…dan aku keluar dari kamar mandi.
Aku menghirup udara yang segar. Segar udara di luar toilet. Segar yang jauh lebih segar dari aroma tinja yang baru kutinggali.
Lalu aku bertanya kepada diriku sendiri, apakah toilet-toilet umum di Paris harum semua? Meski seribu orang datang tiap jam untuk ee dengan khidmatnya? Buktinya banyak banget parfum yang ada tulisan eau de toilette. Artinya tentu dapat kita asumsikan sebagai ‘aroma toilet’. Berarti setiap botol eau de toilette mewakili satu bilik toilet. Aku berimajinasi, betapa nikmatnya duduk di toilet di Paris, memenuhi panggilan alam. Menghirup aroma yang enak tanpa harus keluar dari toilet. Duduk di dalam bilik tanpa harus membaui aroma orang-orang yang mendahului aku duduk di tempat yang sama. Atau mungkin, aku adalah yang pertama, dan aromaku akan diabadikan menjadi parfum yang dipakai banyak orang di seluruh dunia.
Tapi tulisan ini bukan renungan tentang toilet. Tulisan ini adalah renungan tentang mangga. Mangga arumanis hasil cangkokan. Harum, manis, mungkin karena itulah namanya mangga arumanis. Warnanya violet, tapi aku tidak tahu kenapa. Mungkin mangga ini seorang, seekor, eh, sebuah mutan, yang bergabung dalam kelompok X-Mangga. Mungkin mangga ini jatuh ke dalam sebuah kaleng kucing (cat) berwarna ungu violet. Lalu aku terbayang Pasha Ungu. Apakah ia suka memakan mangga arumanis berwarna violet? Mengapa nama grup musiknya tidak ia ganti menjadi Ungu Mangga, supaya lebih populer seperti Hijau Daun?
Kawan, sesungguhnya memang banyak sekali pertanyaan seputar dunia ini yang sukar dijawab. Misalnya, buah grapefruit, atau kalau diterjemahkan menjadi buah buah anggur. Dari luar, terlihat seperti sebuah jeruk. Kulitnya jingga, sama seperti jeruk. Tapi coba Kawan potong, maka Kawan akan mengeluarkan darah yang sangat banyak, dan darah itu berwarna merah. Eh salah. Tapi benar, darah warnanya merah. Oke, kembali ke buah. Buah buah anggur tersebut akan terbelah dua, atau mungkin tiga atau empat atau lim x??, tergantung bagaimana Kawan memotongnya, dan daging buah buah anggur itu tidaklah berwarna merah seperti sapi, putih seperti ayam, ataupun jingga seperti jeruk, tapi ungu, seperti Pasha, eh, seperti anggur. Juga seperti Extra Joss atau M150 atau Hemaviton (ada gitu?) rasa anggur. Tapi coba Kawan ingat-ingat, benarkah anggur warnanya ungu? Tidak semua. Ada yang ungu, ada yang hijau, ada juga yang hitam setelah dicelupkan ke dalam kaleng cat hitam. Kenapa? Saya tidak tahu, tidak pula tempe. Apakah kamu suka susu kedelai? Saya lebih suka susu sapi. Apakah anak sapi suka susu kedelai? Ini pula saya tidaklah tahu maupun tempe, mendoan ataupun bacem.
Tapi tidak semua pertanyaan tidak dapat dijawab. Misalnya, jiga kita melihat organisma selain buah buah anggur, seperti, misalnya, pria-age (man-usia) seperti kita, lalu kita bercermin sebagaimana dipetuahkan Almarhum Michael Jackson, maka kita akan melihat seonggok daging yang biasa kita sebut hidung. Di hidung kita ada empat lubang — dua lubang aku, dua lubang kamu. Kenapa ada dua lubang di hidungmu? Karena jika tidak ada lubang, maka rasanya akan sangatlah sulit bernapas.
Dan tulisan ini pun berakhir dengan tidak elegan.