Uh Ah
Gue udah kapok naik motor, tapi belakangan ini hujan melulu (deket imlek sih), jadi gue nggak bisa naik sepeda juga.
Maka gue menaiki sesuatu yang tidak akan saya sebutkan apa itu sampai akhir tulisan ini, untuk alasan mendramatisir.
Tapi yang jelas, sesuatu ini sungguh lebih dahsyat daripada motor. Pantat gue bergetar tiada tara.
Tapi nggak itu doang. Tangan gue bergetar, kuku gue bergetar, BlueBerry gue bergetar (ehem). Rambut gue juga bergetar. Bulu kaki gue bergetar.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Apakah ini sebuah gempa? Aku yakin tidak, karena bulu hidungku tidak bergetar. Hidungku memang bergetar, tapi bulu hidungku tidak.
Memang bulu hidung gue sakti. Kayak kera sakti, tapi nggak pake kera.
Hidung pake kera gimana ya?
Apakah ada keranya?
Apakah kera itu bergetar?
Pertanyaan-pertanyaan itu menyimpan sebuah misteri besar, yang pasti akan kukuakkan (suara bebek), setelah mata gue selesai bergetar.
Hati gue pun juga bergetar. Tapi bukan getar cinta, melainkan getar rindu.
Getar warnanya coklat.
Eh, itu gitar.
Lalu seluruh dunia seakan akan runtuh di hadapanku. Di sampingku, di depanku, di belakangku. Di atasku, di dalam hatiku, di dalam gubuk tak bernomor tak berpenghuni di pinggiran sebuah kota anonim di ujung peninsula tak berperilaku. Kenapa peninsula ada perilakunya, saya tidak tahu.
Lalu tibalah puncak akhir sebuah perjuangan.
Tapi sebelum saya akhiri, saya ingin mengherani kenapa saya begitu terobsesi pada getaran.
Oke, inilah saatnya.
Sebuah akhir dari sebuah awal.
Aku membuang hajat dengan sukses.
4 Comments
Gelo..
Gelo..
Gelo..
*tiga kali biar mantap*
hahahaha….
Zzzzz heemm haha
kirain kendaraan apa gitu. ternyata.. hahaha
jadi dari tadi bergetar gara2 ngeden nih?
dugem dong… duduk gemeter… hahaha