terus berdoa. Dan juga nulis ini. Bukan buat tujuan apa-apa, bukan maksa kamu yang non-Muslim dan pro-Israel buat debat abis-abisan. Saya cuma pengen kita semua sama-sama peduli. Salah satu kepedulian saya sih yaitu dengan ngabisin sisa pulsa saya buat ngirim sms donasi ke MER-C. Caranya lumayan gampang, ketik aja MERC PEDULI, kirim ke 7505. Saya nggak peduli kalau uang itu bakal nyampe atau nggak, organisasinya dibackup partai atau nggak. Yang penting semoga Tuhan (milik saya, milik kamu, milik semua orang) sudah mencatat ketulusan dan do’a kita semua. Dan juga saya pengen, masa-masa terakhir Blackberry saya digunakan buat kebaikan.

Eh, saya belum cerita ya? Saya emang niat ngejual Curve ini, karena saya emang nggak butuh! Saya ga suka terlalu sibuk sama messenger atau push mail, karena semua orang-orang di mailing list atau BBM, YM, itu kan cuma teman-teman maya. Saya menghargai mereka, tapi saya pikir nggak seharusnya juga kita jadi sibuk dan lupa dunia nyata, kan? Alat ini cuma penghalang saya buat ngeliat pake hati! Eits, tapi buat yang mau beli secondnya, udah ga bisa! Soalnya saya jual ke sodara sepupu kok. Hehehe.

Jujur, uang penjualannya emang nggak saya sumbangin buat Palestina atau gempa Manokwari. Tapi saya malah mengganti bentuk Blackberry itu menjadi…

Sanyo Xacti DMX-HD700, merah. Hehehe.

Kenapa? Karena Blackberry Curve nggak bisa ngerekam video, dan kameranya jelek. Kedua, karena saya pengen belajar bikin video atau film pendek sendiri. Ketiga, saya pengen nanti Foodilosophy sama review makanan yang saya bikin, bisa dilengkapin pake video. Keempat, kalau tiba-tiba di PVJ beneran ada bom, kan bisa saya rekam. Lumayan bisa dijual ke REUTERS. NAUDZUBILLAHIMINDALIK DEH!

Yang sedang melihat dengan hati (serta merekam dengan resolusi HD),
Bramarartha.

Ayam

Ayam.

Chicken, ciken, yah, apapunlah itu.

Ayam.

Ayam itu enak, maka aku suka ayam. Aku suka makan ayam.

Ayam goreng, ayam digoreng, goreng ayam…

Semur ayam, ayam disemur, ayam semur…

Ayam direbus, ayam rebus, rebus ayam.

Ah, ayam.

Betapa aku cinta ayam.

Mereka bilang daging kamu putih, tapi mereka salah!

Saat kamu disembelih, dipotong, dicincang, atau di-apapunlah-itu-namanya, dagingmu merah! Merah karena darah! Darahmu, ayam. Darah ayam segar.

Kalau bukan darah ayam segar, mungkin darah yang memotongnya. Kalau begitu, kasihan sekali orang itu, darah segarnya membasuhi dagingmu, wahai ayam. Ayam, berilah orang malang itu plester, mungkin pakai obat merah juga. Ayam, sepertinya orang itu dari Malang. Ayam sendiri dari mana?

Daging ayam juga bisa hitam. Misalnya, rawon ayam. Tapi bukan tawon ayam lho ya. Tawon ayam warnanya kuning-hitam (sok tau), rawon ayam warnanya hitam. Hitam, karena dihitamkan. Ya, ayam hitam – disingkat menjadi AHIT atau ATAM atau AH AH AH aja sudah cukup mewakili.

Ah, ayam hitam.

Ayam biru juga ada lho! Bagaimana caranya? Sungguhlah mudah. Pakailah kacamata kuda atau kacamata delman yang berlensa biru. Maka daging ayam akan menjadi biru, seperti barang-barang lain di dunia dari sudut pandang mata Anda, dan hidup Anda pun akan bahagia, bersama ayam.

Ayam, warna apapun kamu, aku akan tetap mencintaimu.

Saat aku menggigitmu, kau membalas gigitanku dengan resultan gaya yang berbanding lurus dengan resultan gaya-gaya yang terjadi akibat gigitanku… Dagingmu lembut, kalau memang lagi lembut, keras, kalau memang lagi keras, renyah, kalau sedikit gosong, atau memang digoreng atau direbus menjadi renyah. Apapun sifat-sifat dagingmu, engkau tetaplah ayam, dan aku tetap mencintaimu.

Ayam, oh ayam. Aku cinta ayam.

Karena kamu adalah ayam, dan ayam adalah kamu.

Abdul Muis Sang Penjual Kelapa di Jalan Dago.

Saya adalah empat roda angkot. Tapi angkotnya cuma satu, rodanya ada empat. Itulah yang membedakan sebuah fakta alias kenyataan yang nisbi, dan sesuatu yang riil, yang dapat dicium oleh mata, yang dapat dilihat oleh tangan, dan dapat dirasakan oleh hidung.

Tugas saya cuma satu: untuk mengantarkan orang. Walau begitu, kadang ada banyak rintangan yang harus saya lewati saat melaksanakannya. Mulai dari spion-spion mobil mewah yang terkadang menggiurkan untuk dipatahkan, rambu dilarang berhenti yang terlalu besar untuk dilihat, atau lampu merah yang mendadak kehilangan warna. Sungguh, berat sekali hidup saya sebagai angkot. Sebatang kara, mencari sesuap bensin di Kota Besar. Dari percakapan orang-orang yang pernah hinggap dan kentut di jok saya, saya ikut merasakan pengalaman hidup mereka. Pengalaman mereka ternyata juga sama sulitnya seperti pengalaman saya.

Pernah ada seorang gadis bermuka jelek yang bercerita pada pacarnya bahwa ia sedang hamil sepuluh bulan. Pacarnya menangis, karena sepatunya yang putih seputih sabun mandi itu ternodai oleh lumpur Sidoarjo. Dan ia juga menangis membayangkan wajah bayi yang dikandung pacarnya.

Pernah ada juga seorang transvestit berdada rata yang bercerita pada sahabatnya, yang bukan seorang transvestit, bahwa ia bercita-cita ingin mendesain villanya sendiri, dan dia ingin villa itu berbentuk seperti telor ceplok. Saya tidak bisa membayangkan dada dengan bentuk telor ceplok, eh, maksud saya villa. Jadi villa yang bertelur dada, atau telur transvestit yang diceplok di atas villa?

Tapi kisah hari ini sungguh berbeda. Tidak ada gadis bermuka jelek, tidak ada transvestit, yang sebenarnya bermuka jelek juga. Mungkin di balik raut muka yang tidak sedap dipandang itu ada jutaan makna dan ribuan butir merica, tapi semua itu tidak ada korelasi dengan kisah saya hari ini.

Hari ini, adalah hari Kamis. Besok, adalah hari Jumat. Hari ini adalah Tahun Baru. Besok adalah hari Baru, di tahun yang lama. Jadi sampai kapan sebuah Tahun dianggap baru?

Hari ini, supir yang bertugas mengendaraiku keliling Bandung bernama Encok. Tapi supaya keren, ia minta dipanggil Cekon, maka akan kupanggil dia Cekon. Satuan Intenasional untuk Waktu, katanya.

Hari ini, penumpang cukup sepi. Entah karena langit berwarna biru atau aspal berwarna abu-abu dan bukan ungu violet coklat stroberi atau apa, tapi tidak banyak penumpang yang mengentutiku hari ini. Hanya ada satu yang berak. Hmm. Yang itu bohong.

Dua kaki itu menopang badan seorang remaja yang tidak jelas alat kelaminnya. Tentu, karena terhalang oleh celana! Ia bermuka rata. Ekspresinya hampa. Pakaiannya seperti manusia. Ia naik saat beberapa warga masih sibuk mengangkat bangkai motor dari pinggir jalan. Sedihnya nasib motor itu, sepertinya orang ini adalah tersangka yang menodainya. Apakah motor itu menjadi bangkai karena dinodai oleh orang ini? Jika iya, bagaimana cara menodainya? Seperkasa apakah orang ini sehingga motor bisa bertekuk lutut? Di manakah lutut motor?

Ia naik. Ia terguling dan terhempas dengan dahsyat ke lantai. Mengapa? Gaya kelembaman, teman. Rem diinjak secara mendadak oleh Cekon, entah karena alesan apa. Kakinya kram, sepertinya. Atau kakinya encok? Atau kakinya tremor? Atau kakinya ada dua?

Ia tidak bangun! Apakah ia mati? Jika ia mati, berarti ia tidak hidup, bukan tidak bangun. Tapi tubuhnya bergerak-gerak dengan dahsyat seperti kesurupan. Lalu mulutnya membuka lebar. Dan air liur menyembur dengan dahsyat ke seluruh penjuru. Berkat gravitasi, air liur itu kembali lagi. Begitu seterusnya, sampai seekor lalat (sejak kapan lalat berekor?) yang kepanasan ingin berenang di dalamnya. Saya tidak usah bercerita apa kelanjutannya, terka sendiri.

