Ayam

Ayam.

Chicken, ciken, yah, apapunlah itu.

Ayam.

Ayam itu enak, maka aku suka ayam. Aku suka makan ayam.

Ayam goreng, ayam digoreng, goreng ayam…

Semur ayam, ayam disemur, ayam semur…

Ayam direbus, ayam rebus, rebus ayam.

Ah, ayam.

Betapa aku cinta ayam.

Mereka bilang daging kamu putih, tapi mereka salah!

Saat kamu disembelih, dipotong, dicincang, atau di-apapunlah-itu-namanya, dagingmu merah! Merah karena darah! Darahmu, ayam. Darah ayam segar.

Kalau bukan darah ayam segar, mungkin darah yang memotongnya. Kalau begitu, kasihan sekali orang itu, darah segarnya membasuhi dagingmu, wahai ayam. Ayam, berilah orang malang itu plester, mungkin pakai obat merah juga. Ayam, sepertinya orang itu dari Malang. Ayam sendiri dari mana?

Daging ayam juga bisa hitam. Misalnya, rawon ayam. Tapi bukan tawon ayam lho ya. Tawon ayam warnanya kuning-hitam (sok tau), rawon ayam warnanya hitam. Hitam, karena dihitamkan. Ya, ayam hitam – disingkat menjadi AHIT atau ATAM atau AH AH AH aja sudah cukup mewakili.

Ah, ayam hitam.

Ayam biru juga ada lho! Bagaimana caranya? Sungguhlah mudah. Pakailah kacamata kuda atau kacamata delman yang berlensa biru. Maka daging ayam akan menjadi biru, seperti barang-barang lain di dunia dari sudut pandang mata Anda, dan hidup Anda pun akan bahagia, bersama ayam.

Ayam, warna apapun kamu, aku akan tetap mencintaimu.

Saat aku menggigitmu, kau membalas gigitanku dengan resultan gaya yang berbanding lurus dengan resultan gaya-gaya yang terjadi akibat gigitanku… Dagingmu lembut, kalau memang lagi lembut, keras, kalau memang lagi keras, renyah, kalau sedikit gosong, atau memang digoreng atau direbus menjadi renyah. Apapun sifat-sifat dagingmu, engkau tetaplah ayam, dan aku tetap mencintaimu.

Ayam, oh ayam. Aku cinta ayam.

Karena kamu adalah ayam, dan ayam adalah kamu.

5 Comments

  1. Posted 2 January 2009 at 18.26 | Permalink

    hmm. yaya. menulis untuk menulis. sangat *apa kata yg cocok yah* menarik. haha.

  2. Posted 3 January 2009 at 16.01 | Permalink

    saya suka ayam.
    karena ayam itu maya.
    naonsih ahahahhaha.

  3. Posted 3 January 2009 at 17.27 | Permalink

    ah ni pasti gici deh
    mengulang, membolakbalik, dan menyingkat kata seenak bibir

  4. Posted 4 January 2009 at 08.19 | Permalink

    dp: tapi ayam lebih menarik daripada menulis. sungguh. bayangkan betapa nikmatnya menulis ayam, atau ayam menulis? alangkah luar biasanya.

    fathin: tapi ayam yang maya itu tidak enak. ayam yang enak adalah ayam yang memiliki rasa enak, tapi rasanya tidak maya, tapi nyata.

    azizah: saya satria, gici siapa ya?

  5. Posted 4 January 2009 at 10.51 | Permalink

    posting lg dong dong.

Post a Comment

Your email is never shared. Required fields are marked *

*
*