Keadaan mulai terkendali ketika saya dibelokkan paksa ke lobi sebuah mall. Dua kaki besar menyangga tubuh besar seorang besar yang berdada tidak rata, tapi sepertinya ia Pria. Wajahnya bingung, seperti Nabi Nuh ketika disuruh membuat bendungan. Pantas saja dunia pernah kiamat, sepertinya Nabi Nuh salah membaca buku manual. Lanjut. Pria berdada tidak rata ini hanya mengintip, memandang wajah Cekon dengan penuh nafsu.

“Mas…”

Cekon diam.

“Mang…”

“Pak…”

Pria berdada membuka pintu. Tapi pintu Angkot selalu terbuka.

Cekon terus diam.

Pria berdada naik. Angkot berjalan.

“Pak, tunggu! Saya mau ke Dago Asri. Argonya tolong dinyalain ya.”

Saya terdiam sambil berjalan.

Lalu di sebuah lampu merah yang bagi saya  tidak berwarna muncul seorang gadis entah dari mana. Untung kakinya menginjak tanah. Ia tampak memperhatikan tulisan yang ada di samping badan saya. Setelah sebelumnya melakukan hal terunik yang pernah saya lihat di dunia.

“Mas, ini Angkot kan?” si gadis bermuka satu itu bertanya.

Cekon diam. Karena gadis ini tidak bertanya padanya.

“Apah? Bukan atuh, neng. Saya mah orang biasa lagi naek motor, ini teh lagi nunggu anak saya yang ada di dalam, lagi les belajar.” seorang bokap-bokap beretnis kental sedang duduk di atas motornya, penuh dengan kebingungan dilanda sebuah pertanyaan yang telah mengubah hidupnya. Hm, ga juga sih kayanya.

Saya heran. Perasaan saya, si gadis aneh itu telah melihat nama yang tertera pada kulit saya, tapi kenapa dia masih tidak tau saya itu angkot ya? Oh iya, tulisan di kulit saya bukan ANGKOT. Tapi Angkutan Kota. Pantesan gadis itu bingung. Hm.

Gadis itu mendekat. Oh tidak, sepertinya dia berbahaya. Seperti musuh saya, si angkot jurusan Sabang-Merauke.

“Mbas?” Si gadis bingung itu bertanya pada Cekon. Memadukan panggilan Mba dan Mas.

“Ini angkot?”

Cekon terdiam sekali lagi. Lalu bersin dan langsung minum tulak angin. Hm bukan iklan.

“Hello? Is this eengkhoot?”

Pria berdada diam. Remaja tanpa kelamin masih sibuk menghangatkan lalat yang ada di mulutnya.

Roda saya masih empat. Saya bersyukur, belum berkurang satu. Sungguh tidak wajar sih, bagaimana bisa rodaku masih empat saat bumi masih berputar? Dunia memang terkadang tidak logis, tapi begitu pula gadis rimba makan pisang ini.

Gadis itu tidak mengenal angkot. Sebuah kendaraan perkasa beroda empat seperti saya, gadis itu tidak kenal. Padahal saya sering main film.

Saya sedih. Gadis itu masuk, lalu gadis itu duduk. Dengan wajahnya yang cengo, ia menengok kiri-kanan.

Pria berdada sepertinya sibuk dengan sebuah benda yang bentuknya aneh. Panjang, lebar, tebal, ringan, dan berkondom.

Tunggu.

Apakah itu?

“Pake Blackberry juga ya?” Sang gadis bertanya pada si pria berdada. Saya menguping pembicaraan mereka.

“Iya, tapi saya sebenarnya nggak suka. Saya pengen banting Curve ini. Kamu pake Curve juga? Bagus ya memang… keduanya.”

Saya terkejut. Selain berdada, pria itu juga baku, grogi, dan tidak jelas. Sebagai angkot yang jumawa berwibawa, saya tidak mengerti yang mereka bicarakan. Sepertinya tentang buah.

“Heh? Maaf ya, aku sih pake yang BOLD. Tebal. Dan kalau di Indonesia sih sekitar 8 jutaan harganya.” Gadis ini sombong, saya pikir. Angkot bisa berpikir, asyik ya. (pake Y)

“Oh em.. iya, saya sih yang Curve aja yang murahan seharga 4 jutaan doang… Kondom kamu lucu ya kelihatannya!”

“HAH! Aku? Pake kondom? Say what! Aku kan cewek!”

“Oooh… eeehm… maksud saya… Blackberrynya.”

“YA AMPUN IYA DONG! aku tuh punya warna baby blue, school bus yellow, asparagus, red blood (merah darah), lavender magenta, azure, ultra violet, sama warna tidak ada warna. Keren kan?” Kata si gadis ahli pelangi.

“Waduh, lengkap ya.. Saya jadi minder nih. Cuma punya warna putih, abu-abu, dark turquoise, deep carmine pink, dan electric black. Oya, Boleh minta pin-nya?”

“Ehm, pin ya? Hm.. 881190..??”

“HAHAHAHA! Eh.. maksud saya.. Wah kok pin-nya sedikit ya? Mungkin Bold beda sama Curve ya hahaha, ehm.” Saya tau pria berdada ini sedang menertawakan gadis yang berdada itu juga. Walau beda ukuran.

“Iya dong pastinya beda. Dari harga juga uda beda gitu. Beda. Banget.” Gadis itu menjawab dengan sok tau.

“Oh ya kenalan dulu, saya Bram.”

“Aku Kya. Kiara sih, tapi yaudalah Kya aja. Lebih asik aja kan? Iya dong. Eh, kenalan jaman sekarang kok cuma salaman? Hello! It’s soo… freaking last year. Sekarang tuh jamannya facebook tau! Nggak ngeadd, nggak asik.”

“E-mailnya apa? Boleh minta?”

“BABYGURL69@YAHOO.COM. Kamu?”

“HAHAHAHAHA! Eh maksud saya… oh baby gurl ya, sixty nine… yaya… bagus ya emailnya. E-mail saya sih ga sebagus kamu kya, cuma brambram@brimbrembrom.com”

“Hihi lucu juga e-mailnya. Tapi biasa aja deng.”

Saya sungguh bingung dengan setiap kata aneh yang mereka bicarakan. Saya, sebagai angkot, merasa ketinggalan zaman dan udah nggak fashionable. Saya malu. Apa itu e-mail? Ada stripnya… jangan-jangan jurusan angkot juga? E ke mail?

Aku menggeleng-gelengkan kepala (emang ada ya?). Tidak ada jurusan angkot e-mail. Saya tahu yakin, karena saya bukan tempe yakin.

Pandangan saya tertuju pada remaja tidak berkelamin. Seekor lalat tak berekor yang tadi ber-spa di linangan air liurnya sekarang ditemani dua buah ekor lalat tak berbuah ekor juga tak berekor buah. Saya bingung, sebenarnya lalat itu ekor atau buah? Buah atau ekor, buah berekor itu sekarang telah koit. Ah, seperti nama ikan saja.

Air liur remaja tak berkelamin telah merebus tiga ekor berbuah lalat tak berbuah ekor. Tapi aku tidak khawatir apa bila cairan laknat itu menetes sampai di lantaiku, karena aku adalah angkot perkasa.

Tapi aku tidak pernah memperkosa.

Pria berdada itu memelototkan matanya (kata apaan tuh?). Matanya sekarang melotot. Lalu ia menyipitkan matanya, dan matanya sekarang sipit. Lalu ia kembali memelototkan matanya, matanya memelotot, dan tiba-tiba, saya merasakan sebuah aura yang aneh. Gelambir-gelambir lemak di seluruh tubuh pria berdada tiba-tiba bergoyang gergaji.

Bibirnya mulai cerai. Maksudnya, bibirnya mulai membuka. Saya menekan tombol slow-motion. Perlahan demi perlahan, karena lagi slow-motion, mulutnya terbuka dan pita suaranya mulai bergetar. Mantra-mantra sakti mandraguna mulai diucapnya.

“Kkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk”

Persetan dengan slow-motion.

“Kanan!”

Apa katanya? Bakwan? Tekwan?

Saya hanya bercanda. Bagaimana mungkin saya tidak tahu apa yang ia katakan, saat saya sedang menulisnya di sini?

Ehem. Kanan, katanya? Dada berpria ini tingkah lakunya sungguh aneh. Untuk apa dada seorang pria, eh, seorang pria berdada, berkata ‘kanan’ di dalam sebuah angkot?

Tunggu, saya curiga. Mungkin itu adalah sebuah mantra sakti.

Jadi Dada itu selama ini bukan seorang wanita? Aku telah dibohongi sekian lama oleh sahabat-sahabat karibku. Aku benci mereka.

Tidak ada yang aneh. Rodaku masih empat, bulat-bulat seperti baso.

“Pak! Mas! Kang! Kanan!” Pria Berdada Bergoyang berteriak dengan begitu semangat sehingga mendadak saya kehilangan keseimbangan. Saya bukan truk pengangkut beras, bukan juga beras pengangkut truk, dan kehadiran pria ini sungguh mengganggu, juga ganggu ini menghadirkan pria sungguhan. (lho?)

“Eh… siapa tadi? Brom? Brem? Siapapun kamu deh. Kamu mau ngapain? Ada apa di kanan?” tanya sang wanita. Dadanya tidak bergoyang, berbeda dengan pria berdada.

“T…t…t… turun! Rumah! Ibu!”

“OH MY HOLY FREAKING GODDESS! It’s my home too, Bram! Eh bukan deng. Haha.”

“T… t… t… tapi gimana s… s… saya bisa turun! Saya mau pulang! Saya mau pulang!”

Saya juga mau pria berdada itu pulang. Kami berkeinginan sama, mungkinkah kami jodoh? Tapi, jangan sampai. Saya tak sampai hati. Saya sampai Dago.

“Wah! Kamu mau pulang? Ya udah, pulang aja! Jangan pergi-pergi.”

“BUKAN! SAYA MAU TURUN!”

“AH! TURUN! Aku juga mau. Tapi nanti. Haha. Sekarang mau BB-ing in da club dulu biar kaya 50 cent. Cie ile (gaya bicara taun 90an) gaul banget ya aku?”

“TOLOONG! TOLOONG! SAYA MAU TURUN!”

Pria berdada bergetar hebat, dadanya menampar semua hal yang ada di muka bumi ini. Tunggu, itu sih adegan di The Simpsons Movie. Maksud saya, dia mulai membenturkan benda panjang, lebar, tebal, ringan, dan berkondom yang sedari tadi ia pegang erat. Benda itu terus terbentur dengan parah!

“EEH! WHAT ARE YOU DOING WITH THAT FREAKIN’ BEE-BEE OF YOURS?” Ehem. Ratu singkatan.

“Oh, ini. Nggak, supaya dramatis aja. PAK! MAS! KANG! SAYA MAU TURUN!”

“Hmm. (annoyed). Eh, kebawa-bawa emoticons di Plurk nih! Anyway, coba deh panggilnya Mbas! Siapa tahu dia berkelamin ganda!”

“MBAS! TURUN! KANAN!”

Dan Cekon tidak bergeming. Ia tidak peka terhadap kata-kata lain selain… K… K… K….

“Kiri.”

Remaja tak berkelamin bangkit dari kematiannya. Air liur menderas dari mulutnya layaknya air terjun Niagara-gara! Eh, kalau saya nggak salah, itu kan wahana dufan? Ah dasar nih, kebanyakan chatting sama mikrolet Jakarta. (HAHA) Tiga lalat tak berdaya berjatuhan dengan kecepatan cepat (hmm redundan), menabrak lantai-lantaiku yang begitu Suci, layaknya sinetron di sebuah stasiun tivi.

Pria Dada dan Wanita Dada sama-sama terdiam. Melongo. Melotot. Menari. Menyanyi. Mari semua dansa denganku. Wah, Aura Kasih tiba-tiba muncul sebagai cameo.

Saya minggir, menabrak tiga motor, satu APV, satu ojeg, dan sejuta empat ratus pangkat tiga ratus lima belas debu-debu yang berterbangan. Cekon melakukan belokan mendadak, rem mendecit, saya beraksi drifting. Dan cerita ini pun berubah menjadi…

THE FAST AND THE FURIOUS: WHADDUP’ A!? (A for Angkot, not Agnezzzzz, or you can just call her NYEZ)

Sekali lagi, saya berbohong. Maaf, pembaca yang budiman, budiwati. Yang pasti, saya berhenti, jalanan terbelah oleh tongkat nabi Musa.

Pria berdada masih melongo. Wanita berdada sibuk mengobrol dengan Aura Kasih, tukeran PIN Blackberry. Lho, sejak kapan ada Aura Kasih?

“Kamu… Kamu… KAMU!” Pria berdada terus melotot hingga matanya akan keluar, seperti di film GERGAJI. (ehem) Tapi sayang, kacamata itu menahannya. Coba saja kalau tidak, tulisan ini pasti akan dapat rating R. Rasainlhomuntahmuntahnontonfilmpenuhdarah.

“Gue? Laki-laki.”

Akhirnya, pertanyaan itu terjawab juga. Dia wanita, tapi dia berbohong!

“Kamu pahlawan saya!” Pria Berdada memandang dengan penuh nafsu dan harapan dan kekaguman. Kenapa harus ada kata nafsu ya? Saya jadi agak-agak…

“PAHLAWAN BERTOPENG! DJDHUAR! DJDHUAR!”

Mendadak, remaja-wanita-tanpa-kelamin-yang-ngaku-laki-laki lupa daratan. (gimana cara lupanya?) Dia menendang-nendang dengan begitu bertenaga layaknya seorang mantan atlet Tae Kwon Do yang tiba-tiba beralih haluan menjadi desainer gadungan!

Saya kesakitan! Saya ternoda! Ternyata, malang nasib musuh saya, motor. Memang remaja ini yang menodai dia hingga jadi bangkai! Aku tidak mau ternoda dan jadi bangkai! Ampun DiJe! (jaman kapan, mas?)

“WHAT THE HEAL (PENYEMBUHAN)! Apa-apaan ini? Aku mau turun!” tiba-tiba sang wanita mendadak peduli, setelah Aura Kasih mengaku bahwa dirinya hanyalah imajinasi sang Angkot yang berlebihan. (kok bingung ya?)

“Dia, ternyata Pahlawan Bertopeng!”

Remaja-wanita-tanpa-kelamin-yang-ngaku-laki-laki (duh cape ngetiknya) terus-terusan menendang hingga dia terguling ke tanah. Pintu terbuka. (bukannya dari awal emang udah kebuka ya?) Kedua pasang dada menghambur keluar pintu.

“KIA! DIA PAHLAWAN SAYA!”

“Eh, apaan itu K-I-A? Mobil, hah? Nama aku tuh ya, harus pake Why!”

“Why Kia! DIA PAHLAWAN SAYA!”

“APAAN ITU WHY KIA? WAI. YE. Y. Igrek. (HAHA IGREK, MEK) Kaya temen aku yang gaul itu, Mymy! Eh bukan mi-mi bacanya! May may.”

“KYA! DIA PAHLAWAN SAYA!”

“Bukan! Gue… Satria. Add facebook gue ya, s@tr.ia.”

“KYA! DIA TERNYATA SATRIA BAJA HITAM! YA TUHAN, SAYA NGGAK PERNAH KELEWATAN SHOW ANDA DI INDONESIAR. MY FAFORIT HERO!”

“Eeew… faforit? FAVORITE kali! feiveritch pelafalannya!”

Dan saya terdiam. Menunggu untuk tahu namamu… Uoo… Lho, kerasukan roh-nya Angga Maliq.

Kenapa saya diam? Ada apa ini? Cekon! Injak gas-nya! Tekan! Ah, pas, bagian situ! Aww! Rrrr! Wuenakke Pol! Auuuh… auuuh…

Tapi dia berhenti lagi. ADA APA?

Dan Cekon bergerak, untuk pertama kalinya dalam cerita ini!

“Kalian, turun disini? Mana uangnya?”

Dan, seperti di anime-anime Jepang, dan lagu single Intan Nuraeni…

GUBRAK! -_-;

Mana es kelapanya? Saya haus!

kya suka singing, hm yaya!

Hari ini hari kamis yang menarik, dan semua ini Goni yang memulainya.

Goni (nama yang tidak wajar): “Eh kya, hobi lu apa sih?”

Kya: “Hobi aku nyanyi dong.” (pembicaraan tidak sinkron antara Goni dan Kya, dmana Kya pake aku-kamu, dan Goni pake gw-lu! HAHA)

Goni: “Knapa bisa suka nyanyi, Kya?”

Kya: “JADI GINI GON.. aku pengen cerita sedikit tentang hobi aku. hobi aku banyak banget sebenernya, salah satunya minum. Haha hm yaya naondeui. Ga deng, aku pengen cerita aja dikit tentang betapa aku sangat mencintai.. menyanyi! Yeah! Haha apaan sih sok-sok yeah.

Kadang aku suka heran loh Gon, ko bisa ya setiap mulut yang ada di dunia ini bisa mengeluarkan bunyi-bunyian yang berbeda, suara yang berbeda? Haha aneh banget! Dan anehnya kenapa kalo si F (haha knapa harus F?) nyanyi, dia suaranya bisa bagus, tp si T fales. Padahal mereka jurusan kuliahnya sama, hmm yaya ga nyambung. Tapi maksud aku, gila gila Tuhan memang gaul bangetlah bisa menciptakan kita kaya gini!

Nah, hobi aku kan nyanyi nih, Gon. Ya ga jago-jago amat sih.. cuma lumayan jago lah. HAHAHA SOMBONG GILA. Ga deng, tp ya insyaAllah suara aku ga kaya si F tadi. (haha padahal F hanya huruf belaka). Buat aku, nyanyi itu keharusan di setiap aku beraktivitas dan berkeringat! Hmm yaya haha! Hidup aku itu bak musical! Makanya aku juga suka banget nonton musical seperti Elementary School Musical 3, Junior High School Musical 3 (hm ngegaring mba? haha) walau ceritanya sampah juga haha tetep ZUKA-ZUKA. HM.

Contohnya nih kalo aku lagi di taman nih Gon, rasanya lgsg pengen nyanyi lagu PDA-nya John Legend..

“Let’s go to the park.. I wanna kiss you underneath the stars!” haha padahal ke tamannya siang-siang, ga ada bintang.

Terus eh, tiba2 ada kupu-kupu nih Gon! Langsung pengen nyanyi lagu Butterfly-nya JAZON MRAS. HAHA Jason mraz deng. (padahal isi lagu sama binatang kupu2nya ga nyambung haha)

Pokonya aku pengen nyanyi di setiap detik hidupku, haha edan berlebihan. Ga gitu juga sih Gon, tapi ngerti kan? Dan mulut aku tuh GATBANG (GATEL BANGET) kalo uda denger2 kata-kata yang memicu aku untuk bernyanyi, semacam kata-kata PERANGSANG haha. Contoh:

F (HAHA knapa F lagi): eh makan dimana nih?

U: terserah

Kya: Terserah.. kali ini.. sungguh aku takkan perduli.. ku tak sanggup lagi..

HM YAYA. Tapi beneran loh Gon, aku gatau knapa aku seperti ini. Apakah ini adalah suatu kelainan? Ga sih, ga mungkin aku kelainan, Gon. Kya kan gaul dan baru beli blackberry bold (HAHA SOMBONG DAN PAMER GIRL). Yaya, eh iya nih btw seneng banget baru dibeliin BB sama orang tua, Gon! Ciee BB maen singkat aja skarang mentang-mentang uda punya. Hehe. Oke balik lagi ke si hobi nyanyi itu ya Gon, sayangnya nyanyi itu susah. Banyak banget dah pantangannya!

Kadang aku harus tahan-tahan HASRAT dan NAFSU yang menggebu-gebu untuk SEKS haha BOONG DENG, Gon! Maksud aku makan gorengan! Padahal gorengan kan paling enak! Soalnya digoreng.. hm yaya. Haha, dan kalo misalnya abis makan gorengan atau makanan yg pedes-pedes, atau coklat, duh tenggorokan rasanya kaya ada AIR LIUR yang MENYANGKUT abadi terus ngekos di tenggorokan! Gila gila, terus kalo misalnya mau nyanyi jadi harus BATUK STYLE mulu yaitu ehem ehem sebelom nyanyi. Ga bagus, bener-bener jelek style. Ga suka suka. Haha yaya soksok perfeskionis. Eh perfeksionis haha salah ketik style. Haha apaan sih kebanyakan ‘style’ ya Gon?

Aku harus banyak minum air putih dan hindari air hitam (coca cola HMM YAYA HAHA), apalagi kalo uda ada lomba karoke antar.. antar teman? Haha, pokonya ga boleh SERAK STYLE kalo mau karoke! Kalo ga, aku bisa bisa ga ALL OUT dong? Oh my, seorang kya itu harus TOTALITAS dalam bernyanyi! Dan pasti semua menga-nga melihatku bernyanyi dan berdansa (haha dansa dimana neng? Ruang karoke juga kecil ada juga nabrak meja haha), karena aku adalah kya, si blackberry girl WOOO HAHA pis pis, kampungan nih Gon baru beli, make aja ga bisa haha.

Yaya, tapi walau banyak pantangannya aku tetap bernyanyi loh Gon! Tapi daritadi aku ngomong-ngomong ttg nyanyi, sebenernya ini cuma hobi aja ko. Jadi ga pernah tampil juga dimana-mana, HEHE berasa artis aja aku sok-sok berpendapat ttg menyanyi haha, nah kalopun sekarang ada gorengan di depan mata aku, HAJAR BLEH! HAHA ya aku pasti makan, Gon! Haha dasar aku si inkonsisten.”

Goni: “HUWAWWWW GILA GILA, KYA! Mentang-mentang uda mau taun baru langsung monolog ya! Hehe tuh kan gw aja sampe ga nyambung nih, gila lo! Eh eh.. Yaudah gimana kalo kita karoke aja yu skarang!”

Kya:” Ayo! Haha daritadi kek! Kan bentar lagi taun baru!” (Haha ga nyambung juga)

Begitulah dialog siang itu, dan abis itu aku lgsg karoke sama Goni. Seru lah ya, tapi aku rasa Goni rada-rada fales deh kalo uda sampe not Re tinggi, jadi suka ga masuk kalo duet, kaya waktu pas lagu Terpesona-nya Glenn Friendly (HM GHUARING) dan Audy. Suka bête (wets huruf e nya dibaca pake penekanan!) jadinya, haha tapi gpp ko, lumayanlah si Goni, bisa dibeli, dan bentar lagi taun baru jadi diampuni lah ya. Haha!

Beres karokean sama Goni, gataunya Goni ditelfon di tengah-tengah jalan lagu nganterin aku pulang, sama mamahnya! ternyata papahnya masuk rumah sakit! Kasian Goni, padahal kan sebentar lagi taun baru, pikirku (haha tetep ya pake ‘pikirku)’.

Tapi ga lama kemudian, aku yg harus dikasihani. Karena Goni begitu gugup, dan takut, eh dia malah NURUNIN AKU DI TENGAH JALAN!

ARGH! Dia nurunin seorang American Girl yang ber-Blackberry Bold di tengah-tengah jalan! Oh God, I’m in deep shit!

Haha, (ko masih bisa ketawa? Haha) aku dengan kebingungannya, merasa bak alien di film alien hm yaya, dan sayangnya aku masih gaptek sama Blackberry Bold yang ga bisa aku unlock ini HAHA jadi ga bisa hubungin siapa-siapa, sial! OH MY, aku KESASAR STYLE! Dan ini salah satu style yang aku ga suka! Huhu.

Lalu aku tiba-tiba inget kata-kata orang, kalo mereka suka naik sesuatu zat haha bukan zat sih, tapi alat transportasi yang namanya ANGKOT.

Hm, mana ya yang namanya angkot?

Kopi Tubruk.

Pernah nggak, kamu ngerasa bener-bener sendirian?

Walaupun kemarin malam semua orang sibuk meniup terompet, berdoa menuju tahun yang baru. Walaupun di tangan kamu, belasan PING, BUZZ, NUDGE, semua getar terus tanpa henti. Walaupun di sekitar kamu semua orang lagi ketawa-ketawa dengan lepasnya. Walaupun di sekitar kamu matahari lagi bersinar terang banget, suatu hal yang langka di musim hujan. Walaupun di depan kamu lagi ada gelas-gelas kopi yang katanya sih paling enak dan mahal.

Saya lagi kayak gitu.

Kedai kopi ini, Starbucks namanya, kata orang-orang sih masih jadi salah satu yang paling populer. Sekali kamu dateng, jalan di dalamnya, bakal ada bau kopi misterius yang tiba-tiba masuk ke hidung. Harusnya sih bau kopi ini bisa jadi stimulan, bikin orang ngerasa lebih tenang. Lebih rileks. Tapi entah kenapa, hari ini bau kopi itu nggak bekerja seperti semestinya. Saya emang bukan penggemar kopi. Saya cenderung benci kopi. Saya juga nggak terlalu suka minum-minum, karena saya sebenernya cuma suka makan. Tulisan saya yang sebelumnya juga udah bilang kayak gitu, kan?

Tapi kemarin malem ada sesuatu yang saya nggak sangka-sangka.

Ibu sibuk nyiapin Catering buat acara Tahun Baru-nya Pak Gubernur. Ayah sibuk, nggak tau ngapain. Saya nggak mau ngabisin taun baru dengan nonton acara konser-konser live dari Ancol, dong? Jadi saya, dengan terpaksa, ikut barbeque party di rumah salah satu teman sekolah. Dia emang baik banget, dan dia juga udah ngundang saya. Jadi ya… kenapa enggak?

Ternyata dugaan saya salah. Memang, makan enaknya nggak meleset. Tapi tamu yang hadir disana, wah, banyak banget! Salah satunya adalah segerombolan manusia-manusia yang saya kenal. Mereka satu kelas sama saya.

Manusia-manusia (saya nggak rela, manggil mereka teman!) yang kebetulan satu sekolah dan satu kelas sama saya, saat itu punya obrolan yang seru banget. Tipe-tipe obrolan yang bener-bener berani sekaligus bener-bener sombong. Mereka sibuk pamer, apa aja hal-hal “nakal” yang pernah mereka buat di tahun 2008 kemarin. Beberapa bilang soal nonton porno. Beberapa bilang soal (maaf) onani. Beberapa pamer soal batang-batang rokok yang pernah mereka hisap. Beberapa juga pamer soal berapa botol vodka yang bisa mereka habiskan dalam satu hari. Sampai, satu orang, yang nggak pernah saya suka seumur hidup saya, bicara kalau dia pernah (hampir) menghamili anak orang. Saya nggak relijius, tapi saat dia bilang itu, saya istighfar dalem hati.

Saya nggak tau siapa yang mulai iseng, tapi tiba-tiba kayaknya satu anak sadar kalau saya nguping dari tadi. Dia nanya sama saya.

“Bram, maneh pernah ngapain aja?”

Saya kan sebenarnya lagi (pura-pura) sibuk ngupas udang bakar bumbu bawang putih. Saya sempet nggak mau ngejawab. Tapi mereka manggil-manggil.

“Eh, apaan?”

“Maneh udah pernah ngapain aja? Ngocok? Nonton porno?”

Saya diam, masih istighfar. Saya bukan tipe orang yang bisa gampang banget cerita hal-hal privat kaya gini sama orang lain.

“Saya…”

Saya masih diem. Saya masih nggak tau apa yang harus saya bilang.

“Saya pernah minum tiga cangkir kopi, semalem.”

Saya balik muka.

Mereka diem.

Mereka ketawa. Tiba-tiba. Keras banget. Saya cuma bisa diem, diem, dan terus-terusan diem.

Saya masih nggak ngerti, kenapa mereka ketawa? Ada yang lucu? Kopi itu buat saya, sama berbahayanya sama alkohol. Kafein itu bisa jadi candu. Dan saya juga punya maag, jadi waktu itu saya emang ngerasa kalo saya udah salah. Saya ngelanggar.

“CUMA MINUM KOPI? ANJING CUPU LAH!”

Haha. Anjing. The Magic Word.

Siang ini, saya baru bangun setelah semaleman makan-makan. Saya sebenernya ada janji juga buat makan-makan tahun baru sama keluarga besar. Tapi saya nggak tahan, saya nggak mau ketemu lebih banyak orang lagi. Saya cuma butuh sendiri, nyoba buat ngejaga hati saya yang emang terlalu sensitif. Semua itu bercanda. Nggak ada yang serius. Tapi saya juga nggak ngerti, kenapa saya bisa sampe sesakit hati ini?

Saya masuk ke kedai kopi ini.

“Siang, pesan apa?”

“Cappucino, hot, tall. Caramel Macchiato, iced, venti. Toffee Nut Frappucino, grande.”

“Buat bertiga, mas?”

“Nggak kok, buat saya.”

Barista itu diem. Saya nggak peduli. Saya ngeluarin uang, bayar, nunggu, ngambil, duduk. Diem.

Saya jejer tiga gelas itu. Yang satu kecil, panas. Yang satu dingin, sedang. Yang satu dingin banget, gede lagi.

Tiga-tiganya kopi. Hal yang saya nggak suka. Hal yang bisa bikin maag saya kambuh.

Saya mulai minum cappucino saya. Pahit. Panas, lagi. Lidah saya melepuh. Saya nyoba bikin dingin, pake Macchiato. Tapi lidah saya malah jadi perih. Saya nggak peduli. Saya abisin Macchiato itu, nggak pake sedotan, tapi saya teguk langsung. Ternyata kopi ini nggak enak. Semua orang mengagumi, tapi sebenernya nggak enak! Saya bisa, bikin ginian di rumah. Tinggal minta ibu bantu bikin caramelnya aja. Terus gelas-gelas ini saya bawa pulang, saya isi pake kopi buatan sendiri. Buat saya, kopi-kopi ini mahal di logo doang!

Saya lanjutin minum Frappucinonya. Sama, nggak enak. Whipped creamnya bikin eneg. Rasa toffeenya emang kerasa, tapi saya lebih suka makan Ting-Ting tradisional aja, lebih enak. Lama-lama yang kerasa cuma es. Es batu diblender.

Saya makin ngerasa panas. Sedih. Orang-orang sekitar minum sedikit-sedikit, seolah minuman di tangan mereka itu emas kayaknya. Banyak yang sibuk sama laptop. Ada yang sibuk ngobrol. Di ujung, ada yang pegangan tangan, hampir ciuman.

Saya berusaha buat ngerasa sakit aja sekalian. Saya minum lagi Cappucinonya, belum dingin. Belum selesai gigi saya adaptasi sama es batu blender tadi, saya harus nerima kopi panas ini. Saya pusing. Saya lari ke kamar mandi.

Saya muntah.

Saya nggak segera malu, atau balik, atau gimana. Saya balik duduk lagi, sambil liat-liat pemandangan di luar. Yang ternyata, masih dibatasi kaca. Kaca.

Saya mulai pelan-pelan mikir. Drinkilosophy?

Ternyata saya selama ini udah jadi deretan kopi Starbucks. Saya nggak ada apa-apanya. Rasa, nggak mantep. Nahan ngantuk juga ga ampuh. Tapi kopi keparat ini ngerasa punya label, merek. Maka itu dia bisa memahalkan diri. Akhirnya kopi ini cuma bisa terkurung di ruangan kaca berpendingin di mall-mall. Diminum sama orang-orang yang emang cuma pengen keliatan gaya doang, mungkin banyak malah yang ga suka kopi.

Sekarang dimana esensi kopi yang asli? Nemenin bapak-bapak yang lagi ngeronda di pos kamling. Nemenin mahasiswa kos-kosan yang lagi sibuk ngerjain skripsi. Nemenin muda mudi yang mau pacaran semaleman. Apa mereka minum Starbucks? Nggak. Mereka cuma minum kopi tubruk.

Saya juga ternyata udah terlalu ngebentengin diri. Saya ngerasa beda, ngerasa bisa segalanya, cuma karena Ibu saya mampu ngisi dompet saya pake lembar-lembar uang. Saya udah nggak mau gerak ke mana-mana. Tinggal di zona nyaman saya, dimana segala sesuatunya udah ada tanpa diminta. Karena itu, saya mana mungkin membangkang? Saya harus membahagiakan orang tua, karena mereka udah membahagiakan saya. Saya harus balas budi dong, jadi anak baik. Kalau saya jadi anak baik, nanti saya dikasih makan yang enak-enak. Inilah saya, si kopi mahal. Rich spoiled brat. Bikinnya susah, pake susu mahal, krim mahal, coffee maker mahal. Minumnya diirit-irit. Netes dikit aja ngejerit.

Kapan saya bisa jadi kopi tubruk? Yang siap ada di dunia nyata. Bikinnya juga cuma butuh air panas sama kopi bubuk, kopi instan juga jadi. Nggak usah coffee maker, langsung dikocek pake sendok juga bisa tuh. Dan kalau tumpah, yang minum ga usah sedih, tinggal bikin lagi toh?

Ah, udahlah! Ini ngawur. Ini ngelantur. Salah saya juga sih, ngejadiin buku Filosofi Kopi-nya Dee sebagai salah satu kitab selain Al-Qur’an.

Saya mulai pengen pelan-pelan ngebanting telepon sialan ini, asli. Eh, salah, orang-orang bilang ini Blackberry. Telepon ini terus-terusan geter. Incoming calls, sms, ping, buzz, nudge, semua jenis messenger. Yang ngasih pesan bukan siapa-siapa, cuma Ibu. Pasti sambil masak di rumah buat makan siang dia juga sibuk main Blackberry, update status Facebook dia sambil ngintip Wall anaknya, sekaligus chat buat ngucapin “Happy New Year 2009!” sama semua pelanggannya. Dia pengen saya pulang, karena kakek nenek udah sampai di rumah. Makanan juga udah siap. Tapi saya nggak peduli.

Saya pengen bebas, lepas. Belok sedikit dari jalur yang udah susah-susah diaspal sama kedua orang tua saya.

Saya telepon supir saya, bilang supaya dia pulang aja. Saya pengen nyoba sesuatu yang baru. Naik angkot! Hal yang selalu dilarang oleh kedua orangtua saya dengan alasan-alasan yang nggak pasti. Saya pengen jadi kopi tubruk! Saya pengen jadi nakal. Saya pengen, pas ditanya sama temen-temen, saya nggak cuma alesan pernah minum kopi lagi. Saya udah kebal sama kopi! Saya bisa bilang…

Kalau saya, pernah naik angkot.

Yang masih gundah gulana,
Bramarartha.

Pantatku Bergetar di Atas Motar (maksa)

Gue biasanya naik sepeda. Sepeda gue nggak pake shock absorber, jadi wajarlah kalau pantat gue gonjat-genjot bergejolak ria bersama jalanan Bandung yang dahsyat menggoyang.

Suatu hari, gue mencoba menaiki motor. Sungguh sebuah sensasi yang berbeda. Stangnya sama-sama untuk dua tangan, rodanya sama-sama dua, tapi ada perbedaan hakiki di antara dua kendaraan itu.

Motor ada mesinnya. Sungguh luar biasa, sebuah kendaraan beroda dua bisa bergerak tanpa dikayuh dengan kaki.

Gue duduk di atas jok. Gue memegang stang.

Tapi motor tidak mau maju. Sepertinya ia marah kepadaku. Sepertinya aku telah selingkuh. Sepertinya warna-warni dunia seakan memudar dari memori dan emosi.

Oh, betapa kelabunya dunia karena motor. Memakai kacamata biru pun masih terasa kelabu. Tapi karena pakai kacamata biru, jadinya kelabiru.

Bukan kelabang. Kelabang itu kelabu banget.

Kembali kepada motor, aku rasa motor itu judes. Mungkin motor itu sedang dapet, atau bentar lagi bakal dapet. Kalau bentar lagi dapet, biasanya kan motor suka PMS gitu, mungkin motor ini juga.

Oh, motor, maafkan aku.

Lalu datang seorang gold-gold (mas-mas HMMM) dan memberikanku kunci.

Apa itu kunci, aku tak mengerti. Aku sudah benar-benar tak bisa lepas dari perihal nisbi, hingga aku tak mengerti fungsi sebiji kunci.

Tapi kunci itu tidak ada bijinya. Tapi biji tak ada biji, si mas memasukkannya ke dalam sebuah lubang yang sepertinya untuk dimasukkan kunci, lalu…

Motor masih belum bergerak. Hatiku masih gundah. Tapi tidak gulana, melainkan gulaka, karena aku tidak mau mengiklan.

Lalu si mas melakukan sebuah ritual sakral.

Kuncinya diputar, dan…

Motor masih belum menyala.

Apa salahku, wahai motor?

Lalu si mas sakti kembali melakukan upacara ritualnya. Sebuah tombol dipencet dan tiba-tiba kurasakan sebuah aura mistis di sekitarku.

Saudara-saudara, motor telah menyala. Aku bersyukur pada Tuhan dan berterima kasih kepada si mas.

Lalu aku keliling kota menaiki motor. Aku tidak suka lambat, maka aku mengebut.

Lalu kurasakan sebuah perasaan yang amat aneh menggelora. Pantatku merasakan getaran yang begitu dahsyat! Pantatku jadi terasa gatal!

Maka aku pun berpikir keras, mencari solusi. Jika aku melepaskan satu tanganku dan berusaha menggaruk pantatku, maka itu akan bahaya. Aku tidak mau mati bagaikan kucing yang jatoh dari motor. Sungguh nista dina hina. Tapi dina tidak hina, mungkin nista.

Maka aku berpikir lebih keras. Tapi pikiranku terganggu oleh kegatalan pantat yang begitu merasuk!

Oh, apa yang harus aku lakukan?

Aku tak tahan lagi. Aku menepi, motor berhenti. Oh, ajaib! Pantatku tidak gatal lagi!

Aku pikir penyakitku sudah sembuh, maka aku kembali mengebut.

Tapi aku salah besar. Pantatku kembali gatar. Pasti ada yang salah dengan pantatku, atau dengan motor yang kupantati. Atau dengan pantat yang kumotori. Atau motor ini punya pantat? Atau pantatku punya motor?

Oh, betapa memusingkannya dunia. Dan betapa mengganggunya rasa gatal di pantatku.

Maka aku semakin mengebut! Tapi pantatku hanya semakin gatal!

Aku sudah tidak tahan lagi. Aku tak mau berhenti, aku hanya mau berlari, berlari, dan terus berlari, mencari solusi untuk pantatku ini.

Tapi rasa gatal itu semakin meradang. Seperti radang tenggorokan, tapi di pantat, tapi bukan radang pantat. Jangan sampai membuatku berpikir bagaimana rasanya radang pantat.

Akhirnya, aku menyerah pada takdir. Aku sudah tidak kuat, aku lepaskan motor itu dan loncat seperti ninja ke belakang, sambil salto sembilan kali.

Aku jatuh bagaikan balerina.

Motor menabrak pohon palem dan meledak bagaikan bom atom dengan harum seperti pohon pinus.

Dan pantatku tidak lagi gatal.

Aku begitu bahagia.

Sekarang aku tak bermotor, dan tak berpantat. Eh, tak berpantat gatal, maksudku. Atau tak bergatal pantat?

Ya sudah, sebuah angkot lewat, memanggil-manggil pantatku.

Atau lebih tepatnya, pantatku memanggil-manggil angkot, mencari sensasi baru.

Sebuah angkot, warnanya hijau.

Benang Merah

Aing adalah seekor benang. Tapi sejak kapan benang punya ekor? Aing nggak tahu, aing nggak tempe. Aing nggak peduli, aing nggak pengen boker. Pokoknya, aing adalah seekor benang… warna aing merah gitu? Tahu dari mana, aing benang warna merah? Aing nggak mau ngarang, tapi aing mau ngaku aing berwarna merah. Muahahaha.

Aing benang, dan aing dipaksa buat nulis. Buat nulis apa, aing juga nggak tahu. Tiba-tiba ada sapi jatuh dari langit, sayapnya warna merah menyala. Sapi itu matanya bundar, kulitnya putih. Sepertinya sapi itu seorang kaukasia.

Tapi, sapi itu tidak ada hubungannya dengan cerita ini. Lho, emang ini adalah cerita? Ya, wahai domba yang tersesat, ini adalah sebuah cerita.

Sebuah cerita tentang asa kita berdua. Eh, salah. Itu mah lagu.

Ini, bukan itu, adalah sebuah kisah tentang tiga manusia yang bernama Satria, Bramara, dan Kiara. Huruf nama terakhir mereka bertiga memang sama, A, tapi itu hanya formalitas belaka.

Tapi bukan. Ini bukan sebuah kisah.

Ini adalah tiga buah kisah. Tiga buah kehidupan, tiga buah otak kinclong ciptaan Yang Mahakuasa, yang menulis kisah hidup mereka masing-masing.

Lalu mereka bertemu, dan mereka bersatu, oleh satu benang merah.

Nah, itu aing. Aing si benang merah itu. Keren kan, Aing?

Sapi kaukasia menggonggong, kafilah berlalu. Mari kita memberi nama sapi itu. Namanya… Sapy. Sungguh lucu dan imut, bukan? Oh sudah barang tentu begitu, pasalnya ada huruf Y. Y adalah segalanya,  bukan Z.

Karena Y bukan Z, wahai domba yang tersesat, maka selamat membaca.

Sebuah benang, di matamu mungkin hanya sebuah benang. Sebuah benang yang tidak akan berharga jika dibiarkan tergeletak sendirian. Tipis, rapuh, tak berarti. Ada benang yang nantinya akan menjadi lembar-lembar kain, yang akan menjahitnya menjadi pakaian. Ada benang untuk mengikat hal-hal yang terlepas sebelumnya. Ada benang-benang lain, yang penting, yang tidak penting, yang mungkin keberadaannya tidak kamu sadari.

Tapi aku… berbeda. Aku bukan benang biasa. Aku adalah benang yang tidak akan kamu lihat keberadaannya, tapi kamu mengetahuinya. Semua orang menyebut-nyebut namaku, mengagung-agungkannya sebagai sebuah hadiah dari Sang Takdir. Aku adalah benang yang sudah tertempel di tubuhmu masing-masing, dengan berbagai ujung yang melekat dengan banyak orang-orang lainnya.

Aku adalah benang merah.

Walaupun aku tidak yakin tubuhku berwarna merah, setidaknya orang-orang mempercayainya sebagai itu. Aku adalah perlambang dari sebuah persamaan. Terkadang, aku dijadikan alasan untuk saling menyamakan. Tapi aku adalah aku, dan aku bekerja sesuai dengan kemauanku. Aku bisa mengikatmu dengan orang yang ribuan kilomoter jauhnya darimu, atau mungkin dengan orang yang selalu kau lihat tiap hari, tapi kau tidak menyadarinya. Aku mempertemukan, aku memperkenalkan. Aku menyatukan berbagai hati dan pikiran.

Tapi seperti halnya semua hal yang ada di dunia ini, pasti memiliki sebuah akhir dan awal. Aku bisa saja putus, diputuskan, atau memutuskan diri. Aku tidaklah kekal. Karena kembali ke hakikatku sebagai benang, aku memang tipis dan rapuh. Aku bisa terlepas disaat-saat yang tak terduga, disaat kau menyangka bahwa semuanya akan berjalan sempurna, selamanya.

Kali ini, aku akan berkisah tentang tiga anak manusia. Tiga manusia yang masih selalu mencari hal-hal tentang kehidupan. Mencari makna dalam kejadian. Mencari arti dalam perbuatan. Mereka juga mencari pelengkap jiwa yang terkadang masih hilang, dan tugasku, adalah mempersatukannya.

Kamu tidak sadar, mungkin separuh dari jiwamu akan ditemukan dalam bentuk yang paling sederhana. Bukanlah kekasih yang memberimu setaman mawar tiap hari. Bukan ibu yang mengecup lembut keningmu tiap mau tidur. Bukan anakmu yang selalu kau peluk manja. Tapi bisa saja, jiwa-jiwa itu hadir dalam bentuk manusia yang tidak pernah kamu duga. Hidup ini memang dikendalikan oleh permainan takdir yang licik.

Ketiga orang yang akan saya pertemukan ini tidak pernah tahu bahwa mereka bisa bersatu. Takdir akan selalu mempersatukan mereka dalam kejadian-kejadian yang tak pernah mereka duga. Tempat-tempat yang tak pernah mereka bayangkan.

Kiara Caesaria, gadis Amerika yang sedang mencari jati dirinya.  Satria Adi, yang berkonflik dengan keabsurdannya. Serta Bramara Artha, yang menyesali kesepiannya. Mereka adalah tiga orang yang sepertinya terpisah jauh, padahal sebenarnya sangat dekat. Orang-orang dengan hati dan pikiran yang diciptakan untuk bersatu, menjalani kisah demi kisah yang cemerlang.

Mereka mungkin tidak pernah mengenal. Mereka mungkin tidak ingin saling mengenal. Tapi biar saya beserta tangan-tangan Sang Takdir mempersatukan mereka. Dan mungkin, memisahkan mereka. Suatu saat. Suatu hari. Suatu hari… Kamis?

Halo. aku benang merah. Aku punya banyak teman di dunia ini, kaya benang biru, benang ijo (edan, ga baku haha) oke maksud aku benang hijau, benang kuning, benang turquoise, benang magenta, benang indigo (gila gila susah-susah ya nama warnanya! haha), Namun, mereka semua itu palsu! Mereka semua itu pake CASING! Karena hanya aku si benang merah yang ASLI, HAHAHAHA!

Apaan sih, sok asik. Ya, memang itulah sifat dasar seorang benang merah (haha kok seorang sih?), seuntai benang merah. wets bagus ya bahasanya. seuntai! Haha. Makanya mereka semua, teman-temanku yang sekarang bukan teman-temanku lagi berkhitanan ehem maksudnya berkhianat! (edan, masih jadi benang aja udah garing ya!). Mereka malas menjadi benang berkepribadian sok asik, tetapi aku bangga menjadi benang sok asik. Haha walau itu kedengarannya agak aneh ya?

Kenapa benang merah sok asik? Karena aku ditugaskan sebuah tugas oleh sang penugas (hm yaya) untuk mempertalikan tiga manusia. Sebenernya beda-beda sih, tergantung ketebalan benangnya. Kebetulan aku tuh kurang tebal jadi cuma cukup buat 3 orang hehe, gila ya aku cupu! Yaudalah gapapa, masalahnya 3 orang aja udah susah bet dah nyet buat dipertemukan! (loh ko jadi benang jakarta? hm yaya haha)

Tiga orang ini, aku pilih berdasarkan.. hm gmana ya dijelasinnya, agak susah sih, bahasa benang sama bahasa manusia kan agak-agak beda gitu (BENBONG: BENANG SOMBONG). Ya kalau kata anak benang jaman sekarang sih kalau lagi dengerin benangpod (hm yaya haha), di SHUFFLE MODE! Haha alias, dipilih secara acak. HAHA ga elit ternyata cara pemilihannya.

Dan lalu, YA! Pilihanku jatoh (eh jatuh maksudnya, eh ga penting deng sama-sama aja haha) kepada Bram, Kiara, dan Satria. Aku gatau mereka kaya gimana, tapi aku akan berusaha mempertemukan mereka. Karena mereka telah ditakdirkan oleh sang penakdir (hm yaya) untuk bertemu melalui usahaku, dan…..

kalau dipikir-pikir,

KO BENANG BISA NGOMONG YA? HEHE.

Yaudah, gapapalah ya. (Haha, komentar yang aneh)

Karena aku adalah benang merah, percaya tidak percaya, aku ada! YEAH! (HAHA benang sok gaul pake YEAH-YEAH segala!)

Read More »

kya-tika aku berkaca..

Siapa sih aku? Kenapa sih aku kaya gini? Maka dari itu hari ini aku berusaha ngaca. Sebenernya sih tiap hari aku ngaca eh tiap menit deng HAHA harus slalu oke dong tiap saat, Kya gitu! Haha sok cantik. Kata orang kita harus selalu mengaca, eh berkaca, eh apapunlah pokonya di depan kaca. Dan ketika kita telah melakukan itu, kita bisa melihat diri kita yang sebenarnya. Wets, gaya banget pikirku? (haha PIKIRKU, betapa baku-nya, girl!) Maka dari itu aku mikir, yaudah mari kita coba cobi nih, siapa tau aku bisa bener-bener tau siapa diri Kya yang sebenernya. Oke kita mulai.

Aku berdiri di depan kaca, dan aku melihat seorang gadis berumur 18taun, yang..

OH SHIT! BERJERAWAT!

HAHA fak fak, apa-apaan ini? Jadi, gadis berjerawat? Itu kah aku yang sebenar-benarnya? Edan, KECEWA. K E C E W A! Pake SPASI! Haha ga mungkin, lgsg aku coba cobi lagi, ayo mungkin kali ini bisa melihat diri lebih dalam.

Hm, tapi ini emang ada jerawat nih di deket idung sialan haha masih dibahas. Oke skip! Oke.. skarang aku melihat seseorang yang tersenyum. Anehnya orang ini tersenyum pada dirinya sendiri ketika mengaca. Haha sok misterius padahal itu aku deng, si Kya yang selalu senyum kalo abis sisiran (kadang sambil sisiran HAHA gila gila, multitalented dan multitasking) atau lagi pake krim malem. Hm yaya, narsis! Haha.

Selain itu aku juga bisa melihat seseorang dengan wah gaya rambut masa kini nih kayanya, gila siapa nih rambutnya ko bagus banget? HAHA memuji diri sendiri. Iya rambut aku panjang, sepunggung (punggung itu panjang dan ada ukurannya, haha sungguh penjelasan yang jelas), dengan poni GOLEM! (GO lalu LEMPAR!), rambutnya style-nya semacam tangga style yang dimana rambut daerah deket lehernya lebih pendek style daripada yang setelahnya, dan begitu terus menjadi semakin memanjang style haha kebanyakan style. Aku suka rambut aku, walau ga gitu lembut kalo ada seorang lelaki yang mau pegang (haha sial! Tidak sempurna!), tapi posisi rambutku ABSOLUT  & PASTI, selalu sama/per sekon-nya haha.

Dari rambut, aku juga bisa liat si orang ini (padahal ngomongin diri sendiri) cara berpakaiannya boleh banget. Bisa dibeli! Haha, gayanya oke. Perpaduan baju, celana, gelang kalung dan berbagai aksesoris lainnya seperti gelang kalung (haha diulang), bagus. Seleranya keliatan berkelas, kelasnya kelas 3A deh kayanya HAHA apaan coba ga jelas. Aku suka style orang ini. Aku suka saat dia pake tas coklat, tunic putih, jeans biru muda, sepatu moccasins, dan kalung Indian dan gelang kayu coklat (bukan kayu norak yg dipiloks). Perfecto! Aku suka dia, haha hm yaya!

Lalu sedikit turun ke bawah, ooh aku melihat benda berkilauan yang ia genggam! Apakah itu? Dan WOW! Pemirsa, ternyata sebuah Blackberry Bold gila gila! (apaan sih sewot sendiri padahal hape sendiri haha ets bukan hape, blackberry bukan hape, tapi blackberry itu B L A C K B E R R Y pake spasi, HAHA!). Keliatannya masih gress, dan keliatannya masih amatir nih pemiliknya ga bisa nge-UNLOCK keypad blackberry boldnya HAHA.

Tapi di sisi lain, aku bisa melihat sesuatu di mata aku (eh dia maksudnya, haha sial nih gagal bikin narasi sok sok sudut pandang orang ke 2, eh 3, eh 4, eh hmmm skip). Aku melihat kekosongan, bukan karena mataku sipit (ga nyambung, girl!), aku melihat suatu titik kesepian dimana aku merasa ga nyaman. Iya, aku punya banyak teman di dunia ini. Wets lebay, skala-nya dunia haha mentang-mentang pernah skolah di Amerika. Wets tuh kan sombong, wooo hahaha. Tapi rasanya, semua itu hanyalah semu. (HAHA SAY WHAT? SEMU? Gila sok sok pake bahasa puisi lagi!)

Tapi bener, kenapa rasanya aku sendiri ya? Dengan semua yang aku miliki, dengan predikat social butterfly yang aku sandangi. Hm yaya, itu nge-rhyme. Wets sok inggris, haha!

Mungkin memang setiap orang punya sisi dimana mereka ngerasa kesepian, dan begitu sendiri. Tapi untuk aku, Kya, aku sebenernya ga ngerasa sendiri-sendiri amat sih. KAN ADA BLACKBERRY MESSENGER HEHEHEHE.

Gila, inkonsisten! Haha, well this is me. Kiara Caesaria Luminasati.

:)

The Foodilosopher™

Saya Bramara Arthamanggala, dan saya adalah seorang Foodilosopher™

Simpen aja dulu pertanyaan-pertanyaan kamu tentang satu kata tadi, dan jangan buang waktu untuk nyari-nyari di google. Foodilosopher™ itu emang kata yang saya buat sendiri, makanya saya berhak ngasih trademark di ujungnya. Hahaha, nggak segitunya juga kali ya?

Kalau kamu ahli etimologi, pasti seenggaknya kamu bisa dong nebak apa artinya? Tapi buat yang nggak jago, sini… kita jelasin dulu sedikit.

Hampir semua orang yang ketemu sama saya bilang kalau saya itu… Gendut. Gemuk. Obesitas. Apapunlah. Kegendutan sendiri nggak mungkin kan, muncul instan? Gimana kita bisa keluar dari perut ibu kalo begitu lahir kita udah 50 kg? Penyebab kegendutan saya juga sangat beralasan kok: Makanan.

Dari sejak saya umur enam tahun dan lidah saya mulai bisa ngebedain mana makanan yang enak dan nggak enak (ngga cuma bubur bayi aja!), Ibu saya punya bisnis baru. Jenisnya? Catering. Kalau kamu pengen nanya catering apa, lokasinya dimana, saya nggak akan jawab. Kayaknya dia udah kebanyakan pelanggan, jadi udah nggak butuh pelanggan baru lagi. Hmm.

Balik lagi ke yang tadi. Bisnis Catering Ibu bikin saya jadi sering bantu-bantu di dapur. Sebenernya bukan masak ya! Tapi cuma duduk, ngeliatin, dan begitu udah selesai…

“BU, NYOBAIN!”

Dengan senang hati Ibu tercinta bakal ngeluarin piring kecil dan ngisi semuanya pake satu-persatu lauk pauk. Kegiatan ini dulu paling cuma berlangsung seminggu sekali. Tapi semakin lama, Catering ibu makin sukses! Dan saya terus-terusan ngelakuin ini, bahkan EMPAT KALI SEHARI! Dulu sih saya cuma manggut-manggut aja, sambil bilang, “Enak… Enak!” Tapi suatu hari, saya pernah ngerasa kalo Tom Yam Goong yang Ibu masak (buat kawinan salah satu anak pejabat lho!) terlalu manis untuk ukuran masakan Thailand. Saya nggak berani ngomong, karena Ibu juga nggak minta pendapat saya. Nggak tau kenapa, saya bener-bener ngerasa itu terlalu manis dan… NGGAK ENAK! Lagian ini kan, kawinan anak pejabat! Jadi sebelum Ibu mulai packing makanan-makanannya, saya coba ngeberaniin diri buat ngasih tau ibu.

“Bu. Tom Yamnya nggak enak. Terlalu manis!”

Pegawai Ibu yang waktu itu lagi nuang Tom Yam ke plastik buat di-pack, langsung berhenti. Ibu tiba-tiba balik ke dapur, nyoba sedikit makanannya, dan…

“Kamu bener, Bram. Ini nggak layak hidang.”

Perasaan takut saya hilang. Saya mendadak kritis soal makanan sejak saat itu. Ya, walaupun saya nggak pernah ngapalin rasa bumbu masak, tapi seenggaknya saya udah bisa ngerasain mana yang enak dan nggak enak. Seenggaknya menurut standar saya.

Dan setelah itulah saya mendadak seneng banget buat belajar soal Makanan. Dulu, sama seperti jutaan orang lainnya di bumi ini, saya makan cuma buat menuhin perut. Buat mengganti energi. Buat nyambung nyawa. Tapi semenjak kejadian Tom Yam itu saya berubah. Buat saya, makan udah sama derajatnya seperti ibadah. Penuh ritual. Perlu diawali dan diakhiri dengan doa yang khusyu. Ada langkah-langkah berupa Appetizer, Main Course, dan Dessert. Ada perintah untuk mengunyah pelan-pelan, membanting-banting makanan ke setiap sisi lidah, supaya kita bisa merasakannya secara sempurna. Saya tahu kalau proses memasak itu tidak mudah! Maka itu, kita tidak boleh menyantap makanan dengan cepat-cepat. Hargailah usaha pemasaknya. Hargailah petani yang mengurus berasnya. Hargailah supir yang mengantar sayur-mayurnya ke supermarket terdekat.

Itu adalah sedikit awal mula perkenalan saya dengan dunia kuliner. Dunia yang bagi sebagian orang bukan merupakan apa-apa. Dunia yang bahkan dulu tidak pernah dilirik orang, sebelum Bondan Winarno dan Fauzi Baadilah berkoar-koar “Mak’ Nyuus!” dan “Ajiib!”

Mari kembali ke topik awal. Jadi, apa itu Foodilosopher™?

Foodilosopher itu adalah orang yang melakukan Foodilosophy™

Foodilosophy™ = Food + Philosophy


Saya terinspirasi untuk melakukan hal ini sejak membaca sebuah cerita pendek yang sangat bagus, karya Dewi ‘Dee’ Lestari. Filosofi Kopi, judulnya. Cerpen itu memang bercerita tentang banyak hal, tapi satu hal yang nyangkut banget di otak saya adalah kegiatan favorit Ben, si tokoh utama, untuk ngasih deskripsi filosofis tentang satu persatu kopi racikannya. Hal ini lucu, karena belum pernah saya nemu orang yang tiba-tiba nyambungin antara makanan dan suatu filosofi! Tapi saya emang suka juga sih, main-main sama pikiran. Berfilosofi, walaupun tiba-tiba ngarang. Jadi semenjak itu, setiap pengalaman makan saya. Dimulai dari buka pintu restoran (atau cuci tangan, kalau di rumah) akan selalu saya rekam dan saya kaitkan dengan sesuatu. Mau nyambung, mau nggak, saya nggak peduli. Yang punya blog kan saya! (Lho, kok jadi egois ya? Hehehe) Bisa aja, rasa makanan itu yang menginspirasi saya. Bisa aja, kejadian yang ada di restoran itu. Bisa aja, obrolan yang ada di meja sebelah (nguping itu walau dosa tapi asyik, teman!)

Jadi foodilosophy yang saya tulis di blog ini bakalan luas banget. Saya nggak akan ngasih contoh gimana, tapi silahkan liat, baca dan rasa sendiri. Kapan-kapan, coba deh, ibaratin hidup kamu, kejadian di sekitar kamu, orang-orang terdekat kamu, sebagai makanan. Dan anggap juga sebaliknya. Pasti ada dimensi lain yang bakal muncul di kehidupan kamu.

Selamat Makan, dan Selamat Berfilosofi!
Bramarartha.

Mereka Bilang, Saya Garing!

Mereka bilang, saya garing! Karena rumput hijau karena masih segar, karena bahasa Arab untuk ‘Kelapa’ adalah ‘Abdul Muis’. Karena untuk memisahkan gajah gede dari gajah kecil tinggal diayak. Karena gajah masuk ke dalam kulkas. Karena kulkas cukup gede untuk menyimpan gajah.

Nama saya Satria Adi Literatum. Saya suka banyak hal, mulai dari bala-bala di warung depan sekolah yang maknyus banget, susu moka dingin, cup noodles, hal-hal berbau Apple kecuali pengharum mobil. Saya suka desain, saya suka membaca buku. Saya suka humor, saya suka filsafat. Saya suka buku-buku yang kelam dan sadis. Saya suka membaca buku-buku Djenar Maesa Ayu. Saya tidak suka menusuk peniti pada kulit saya, tapi saya suka buku Nayla. Bulu hidung saya pernah nyangkut saat saya sedang mencukur kumis saya.

Mereka bilang saya garing. Karena mie keriting karena tidak direbonding. Karena rambut bisa diluruskan dengan setrika. Karena kacamata yang lensanya terbuat dari plastik dinamakan plastikmata. Karena pisang warnanya kuning karena sudah matang. Karena mangga yang asam adalah mangga yang belum matang. Karena rujak yang tidak pedas adalah rujak yang bumbunya tidak pedas. Karena mobil yang rodanya tiga adalah mobil yang ban mobilnya baru pecah dan sedang diganti dengan yang lain.

Saya Satria Adi Literatum. Mereka memanggil saya Satria. Sempat terpikir di benak saya untuk memanggil diri saya Satir, tapi sempat juga terpikir di pikiran saya sebuah pikiran bahwa saya tidak perlu memanggil diri saya sendiri. Saya senang bermain dengan logika. Saya senang dengan kesenangan. Makanan favorit saya adalah pizza. Pizza yang tipis menurut saya tidak mengenyangkan karena tidak tebal. Saya pernah berpikir, apakah berat badan benar-benar mematuhi hukum kekekalan massa? Saya juga pernah berpikir, apabila kita bisa tenggelam dalam tawa canda, maka kita bisa mati saat kita tertawa.

Mereka bilang… saya garing! Karena kucing ekornya ada satu. Karena anjing ekornya ada satu. Karena cicak ekornya ada banyak, tapi kebanyakan ditinggalin di jalan. Karena warna kuning telor adalah kuning. Karena pisang yang hijau adalah pisang yang dibungkus dengan dadar yang diberi warna dengan daun pandan, bukan pisang yang tidak matang. Karena pisang coklat adalah pisang yang berwarna coklat, bukan pisang yang ditaburi dengan meses.

Saya bernama Satria Adi Literatum. Nama saya aneh banget, saya tahu, tapi saya juga tahu, nama saya keren. Maka apakah keren berbanding lurus dengan aneh? Makanan apa yang tidak boleh dimakan? Makanan basi. Saya anak sekolah, kelas sepuluh. Orang-orang bilang, celana seragam saya berwarna abu-abu, tapi saya rasa abu-abu adalah warna yang berbeda. Saya naik sepeda ke sekolah.

Mereka bilang saya… garing. Karena kerupuk yang tidak renyah adalah kerupuk yang sudah melempem. Karena peristiwa tersebut terjadi pula pada keripik. Karena ukuran sebuah kerupuk atau keripik tergantung pada lebar huruf vokal di antara konsonan ‘p’ dan ‘k’. Karena suami Sandra Dewi bernama Fredly Glenn.

Nama saya Satria Adi Literatum. Mereka bilang, saya garing!